[Tak perlu lagi bertanya] Bagaimana menafsirkan - bagian tiga

dua puluh / sembilan

[aku memberanikan diri mencoba sesuatu yang luar biasa. akankah dia menyambutnya?]
Aku ingin melihat pameran. tapi, hari sudah malam. 

Tak jadi masalah. Ayo, aku temani.
[tidak bisa dipercaya. apa yang aku harapkan?] 

Malam itu, lagi-lagi terasa bagai mimpi. Atau aku berhalusinasi? Tak ada pameran di sana. Hanya bising memekakkan telinga. Aku harus teriak kencang-kencang supaya kau mendengar saat aku bicara. Ketika kau menunduk untuk mendekatkan telingamu padaku, diam-diam aku menyimpan rahasia: aku harap terlahir sebagai adikmu saja. 


dua puluh dua / sembilan

[kita begitu dekat, sayang sekali aku tak bisa menemuimu.]

[aku belum menyiapkan kado untukmu.]


tiga / sepuluh 

Apa kau punya waktu luang? Kemari, giliranmu temani aku melihat pameran.

Baiklah, tunggu di sana. Ah, maaf, aku tidak bisa!
[tuhan, aku begitu plin-plan!]

Ya sudah kalau begitu, aku pulang saja. Panas sekali di sini.
[mana mungkin dia benar-benar datang. bodoh.]


lima / sepuluh

[aku tak percaya pada penglihatanku: kaukah itu? terbaring lesu, hanya mampu menganggukkan kepala menanggapi candaku.]

[harusnya kau tak perlu datang. aku tak ingin kau melihatku dalam keadaan begini. tapi, aku senang karena ini berarti kau peduli...]


sepuluh / sepuluh

[lihatlah, betapa lucunya mendengarkan kau berbincang dengan keluargaku.]

[tuhan! bagaimanalah aku harus bersikap? aku sungkan, sangat takut bila perasaanku ketahuan.]

Jika saja aku punya nyali, menawarkan diri untuk tinggal lebih lama. Atau barangkali kau yang meminta, tentu akan kusanggupi dengan kesungguhan hati. Saat itu, kau bahkan tak mengajakku bicara. Bukan karena tak mau, melainkan karena tak bisa. 


Yogyakarta, 8 Februari 2016.
 

Posted in , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.