Archive for April 2016

Lelaki Pahlawanku Gugur

Jumat pekan lalu, bapak berpulang ke pangkuan Ilahi. Sebuah bukti bahwa Tuhan mengasihinya, sehingga tak membiarkannya menanggung sakit lebih lama. Aku dan adikku ada di sampingnya, tak henti membisikkan doa di telinga bapak, berharap doa bisa menjadi pengantar kepergiannya menuju jalan yang penuh cahaya. Meski jauh dalam hati kami tak ingin bapak pergi, namun kami ingin melakukan yang terbaik yang kami bisa – salah satunya dengan terus berdoa...

Dan tidak larut dalam kesedihan.

Dan berusaha menjadi anak-anak yang tegar.

Dan semua itu ternyata tidak mudah dilakukan.

Seketika kenangan bersama bapak berkelebat dalam ingatan. Bukan kenangan saat bapak pulang larut malam, atau pun terpancing marah karena kami terlambat makan, melainkan memori saat kami menjelajah alam, bertukar cerita diselingi canda dan tawa, serta berbagi apa saja yang bisa menjadi pelajaran bersama. Tetapi, bahkan kenangan saat bapak pulang malam dan menegur kami yang malas makan pun sebenarnya menandakan kasih sayang, bukan? Kami tahu itu, karenanya kini kami hanya bisa termangu...

Bapak, yang begitu sabar merawat kami, terlebih semenjak ibu lebih dulu pergi. Menjalankan dua peran besar, sebagai benteng kuat yang mengayomi, sekaligus memelihara kelembutan nurani demi tiga buah hati yang seringkali merengek manja, melulu minta diperhatikan.

Bapak, yang dalam lingkar lengannya aku menemukan rasa aman; yang dari diamnya aku belajar bagaimana bertahan di bawah kerasnya tempa kehidupan. Diamnya dulu sering aku salah artikan sebagai bentuk ketidakpedulian, membuatku kesal karena merasa tidak dipercaya untuk mengetahui apa yang dipikirkannya, apa isi hatinya.

Tetapi kini aku mengerti, diamnya bapak bisa jadi untuk melindungi diriku juga, dari segenap kegelisahan yang mungkin menjadi beban baginya. Lagipula, sejak dulu bapak memang tidak pernah suka merepotkan orang.

Bapak, kini bebanmu terangkat sudah. Jiwamu semoga telah bebas menghadap Sang Kuasa, menyusup dalam keagungan peluk-Nya. Tak perlu khawatir soal kami. Berkat bimbingan bapak, kami siap jadi anak-anak mandiri. Ada keluarga besar dan sahabat-sahabat bapak yang bersedia mendampingi. Mungkin ada kalanya kami terhuyung limbung sembari mengusap mata yang sembab, menata hati yang dipenuhi rindu pada bapak dan ibu. Tapi percayalah, kami akan kembali menemukan pegangan: pesan dan nasihatmu yang selalu tersimpan abadi dalam kalbu.

Saat ini aku mungkin belum jadi apa-apa, belum bisa mewujudkan harapmu seperti yang engkau minta. Asa yang tengah kujalin ini, semoga kaurestui. Cita yang tengah kurangkai ini, semoga tercapai esok nanti. Dan kelak jika kita berjumpa lagi, dipersatukan utuh sebagai keluarga di rumah abadi, semoga Surga-Nya telah menanti...

Salah satu kenangan manis bersama bapak.

Selamat jalan, Lelaki Pahlawan Kami.
Doa kami senantiasa mengiringi.
Salam sayang,

Posted in , , , , , , , , | 5 Comments

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.