Ik Studeer Antropologie - bagian kedua

Kalau post berlabel antropologi sebelumnya aku publish di akhir semester pertamaku, maka post lanjutan ini terbit di akhir semester kedua, hahaha. Saat ini hanya beberapa hari menuju minggu tenang, artinya bayangan UAS sudah jelas di depan mata. Begini payahnya aku dalam inkonsistensi interval dua postingan yang (harusnya) saling berkaitan. Apakah aku perlu minta maaf atas 'keterlambatan' ini? Kalau memang ada yang menunggu, aku minta maaf deh. Tapi, seperti sarkasme yang sudah-sudah, aku pikir tak ada yang memperhatikan postingan blog-ku....

Oke, Chak. Skip.

Beberapa waktu lalu, seorang teman sesama volunteer Museum Kolong Tangga memintaku untuk memberi penjelasan -- paling tidak, sedikit clue -- tentang jurusan Antropologi, kepada adiknya yang baru merampungkan ujian SMA. Rupanya, temanku telah membawa adiknya konsultasi dengan psikolog mengenai jurusan kuliah yang sesuai untuk si adik, dan ternyata psikolog menyebut Antropologi dalam sarannya. Sebagai tindak lanjut, temanku kemudian memberikan kontakku pada adiknya supaya kami bisa mengobrol. Atau lebih tepatnya memberi kesempatan si adik untuk tanya-tanya langsung padaku yang notabene seorang mahasiswa jurusan Antropologi.

Well, yang benar saja ----

Aku sangat sadar, satu tahun menjalani perkuliahan masih belum cukup bagiku untuk memahami bidang ilmu Antropologi sepenuhnya. Meski begitu, aku tetap berusaha membantu memberi gambaran tentang jurusah kuliahku ini pada adik temanku. Kalau sekadar menceritakan bagaimana kegiatan perkuliahan berjalan, yang tentunya merupakan opini dari perspektifku, I think I can do it. Sedikit-banyak aku juga membagi apa-apa yang aku pelajari selama ini, dan mudah-mudahan saja, tidak terlalu menyimpang dari keakuratan materi. Hehe.

Jadi, itu pulalah yang akan aku lakukan melalui blog pribadi ini. Siapa tahu suatu saat nanti laman ini dikunjungi oleh pelajar-pelajar SMA yang tinggal menunggu waktu untuk diwisuda, tapi masih bingung mau ambil kuliah apa. Atau, calon mahasiswa yang berniat ke Antro, tapi ingin cari gambaran terlebih dahulu tentang cabang ilmu ini. Izinkan aku sedikit berbagi.

         antropologi /an·tro·po·lo·gi/ n   ilmu tentang manusia, khususnya tentang asal-usul, aneka warna, bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaannya pada masa lampau; 
         antropologi budaya   ilmu tentang manusia ditinjau dari sudut sejarah kebudayaannya.
         [KBBI online]

Seperti yang aku tulis dalam post terdahulu, banyak orang masih menganggap asing bidang ilmu Antropologi, salah satunya ditunjukkan dengan salah mengartikan kata 'antro' itu sendiri. Kalau anak-anak yang SMA-nya jurusan Bahasa mungkin sudah lebih akrab dengan Antropologi karena termasuk dalam kurikulumnya. Aku sendiri yang berasal dari jurusan IPS baru tahu keberadaan bidang ilmu ini saat mencari-cari bidang apa yang ingin aku pelajari di perguruan tinggi nanti. Teman-temanku malah ada yang baru tahu "antropologi itu belajar manusia" saat sudah diterima kuliah. But of course tidak semuanya benar-benar "buta", beberapa temanku mengaku sudah mengincar jurusan ini sejak awal SMA, bahkan ada yang sudah tertarik Antro saat SMP.

Sebelumnya, aku ingin menegaskan kalau yang aku ceritakan di sini merupakan gambaran dari sudut pandangku, yang bersumber dari pengalaman pribadi. Maka aku akan lebih banyak bercerita tentang Antropologi Budaya UGM, karena di sanalah aku mengenyam pendidikan saat ini. Sebagai pembanding, silakan searching Antropologi Budaya di universitas-universitas lain (Universitas Udayana, UB), dan juga cabang lain dari Antropologi yakni Antropologi Sosial (UI, UNPAD, UNAIR, ...googling aja ya aku juga kurang hafal).

Objek material dalam Antropologi Budaya adalah manusia dan kebudayaannya. Hampir semua hal yang berkaitan dengan manusia dapat dikatakan sebagai "budaya", karena itulah cakupan bidang ilmu Antropologi Budaya sangat luas. Nantinya, kita akan dapat memilih disiplin ilmu yang ingin ditekuni selama menjalani perkuliahan, alias memutuskan hendak konsentrasi ke bidang apa untuk ke depannya. Apakah itu antropologi ekonomi, antropologi hukum, antropologi kesehatan, antropologi pendidikan, antropologi lingkungan, antropologi kesenian, antropologi gender, antropologi forensik, antropologi perkotaan/pedesaan, antropologi psikologi, antropologi linguistik... banyak pilihan deh pokoknya! Konsentrasi ini disesuaikan dengan minat masing-masing, jadi diri kita sendiri yang menentukan. Mengapa kita harus menentukan fokus, tentunya supaya kita memiliki penguasaan yang mendalam paling tidak di satu bidang tertentu. Sebab, lebih baik pandai dalam satu bidang secara mendalam daripada belajar banyak hal tapi hanya dangkal-dangkal saja (kata dosen suatu ketika). Aku pun sepakat dengan itu.

Di semester pertama, mata kuliah yang ditawarkan sudah berupa paket, jadi kita belum bisa memilih sendiri mata kuliah yang akan dipelajari. Mata kuliah wajib di semester satu(ku) antara lain: Pengantar Antropologi I, Dasar-Dasar Ilmu Budaya, Pengantar Antropologi Ragawi. Ada pula beberapa mata kuliah apresiasi seperti Apresiasi Musik Etnik, Apresiasi Kuliner Etnik, dan Apresiasi Film Etnografi. Tak lupa mata kuliah universal: Bahasa Inggris dan Pendidikan Agama. Untuk semester satu ini, aku merasa sangat... sangat... selo, alias punya banyak waktu luang. Kegiatan perkuliahan relatif ringan dan tidak banyak tugas yang diberikan, paling-paling hanya beberapa review artikel dan penulisan makalah sebagai tugas akhir. Bahkan, UAS semester satu untuk mata kuliah Apresiasi Kuliner Etnik diberikan dalam bentuk kegiatan memasak bersama! I guess I had so much fun for this 1st semester...

But then comes the next semester, dan... HA! Terasa sekali perbedaannya. Semester keduaku cukup padat oleh tugas, tugas, dan tugas. Baik tugas individu yang biasanya berupa review buku atau artikel, pun tugas kelompok berlatih terjun dalam penelitian lapangan untuk kemudian dibuat presentasi dan makalah. Sebenarnya, aku tetap merasakan keseruan dalam menerima materi kuliah, terlebih karena di semester dua kita sudah diperbolehkan mengambil beberapa matkul pilihan. Matkul pilihan yang aku ambil yaitu Komposisi dan Menulis Kreatif, Etnografi Wilayah Sulawesi, dan Antropologi Kesenian. Mata kuliah wajib seperti Pengantar Antropologi II, Kesukubangsaan dan Nasionalisme, Bahasa Inggris, Pendidikan Pancasila juga tetap ada.

Nah, di awal semester genap ini aku dan teman-teman mengikuti program Tim Peneliti Lapangan (TPL). Selama dua pekan, kami meninggalkan hiruk-pikuk kota dan tinggal di daerah pedesaan di Pekalongan. Kami melakukan observasi terhadap masyarakat di sekitar tempat kami tinggal, dan sebisa mungkin turut berpartisipasi dalam kegiatan sehari-hari mereka. Pada intinya, TPL ini bertujuan mengasah kemampuan mahasiswa Antropologi dalam menyusun etnografi. Etnografi sendiri merupakan catatan tentang suatu masyarakat yang diteliti -- inilah output yang akan dihasilkan oleh seorang antropolog nantinya.

Woaah~ postingan yang satu ini cukup panjang juga. Sudah capek bacanya belum? Dicukupkan sampai di sini dulu, ya. Lain waktu, mungkin aku bisa berbagi cerita tentang serba-serbi Antro dari sudut pandangku lagi, meski tidak dengan lanjutan judul seperti dua postingan ini. I mean, ya sekadar cerita saja begitu.

Siapapun kamu dan untuk alasan apapun kamu mampir ke postingan ini, terima kasih! Arrivederci^^

Posted in , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.