Prasangka

Malam itu kita berjumpa lagi. Begitu saja, tanpa rencana. Duduk terpisah dua bangku, menghadap ke arah yang sama. Aku tahu, kau mungkin berpikir bahwa tak seharusnya aku berada di sini. Sorotmu seolah mengatakan, keramaian ini tak cocok untukku.

Kalau diingat-ingat, keadaan seperti itu cukup sering terjadi. Kau seakan mengerti apa yang baik untukku, dan apa yang tidak. Kau seperti menilai pola pikirku, menimbang-nimbang apa yang sebaiknya aku lakukan dan apa yang tidak, tanpa mengatakannya secara langsung. Benarkah prasangkaku, boy? Ataukah lagi-lagi aku gagal membaca sikapmu?

Malam itu, kita tidak banyak bercakap. Bisa jadi karena formasi duduk yang tidak memungkinkan, atau barangkali kau sedang tak berminat ngobrol denganku. Yang aku tahu, biasanya kau memang tak banyak bicara. Tetapi, menilik dari pengalaman sebelumnya, aku kira sebenarnya tak sulit bagi kita untuk mulai membahas topik tertentu... atau, ah, jangan-jangan aku yang salah menyangka?

Kurasa, aku bisa saja mencari cara agar leluasa mengajakmu bicara -- maksudku, mengobrol santai saja. Berbincang denganmu selalu menyenangkan bagiku. Entah hari-hari yang lalu, atau esok dengan menanyakan apakah kau punya waktu. Namun aku memilih tidak melakukannya; aku tak ingin mengganggumu dengan celotehku. Lagipula aku tidak tahu, apakah berbincang denganku juga menyenangkan bagimu?

Hmm. Tidak apa-apa, boy.

Aku akan baik-baik saja, menyimpan kagum ini tanpa perlu kau tahu. Hanya perlu menabahkan diri dicecar rasa penasaran yang berulang kali muncul -- atas ketidaktahuanku sendiri.

Kita memang bisa saja mengobrol, tentang pertunjukan drama, ospek kampus, atau teman-teman kita, tetapi sekadar menanyakan: bagaimana aku di matamu? -- hah, aku tak punya keberanian untuk itu.

Posted in , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.