Archive for June 2016

[Rendrana] Sebebas Orang Cemburu

pic from -
Aku salah apa? Pertanyaan itu tak berhenti bergema dalam benakku. Aku tak mengerti mengapa sikap Rendra berubah dingin sejak pulang dari perburuan komik waktu itu. Ia tak lagi sering menghampiriku di taman depan rumah, bahkan untuk sekadar menjailiku saat duduk-duduk di bangku. Aku bersyukur, tentu saja. Tak ada lagi gangguan-gangguan tidak penting saat aku sedang membaca atau menggambar sketsa. Tetapi, tak dapat kupungkiri aku merasa sepi juga. Seperti ada yang kurang kalau tidak berbincang dengan Rendra. Ia tak menjawab panggilan LINE-ku, atau menge-chat balik.

Sebenarnya aku cukup memperhatikan, sikap Rendra jadi begitu sejak aku bercerita soal Satya di warung makan waktu itu. Tepatnya, membela Satya untuk hal-hal norak yang pernah ia lakukan dulu. Aku tidak tahu kenapa Rendra begitu tidak menyukai Satya. Maksudku, tidak bisakah dia melihat bahwa Satya yang sekarang sudah jauh lebih baik? Ia partner kerja kelompok yang pintar, humoris, dan asyik diajak mengobrol. Setelah kupikir-pikir, rasanya Satya memang bisa dikategorikan sebagai teman yang baik.

Rendra cemburu. Ia tak bisa mendengarmu membicarakan kebaikan cowok lain, sementara dirinya sendiri selalu berusaha ada di dekatmu selama ini. Itu analisis Astri saat aku menceritakan sikap ganjil Rendra akhir-akhir ini. Astri sahabatku sejak kami sama-sama murid baru di SMA. Ia melanjutkan kuliah di luar kota, dan kami masih saling bertukar kabar lewat telepon atau sekadar chatting di waktu-waktu luang.

“Cemburu gimana, Tri? Nggak mungkin lah,” tampikku, meski hatiku sebenarnya merasa tak pasti. Di ujung sana, Astri menghela nafas. Aku mengaktifkan loudspeaker kemudian meletakkan ponsel di rak buku terdekat, sementara aku bersandar di tepi meja.

“Kamu boleh saja merasa nggak ada kemungkinan untuk itu. Tapi coba ingat-ingat lagi, memang benar kan kalau selama ini dia selalu mencoba mendekatimu..,” cerocos Astri. “Dia mengikutimu ke mana-mana, sering usil untuk mendapatkan perhatianmu, juga memintamu menemaninya—”

“Ke lapak buku? Waktu itu, aku yang menawarkan diri untuk menemaninya, kok,” sanggahku meluruskan.

“Ya, ya, ya.. tetap saja, Na, intinya dia selalu ingin berada di dekatmu. Karena dengan bersamamu, dia merasa nyaman.”

Aku diam, memperhatikan burung-burung kertas yang kugantung di jendela kamar bergoyang-goyang dihembus angin. Di luar, gumpalan awan mendung berarak mendekat. Waktu menunjukkan pukul tiga, tetapi gelapnya langit membuat suasana seperti sudah menjelang petang.

“Rana? Halo?” suara Astri mendengung di telingaku.

Aku bergumam pelan. “Aku tidak tahu, Tri. Pertemanan kami terjadi begitu saja. Entah bagaimana mulanya—aku hanya ingat kami sama-sama siswa baru di SMP, dan kemudian saat SMA ia pindah beberapa blok dari rumah,” kenangku sambil menatap kosong keluar jendela, “kalau apa yang kamu katakan tadi sungguh-sungguh terjadi, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana. Maksudku, kurasa aku bisa memikirkannya nanti. Saat ini, aku hanya… tidak ingin kehilangan dia.”

Astri menenangkanku dan mengatakan sesuatu seperti ‘kau bisa membalas perasaannya’; ‘jadian dengannya bisa jadi ide yang bagus’; dan ‘datangi rumahnya kalau ia tak juga menghubungimu’. Ia lalu berkata dirinya harus pergi dan memintaku menelepon lagi kapanpun aku membutuhkannya. Aku tidak terlalu mendengarkan, hanya mengiyakan sampai Astri memutus sambungan telepon.

Tak lama kemudian, terdengar rintik hujan berkeletak di atap rumah. Aku melangkah ke seberang ruangan untuk menyalakan lampu. Hujan turun semakin deras, sangat deras sampai aku yakin tak akan reda semalaman. Niatku untuk menamatkan bab terakhir novel Ayu Utami sambil duduk-duduk di bangku sore ini terpaksa kuurungkan.

Aku duduk di tepi tempat tidur dan memilih lagu di playlist ponsel. Tiba-tiba aku teringat tempo hari ketika Rendra mengganggu acara senam pagiku, dengan memasuki halaman rumah sambil menyanyikan baris lagu Here For You yang sedang kuputar. Waktu itu, Rendra mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti… bahkan hingga saat ini.

Tak ingin gelisah lebih lama, aku membuka aplikasi LINE dan mencari nama Rendra di daftar chat. Beberapa chat terakhir dariku belum juga dibacanya. Aku sudah mengetikkan tiga huruf terdepan nama Rendra ketika kuputuskan tidak akan menerornya dengan notifikasi pesan sore ini. Kalau ia memang berniat menghindar, maka tindakanku percuma saja. Mungkin beberapa hari ini ia sedang asyik berlaga dalam battle melawan teman-temannya sesama penggila Dota 2.

Kalau begitu, aku akan mengikuti saran Astri: mendatangi rumah Rendra esok hari. Membawa novel tebal bersama seplastik keripik pedas dan bilang aku ingin menumpang membaca di rumahnya. Lalu mengajaknya melanjutkan mencari serial Samurai X di lapak buku dekat kantor pos. Well, itu bisa jadi rencana yang bagus untuk mencairkan kekakuan Rendra… atau, tidak juga. Kalau Rendra tak ingin bicara padaku, bukankah lebih baik aku membiarkannya mendapatkan yang ia mau?

Aku tahu, terkadang aku cukup keras kepala. —Rana
| credit pic here

to be continued.

***

Hi there! Terima kasih sudah membaca bagian empat. Di bagian ini, saya agak menyesali mengapa saya memilih menggunakan PoV orang pertama, padahal sepertinya PoV orang ketiga lebih tepat digunakan karena bisa mendeskripsikan situasi menurut sudut pandang kedua tokoh utama (Rana dan Rendra). Kalau begini kan, saya tidak bisa memasukkan apa yang dipikirkan atau dirasakan Rendra ke dalam cerita. Tapi tidak apa-apa, mari kita lihat apa yang bisa saya lakukan dengan dominasi cerita dari sudut pandang Rana~

Di bagian ini pula, saya menyadari kalau alur kisah Rendra & Rana sangat-sangat-sangat mengarah pada kisah-kisah teenlit yang sudah mainstream: persahabatan antara lawan jenis yang kemudian berubah jadi cinta. Tapi, hei, kita bahkan belum mendekati bagian akhir cerita. Silakan menebak, tapi percaya atau tidak, saya sendiri sama sekali belum punya bayangan tentang ending cerita ini nantinya. Jadi beri saya kesempatan untuk memikirkan alur yang anti-mainstream, ya :p saya harap kalian terus melanjutkan membaca, disertai kritik atau masukan yang tentunya akan saya pertimbangkan! :)

Yours,

Posted in , , , | Leave a comment

Bilakah Kau Membuka Pintu

Suatu hari pada sebuah musim yang berangin
kau berdiri di bingkai jendela rumah
melempar pandang ke seberang jalan
Sjahrirstraat, Leiden, trotoarnya berserak guguran daun

lantas bertanya-tanya:
siapakah kiranya gadis itu
yang berbalut sweter ungu
berdiri saja seakan sedang menanti sesuatu

Gadis itu terpaku sambil balas menatapmu
syalnya dipermainkan angin dan pipinya
pucat menahan dingin
pucat yang beralih rona
semburat merintangi tamparan angin
seiring mata tersenyum membias bening

Kemudian kau membuka pintu rumahmu dan gadis itu
terisak haru, pundaknya berguncang,
ia mengangkat wajah tatkala tangisnya diseka
oleh jemarimu

ia kembali terisak, ketika kau beranjak,
"Mari duduk di ruang tamu, nanti kau bisa
menyeduh sendiri tehmu, aroma melati atau
Pickwick Tea, apapun yang kau mau."

Semarang, 26 Juni 2016.
 

Posted in , , , , | Leave a comment

[Rendrana] Obrolan di Warung Makan

pic from -
Beberapa hari setelah pekan ujian berakhir, aku menemani Rendra menjelajahi los-los penjual buku tak jauh dari pusat kota. Ini adalah tempat yang dituju orang-orang di kota kami ketika hendak berburu buku dengan harga miring, buku edisi lama, atau buku bekas. Rendra, yang sangat menggemari komik Samurai X, ingin melengkapi beberapa seri yang belum ia miliki. Namun karena komik berseri itu sudah tidak terbit lagi, maka ke sanalah aku mengajaknya. 

Hampir dua jam aku dan Rendra menyusuri deretan los penjual buku. Ada lapak yang khusus menjual buku-buku acuan pendidikan, buku agama, novel populer dan komik, ada pula yang menyediakan koran serta majalah bekas yang biasanya dicari orang untuk keperluan kliping. Setiap lapak komik yang kami datangi menyimpan judul-judul yang sudah tidak terbit lagi dalam rak atau tumpukan tersendiri, dan kami harus mencari satu persatu komik Samurai X di antara tumpukan itu. Berkali-kali Rendra kecewa karena tidak menemukan judul yang dicarinya, lantas bersungut-sungut ketika penjaga lapak hanya berkilah, “berarti ndak ada di sini, Mas. Coba di los sebelah.”

Aku ikut menggerutu. Di lapak pertama yang kami datangi, Rendra berhasil mengantongi satu judul yang membuatnya optimis dapat menemukan tiga judul lain yang diinginkannya. Namun, hingga tujuh lapak berikutnya, pencarian kami tak lagi membuahkan hasil.

“Makan yuk, Na,” ajak Rendra, ekspresinya bercampur antara lelah dan putus asa. Aku mengangguk setuju. Perutku juga sudah keroncongan sejak tadi. Rendra mengikutiku tanpa banyak bicara saat aku membawanya ke warung gado-gado di sudut sebuah pasar tradisional yang tak jauh dari lapak buku itu.

“Lumayan sih, dapat satu,” Rendra berkata seraya menuangkan bumbu kacang ke piring gado-gadonya. “Kamu lebih suka baca novel ketimbang manga, ya, Na?”

Aku menyelesaikan mengunyah dan menelan makananku terlebih dahulu sebelum menyahut, “bisa dibilang begitu. Mungkin sebenarnya aku bisa saja menikmati membaca manga. Aku hanya belum pernah mencobanya.”

Rendra manggut-manggut. “Coba saja. Komik Hai Miiko mungkin menarik buatmu. Itu komik yang ringan untuk anak-anak—“

Aku menoleh cepat ke arah Rendra. “Yeah, aku memang masih anak-anak.”

Rendra terkekeh.

“Tapi, Ren, judul komik itu tidak asing bagiku. Hai Miiko, ya,” tukasku setengah menerawang. “Ah, aku ingat! Aku melihat komik Hai Miiko di rumah Satya. Milik adik perempuannya, tentu saja. Dan ya, kovernya lucu, sih.”

Kini ganti Rendra yang menoleh cepat. “Satya? Cowok yang dulu pernah meninggalkan surat cinta norak di lokermu?”

Aku memutar bola mata, mengeluh. Aku bahkan sudah nyaris melupakan surat konyol itu.

“Ren, please. Itu kan waktu kita kelas satu SMP,” ujarku. “Dulu aku memang ilfeel sama dia gara-gara surat itu. Nggak disangka, sekarang aku ketemu Satya lagi di prodi yang sama. Bahkan kami satu kelompok dalam tugas lapangan yang nilainya dipakai untuk ujian kemarin. Jadi, aku beberapa kali ke rumahnya untuk mengerjakan tugas itu.”

“Harus banget ya di rumah dia,” celetukan Rendra terdengar tidak jelas karena ia mengatakannya sembari mengunyah.

“Satya yang sekarang sudah nggak norak seperti dulu, kok. Dia juga nggak mengungkit soal surat yang nggak pernah aku balas itu.”

“Jelas aja, Na. Dia pasti malu mengingat masa lalunya yang norak.”

Aku kembali mendesah, lalu melempar tatapan kesal pada Rendra yang tak berhenti mengunyah. Ia sendiri hanya melihat lurus ke depan dengan pandangan kosong.

“Empat tahun berlalu, aku sama sekali nggak tahu kabar Satya selama SMA. Sekarang, aku dan Satya ketemu lagi, bahkan kami sekelas dalam beberapa mata kuliah. Lupakan surat norak atau aksi konyolnya yang terang-terangan mencari perhatian cewek-cewek saat kita SMP dulu. Satya sekarang jadi pribadi yang mudah bergaul dan berwawasan luas, sampai ditunjuk jadi koordinator divisi di himpunan mahasiswa jurusan. Artinya, dia berhasil mengubah dirinya menjadi lebih baik,” kilahku panjang lebar, sebelum menambahkan, “Satya juga yang mencetuskan konsep untuk tugas lapangan kami, Ren. Jujur saja, aku salut dengan pemikirannya yang kreatif.”

Rendra mendengarkan tanpa melihat ke arahku. Ekspresinya tampak malas. Ia menyelesaikan makannya dengan cepat, lalu menghabiskan es jeruknya. Tak berapa lama, aku juga selesai. Aku membayar makan siang kami sebagai balasan traktiran soto Rendra waktu itu.

Sembari beranjak dari warung makan, aku menawarkan kalau-kalau Rendra masih ingin berburu komik Samurai X. Ada lapak buku di dekat kantor pos, yang meskipun tidak begitu besar, namun aku pernah melihat ada tumpukan komik bekas di sana. Rendra menimbang-nimbang usulku sembari menyusuri area parkir. Saat itulah, melintas penjaja gulali yang terbuat dari gula lengket berwarna cerah—kombinasi oranye dan hijau.

“Ah, gulali. Satya bilang, dia suka gulali. Apa enaknya sih, permen yang terlalu manis dengan warna mencolok seperti itu,” gumamku, tidak pada siapapun, atau, eh, mungkin itulah sisi noraknya yang belum hilang.” Aku tertawa.

Tawa yang berhenti ketika Rendra mendadak menghentikan langkah, sehingga aku yang  berjalan di belakangnya menabrak punggungnya.

“Ren! Jangan berhenti menda—”

“Cari komiknya lain kali saja. Aku mau pulang,” ucap Rendra memotong protesku. Ia berjalan menghampiri motornya yang diparkir dekat trotoar pembatas.

Rendra dan aku melalui perjalanan pulang dalam diam.

Aku tidak tahu alasannya, tetapi mendengarmu terus berbicara
tentang temanmu membuatku merasa terganggu.  Ren | pic from here

to be continued.


***

Halo! Saya kembali dengan lanjutan serial Staring Through the Light. It’s been a long time since the last chapter was posted, I know. Hampir setahun, man. Mungkin sampai sudah pada lupa sama dua chapter sebelumnya, ya. Well, kalian bisa baca dulu bagian pertama dan bagian kedua, walaupun sebenarnya setiap bagian dari cerita ini tidak terlalu berkaitan.

Saya akui, penulisan bagian ketiga ini memang agak tersendat. Dan, saya perlu menyampaikan, update dari cerita ini disertai perubahan nama tokoh. Tokoh cowok yang tadinya bernama Reiga saya ganti menjadi Rendra, sedangkan tokoh cewek yang tadinya belum jelas siapa namanya, di sini saya putuskan bernama Rana. 

Oh ya, untuk memudahkan pencarian di antara postingan yang lain, cerita bersambung ini saya beri tag #renseries. Saya harap saya bisa terus melanjutkan serial ini, entah sampai berapa chapter nantinya. Terima kasih sudah membaca! :)

P.s.
Sebenarnya, saya tidak membaca komik Samurai X. Saya juga tidak tahu apakah memang serial Samurai X sudah tidak terbit lagi. Yang saya tahu, serial tersebut populer di Indonesia pada tahun 2000-an. :D

Yours,
  

Posted in , , , | 2 Comments

Update: How my life goes so far

Yogyakarta, 12 Juni 2016  //  7 Ramadhan 1437 H.

Ramadhan sudah berjalan satu pekan. Ramadhan pertama saya tanpa kedua orangtua di sisi. Terasa seperti ada sesuatu yang kurang? Ya, tentu saja. Teman-teman kuliah saya yang berasal dari luar daerah juga merasakan bedanya, saat harus menjalani Ramadhan di tempat yang jauh dari orangtua. Tak ada ibu yang membangunkan saat sahur, dengan aroma masakannya yang menggugah selera. Tak ada ayah yang buru-buru menyelesaikan pekerjaannya karena hendak berbuka dengan keluarga. Mereka yang anak rantau ini harus puas dengan menu buka puasa seadanya, ditambah lagi adanya tuntutan berhemat di tengah aneka jajanan yang begitu menggoda. Pun ketika santap sahur, banyak yang kalang kabut mempersiapkan mau makan apa. Karenanya, teman-teman saya tak sabar ingin menyelesaikan pekan UAS, agar bisa segera pulang ke kampung halaman, dan melalui bulan Ramadhan di tengah-tengah keluarga.

Saya, sama seperti mereka, juga ingin cepat-cepat menuntaskan ujian akhir semester dua. Tetapi soal bulan puasa dan keinginan untuk berkumpul dengan keluarga, saya punya lain cerita...

Gambar dipinjam dari sini
Keluarga yang saya miliki saat ini tinggal kedua adik perempuan saya. Setelah bapak berpulang, kami menghadapi segala sesuatunya bertiga. Aktivitas sehari-hari seperti kuliah, sekolah, makan, mencuci, bersih-bersih rumah, mau tidak mau kami handle bersama. Syukur ada Bu Sum, tetangga yang setiap hari membantu mencucikan pakaian dan beberes rumah. Kehidupan kami banyak terbantu oleh Bu Sum sejak ibu sakit beberapa tahun yang lalu. Sungguh, saya tidak membayangkan bagaimana jadinya jika tidak ada Bu Sum.

Kami juga bersyukur ada tante dan bude, kakak dan adik bapak yang sangat perhatian. Rajin menanyakan kabar, memastikan kami baik-baik saja, karena hanya itu yang bisa mereka lakukan dari jarak puluhan kilometer yang memisahkan kota tempat tinggal kami. Sesekali berkunjung, bermalam satu-dua hari. Begitu juga dengan sepupu-sepupu almarhumah ibu, sering meluangkan waktu untuk menengok ke rumah. Bertanya bagaimana sekolahnya? Kuliah lancar, kan? Makan yang teratur ya, jangan sampai sakit. Diikuti senyum karena kami juga tersenyum, mengatakan semuanya baik-baik saja.

Alhamdulillah. Saya mesti banyak-banyak bersyukur, dikelilingi orang-orang yang peduli dan membesarkan hati. Meski begitu, ada saatnya saya dan adik-adik dikungkung pilu. Biasanya usai sholat berjamaah, ketika saya mengajak mereka mendoakan bapak dan ibu. Atau malam hari, saat penjuru kampung sudah lengang, lalu tiba-tiba terdengar derum mesin motor dari kejauhan.

Saya tak bisa membaca pikiran, tetapi saya tahu benak adik-adik otomatis melayang pada bapak. Sebab, saya pun begitu. Bapak yang kerap bekerja hingga malam, lantas derum motornya menjadi pertanda kepulangannya. Meski sudah setengah tertidur, adik-adik akan tetap menyadari kehadiran bapak yang merebahkan diri di sebelah mereka. Sementara saya yang biasa tidur di kamar tersendiri, akan terlelap dengan tenang mengetahui bapak sudah kembali.

Hingga saat ini... saya dan adik-adik masih membayangkan kalau ketiadaan bapak di rumah hanya karena ia sedang pergi. Menyelesaikan pekerjaan di tempat yang jauh, seperti biasanya. Bapak akan kembali pada suatu malam, diantar derum mesin motor tuanya. Membuka pintu, lalu masuk dengan langkah ringan, supaya tidak membangunkan kami yang sudah hanyut di alam mimpi. Kemudian esok hari, kami bisa leluasa menyapanya lagi.

Gambar dari sini
Saya selalu berdoa agar dikuatkan dalam menghadapi kenyataan berpulangnya bapak. Berharap saya dan adik-adik mampu melalui waktu-waktu yang terasa sulit, mengatasi gelombang kesedihan yang sering melanda tanpa diduga. Bersama-sama, kami menguatkan diri untuk menata hidup, memantapkan hati supaya dapat berpikir jernih dalam merencanakan langkah kami ke depannya.

Terakhir, yang memegang peran penting dalam menguatkan hati saya: sahabat dan teman-teman. Support yang senantiasa mereka berikan membuat saya merasa beruntung memiliki teman-teman yang penyayang. Ketahuilah, saya senang ketika ada teman yang menanyakan kabar, atau meluangkan waktu sejenak untuk mendengar cerita saya. Saya sangat menghargai mereka yang menyediakan lengan untuk saya jadikan pegangan, berada di sisi saya ketika saya jatuh, tak lelah mengingatkan saya bahwa ada sejuta alasan untuk bahagia. Dan, tak ada yang dapat saya lakukan untuk membalas kebaikan hati mereka, selain berterima kasih.

Terima kasih, untuk semua yang punya andil dalam membesarkan hati kami. Mengusir rasa sedih, menggantinya dengan dorongan semangat agar kami melakukan yang terbaik yang kami bisa. Menyingkirkan rasa gundah, menggantinya dengan kepercayaan bahwa kami dapat melanjutkan hidup sebagai anak-anak mandiri, hasil didikan kedua orangtua. Saya sungguh berterima kasih, karena tanpa kalian, saya mungkin hanya jiwa rapuh yang tak henti berkeluh.

Jadi, tetaplah bersama saya. Jangan berhenti memupuk sabar ketika berada di samping saya.. Saya butuh kalian semua, untuk menghadapi dunia. :)

Sincerely,

Posted in , , , , , , , , , , | 11 Comments

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.