[Rendrana] Sebebas Orang Cemburu

pic from -
Aku salah apa? Pertanyaan itu tak berhenti bergema dalam benakku. Aku tak mengerti mengapa sikap Rendra berubah dingin sejak pulang dari perburuan komik waktu itu. Ia tak lagi sering menghampiriku di taman depan rumah, bahkan untuk sekadar menjailiku saat duduk-duduk di bangku. Aku bersyukur, tentu saja. Tak ada lagi gangguan-gangguan tidak penting saat aku sedang membaca atau menggambar sketsa. Tetapi, tak dapat kupungkiri aku merasa sepi juga. Seperti ada yang kurang kalau tidak berbincang dengan Rendra. Ia tak menjawab panggilan LINE-ku, atau menge-chat balik.

Sebenarnya aku cukup memperhatikan, sikap Rendra jadi begitu sejak aku bercerita soal Satya di warung makan waktu itu. Tepatnya, membela Satya untuk hal-hal norak yang pernah ia lakukan dulu. Aku tidak tahu kenapa Rendra begitu tidak menyukai Satya. Maksudku, tidak bisakah dia melihat bahwa Satya yang sekarang sudah jauh lebih baik? Ia partner kerja kelompok yang pintar, humoris, dan asyik diajak mengobrol. Setelah kupikir-pikir, rasanya Satya memang bisa dikategorikan sebagai teman yang baik.

Rendra cemburu. Ia tak bisa mendengarmu membicarakan kebaikan cowok lain, sementara dirinya sendiri selalu berusaha ada di dekatmu selama ini. Itu analisis Astri saat aku menceritakan sikap ganjil Rendra akhir-akhir ini. Astri sahabatku sejak kami sama-sama murid baru di SMA. Ia melanjutkan kuliah di luar kota, dan kami masih saling bertukar kabar lewat telepon atau sekadar chatting di waktu-waktu luang.

“Cemburu gimana, Tri? Nggak mungkin lah,” tampikku, meski hatiku sebenarnya merasa tak pasti. Di ujung sana, Astri menghela nafas. Aku mengaktifkan loudspeaker kemudian meletakkan ponsel di rak buku terdekat, sementara aku bersandar di tepi meja.

“Kamu boleh saja merasa nggak ada kemungkinan untuk itu. Tapi coba ingat-ingat lagi, memang benar kan kalau selama ini dia selalu mencoba mendekatimu..,” cerocos Astri. “Dia mengikutimu ke mana-mana, sering usil untuk mendapatkan perhatianmu, juga memintamu menemaninya—”

“Ke lapak buku? Waktu itu, aku yang menawarkan diri untuk menemaninya, kok,” sanggahku meluruskan.

“Ya, ya, ya.. tetap saja, Na, intinya dia selalu ingin berada di dekatmu. Karena dengan bersamamu, dia merasa nyaman.”

Aku diam, memperhatikan burung-burung kertas yang kugantung di jendela kamar bergoyang-goyang dihembus angin. Di luar, gumpalan awan mendung berarak mendekat. Waktu menunjukkan pukul tiga, tetapi gelapnya langit membuat suasana seperti sudah menjelang petang.

“Rana? Halo?” suara Astri mendengung di telingaku.

Aku bergumam pelan. “Aku tidak tahu, Tri. Pertemanan kami terjadi begitu saja. Entah bagaimana mulanya—aku hanya ingat kami sama-sama siswa baru di SMP, dan kemudian saat SMA ia pindah beberapa blok dari rumah,” kenangku sambil menatap kosong keluar jendela, “kalau apa yang kamu katakan tadi sungguh-sungguh terjadi, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana. Maksudku, kurasa aku bisa memikirkannya nanti. Saat ini, aku hanya… tidak ingin kehilangan dia.”

Astri menenangkanku dan mengatakan sesuatu seperti ‘kau bisa membalas perasaannya’; ‘jadian dengannya bisa jadi ide yang bagus’; dan ‘datangi rumahnya kalau ia tak juga menghubungimu’. Ia lalu berkata dirinya harus pergi dan memintaku menelepon lagi kapanpun aku membutuhkannya. Aku tidak terlalu mendengarkan, hanya mengiyakan sampai Astri memutus sambungan telepon.

Tak lama kemudian, terdengar rintik hujan berkeletak di atap rumah. Aku melangkah ke seberang ruangan untuk menyalakan lampu. Hujan turun semakin deras, sangat deras sampai aku yakin tak akan reda semalaman. Niatku untuk menamatkan bab terakhir novel Ayu Utami sambil duduk-duduk di bangku sore ini terpaksa kuurungkan.

Aku duduk di tepi tempat tidur dan memilih lagu di playlist ponsel. Tiba-tiba aku teringat tempo hari ketika Rendra mengganggu acara senam pagiku, dengan memasuki halaman rumah sambil menyanyikan baris lagu Here For You yang sedang kuputar. Waktu itu, Rendra mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti… bahkan hingga saat ini.

Tak ingin gelisah lebih lama, aku membuka aplikasi LINE dan mencari nama Rendra di daftar chat. Beberapa chat terakhir dariku belum juga dibacanya. Aku sudah mengetikkan tiga huruf terdepan nama Rendra ketika kuputuskan tidak akan menerornya dengan notifikasi pesan sore ini. Kalau ia memang berniat menghindar, maka tindakanku percuma saja. Mungkin beberapa hari ini ia sedang asyik berlaga dalam battle melawan teman-temannya sesama penggila Dota 2.

Kalau begitu, aku akan mengikuti saran Astri: mendatangi rumah Rendra esok hari. Membawa novel tebal bersama seplastik keripik pedas dan bilang aku ingin menumpang membaca di rumahnya. Lalu mengajaknya melanjutkan mencari serial Samurai X di lapak buku dekat kantor pos. Well, itu bisa jadi rencana yang bagus untuk mencairkan kekakuan Rendra… atau, tidak juga. Kalau Rendra tak ingin bicara padaku, bukankah lebih baik aku membiarkannya mendapatkan yang ia mau?

Aku tahu, terkadang aku cukup keras kepala. —Rana
| credit pic here

to be continued.

***

Hi there! Terima kasih sudah membaca bagian empat. Di bagian ini, saya agak menyesali mengapa saya memilih menggunakan PoV orang pertama, padahal sepertinya PoV orang ketiga lebih tepat digunakan karena bisa mendeskripsikan situasi menurut sudut pandang kedua tokoh utama (Rana dan Rendra). Kalau begini kan, saya tidak bisa memasukkan apa yang dipikirkan atau dirasakan Rendra ke dalam cerita. Tapi tidak apa-apa, mari kita lihat apa yang bisa saya lakukan dengan dominasi cerita dari sudut pandang Rana~

Di bagian ini pula, saya menyadari kalau alur kisah Rendra & Rana sangat-sangat-sangat mengarah pada kisah-kisah teenlit yang sudah mainstream: persahabatan antara lawan jenis yang kemudian berubah jadi cinta. Tapi, hei, kita bahkan belum mendekati bagian akhir cerita. Silakan menebak, tapi percaya atau tidak, saya sendiri sama sekali belum punya bayangan tentang ending cerita ini nantinya. Jadi beri saya kesempatan untuk memikirkan alur yang anti-mainstream, ya :p saya harap kalian terus melanjutkan membaca, disertai kritik atau masukan yang tentunya akan saya pertimbangkan! :)

Yours,

Posted in , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.