Pages - Menu

Monday, June 20, 2016

[Rendrana] Obrolan di Warung Makan

pic from -
Beberapa hari setelah pekan ujian berakhir, aku menemani Rendra menjelajahi los-los penjual buku tak jauh dari pusat kota. Ini adalah tempat yang dituju orang-orang di kota kami ketika hendak berburu buku dengan harga miring, buku edisi lama, atau buku bekas. Rendra, yang sangat menggemari komik Samurai X, ingin melengkapi beberapa seri yang belum ia miliki. Namun karena komik berseri itu sudah tidak terbit lagi, maka ke sanalah aku mengajaknya. 

Hampir dua jam aku dan Rendra menyusuri deretan los penjual buku. Ada lapak yang khusus menjual buku-buku acuan pendidikan, buku agama, novel populer dan komik, ada pula yang menyediakan koran serta majalah bekas yang biasanya dicari orang untuk keperluan kliping. Setiap lapak komik yang kami datangi menyimpan judul-judul yang sudah tidak terbit lagi dalam rak atau tumpukan tersendiri, dan kami harus mencari satu persatu komik Samurai X di antara tumpukan itu. Berkali-kali Rendra kecewa karena tidak menemukan judul yang dicarinya, lantas bersungut-sungut ketika penjaga lapak hanya berkilah, “berarti ndak ada di sini, Mas. Coba di los sebelah.”

Aku ikut menggerutu. Di lapak pertama yang kami datangi, Rendra berhasil mengantongi satu judul yang membuatnya optimis dapat menemukan tiga judul lain yang diinginkannya. Namun, hingga tujuh lapak berikutnya, pencarian kami tak lagi membuahkan hasil.

“Makan yuk, Na,” ajak Rendra, ekspresinya bercampur antara lelah dan putus asa. Aku mengangguk setuju. Perutku juga sudah keroncongan sejak tadi. Rendra mengikutiku tanpa banyak bicara saat aku membawanya ke warung gado-gado di sudut sebuah pasar tradisional yang tak jauh dari lapak buku itu.

“Lumayan sih, dapat satu,” Rendra berkata seraya menuangkan bumbu kacang ke piring gado-gadonya. “Kamu lebih suka baca novel ketimbang manga, ya, Na?”

Aku menyelesaikan mengunyah dan menelan makananku terlebih dahulu sebelum menyahut, “bisa dibilang begitu. Mungkin sebenarnya aku bisa saja menikmati membaca manga. Aku hanya belum pernah mencobanya.”

Rendra manggut-manggut. “Coba saja. Komik Hai Miiko mungkin menarik buatmu. Itu komik yang ringan untuk anak-anak—“

Aku menoleh cepat ke arah Rendra. “Yeah, aku memang masih anak-anak.”

Rendra terkekeh.

“Tapi, Ren, judul komik itu tidak asing bagiku. Hai Miiko, ya,” tukasku setengah menerawang. “Ah, aku ingat! Aku melihat komik Hai Miiko di rumah Satya. Milik adik perempuannya, tentu saja. Dan ya, kovernya lucu, sih.”

Kini ganti Rendra yang menoleh cepat. “Satya? Cowok yang dulu pernah meninggalkan surat cinta norak di lokermu?”

Aku memutar bola mata, mengeluh. Aku bahkan sudah nyaris melupakan surat konyol itu.

“Ren, please. Itu kan waktu kita kelas satu SMP,” ujarku. “Dulu aku memang ilfeel sama dia gara-gara surat itu. Nggak disangka, sekarang aku ketemu Satya lagi di prodi yang sama. Bahkan kami satu kelompok dalam tugas lapangan yang nilainya dipakai untuk ujian kemarin. Jadi, aku beberapa kali ke rumahnya untuk mengerjakan tugas itu.”

“Harus banget ya di rumah dia,” celetukan Rendra terdengar tidak jelas karena ia mengatakannya sembari mengunyah.

“Satya yang sekarang sudah nggak norak seperti dulu, kok. Dia juga nggak mengungkit soal surat yang nggak pernah aku balas itu.”

“Jelas aja, Na. Dia pasti malu mengingat masa lalunya yang norak.”

Aku kembali mendesah, lalu melempar tatapan kesal pada Rendra yang tak berhenti mengunyah. Ia sendiri hanya melihat lurus ke depan dengan pandangan kosong.

“Empat tahun berlalu, aku sama sekali nggak tahu kabar Satya selama SMA. Sekarang, aku dan Satya ketemu lagi, bahkan kami sekelas dalam beberapa mata kuliah. Lupakan surat norak atau aksi konyolnya yang terang-terangan mencari perhatian cewek-cewek saat kita SMP dulu. Satya sekarang jadi pribadi yang mudah bergaul dan berwawasan luas, sampai ditunjuk jadi koordinator divisi di himpunan mahasiswa jurusan. Artinya, dia berhasil mengubah dirinya menjadi lebih baik,” kilahku panjang lebar, sebelum menambahkan, “Satya juga yang mencetuskan konsep untuk tugas lapangan kami, Ren. Jujur saja, aku salut dengan pemikirannya yang kreatif.”

Rendra mendengarkan tanpa melihat ke arahku. Ekspresinya tampak malas. Ia menyelesaikan makannya dengan cepat, lalu menghabiskan es jeruknya. Tak berapa lama, aku juga selesai. Aku membayar makan siang kami sebagai balasan traktiran soto Rendra waktu itu.

Sembari beranjak dari warung makan, aku menawarkan kalau-kalau Rendra masih ingin berburu komik Samurai X. Ada lapak buku di dekat kantor pos, yang meskipun tidak begitu besar, namun aku pernah melihat ada tumpukan komik bekas di sana. Rendra menimbang-nimbang usulku sembari menyusuri area parkir. Saat itulah, melintas penjaja gulali yang terbuat dari gula lengket berwarna cerah—kombinasi oranye dan hijau.

“Ah, gulali. Satya bilang, dia suka gulali. Apa enaknya sih, permen yang terlalu manis dengan warna mencolok seperti itu,” gumamku, tidak pada siapapun, atau, eh, mungkin itulah sisi noraknya yang belum hilang.” Aku tertawa.

Tawa yang berhenti ketika Rendra mendadak menghentikan langkah, sehingga aku yang  berjalan di belakangnya menabrak punggungnya.

“Ren! Jangan berhenti menda—”

“Cari komiknya lain kali saja. Aku mau pulang,” ucap Rendra memotong protesku. Ia berjalan menghampiri motornya yang diparkir dekat trotoar pembatas.

Rendra dan aku melalui perjalanan pulang dalam diam.

Aku tidak tahu alasannya, tetapi mendengarmu terus berbicara
tentang temanmu membuatku merasa terganggu.  Ren | pic from here

to be continued.


***

Halo! Saya kembali dengan lanjutan serial Staring Through the Light. It’s been a long time since the last chapter was posted, I know. Hampir setahun, man. Mungkin sampai sudah pada lupa sama dua chapter sebelumnya, ya. Well, kalian bisa baca dulu bagian pertama dan bagian kedua, walaupun sebenarnya setiap bagian dari cerita ini tidak terlalu berkaitan.

Saya akui, penulisan bagian ketiga ini memang agak tersendat. Dan, saya perlu menyampaikan, update dari cerita ini disertai perubahan nama tokoh. Tokoh cowok yang tadinya bernama Reiga saya ganti menjadi Rendra, sedangkan tokoh cewek yang tadinya belum jelas siapa namanya, di sini saya putuskan bernama Rana. 

Oh ya, untuk memudahkan pencarian di antara postingan yang lain, cerita bersambung ini saya beri tag #renseries. Saya harap saya bisa terus melanjutkan serial ini, entah sampai berapa chapter nantinya. Terima kasih sudah membaca! :)

P.s.
Sebenarnya, saya tidak membaca komik Samurai X. Saya juga tidak tahu apakah memang serial Samurai X sudah tidak terbit lagi. Yang saya tahu, serial tersebut populer di Indonesia pada tahun 2000-an. :D

Yours,
  

2 comments:

  1. Samurai X emang udah tamat sejak lama kok, Cha. Pilihan yang tepat untuk dimasukkan dalam cerita latar 2000-an :p

    ReplyDelete