Update: How my life goes so far

Yogyakarta, 12 Juni 2016  //  7 Ramadhan 1437 H.

Ramadhan sudah berjalan satu pekan. Ramadhan pertama saya tanpa kedua orangtua di sisi. Terasa seperti ada sesuatu yang kurang? Ya, tentu saja. Teman-teman kuliah saya yang berasal dari luar daerah juga merasakan bedanya, saat harus menjalani Ramadhan di tempat yang jauh dari orangtua. Tak ada ibu yang membangunkan saat sahur, dengan aroma masakannya yang menggugah selera. Tak ada ayah yang buru-buru menyelesaikan pekerjaannya karena hendak berbuka dengan keluarga. Mereka yang anak rantau ini harus puas dengan menu buka puasa seadanya, ditambah lagi adanya tuntutan berhemat di tengah aneka jajanan yang begitu menggoda. Pun ketika santap sahur, banyak yang kalang kabut mempersiapkan mau makan apa. Karenanya, teman-teman saya tak sabar ingin menyelesaikan pekan UAS, agar bisa segera pulang ke kampung halaman, dan melalui bulan Ramadhan di tengah-tengah keluarga.

Saya, sama seperti mereka, juga ingin cepat-cepat menuntaskan ujian akhir semester dua. Tetapi soal bulan puasa dan keinginan untuk berkumpul dengan keluarga, saya punya lain cerita...

Gambar dipinjam dari sini
Keluarga yang saya miliki saat ini tinggal kedua adik perempuan saya. Setelah bapak berpulang, kami menghadapi segala sesuatunya bertiga. Aktivitas sehari-hari seperti kuliah, sekolah, makan, mencuci, bersih-bersih rumah, mau tidak mau kami handle bersama. Syukur ada Bu Sum, tetangga yang setiap hari membantu mencucikan pakaian dan beberes rumah. Kehidupan kami banyak terbantu oleh Bu Sum sejak ibu sakit beberapa tahun yang lalu. Sungguh, saya tidak membayangkan bagaimana jadinya jika tidak ada Bu Sum.

Kami juga bersyukur ada tante dan bude, kakak dan adik bapak yang sangat perhatian. Rajin menanyakan kabar, memastikan kami baik-baik saja, karena hanya itu yang bisa mereka lakukan dari jarak puluhan kilometer yang memisahkan kota tempat tinggal kami. Sesekali berkunjung, bermalam satu-dua hari. Begitu juga dengan sepupu-sepupu almarhumah ibu, sering meluangkan waktu untuk menengok ke rumah. Bertanya bagaimana sekolahnya? Kuliah lancar, kan? Makan yang teratur ya, jangan sampai sakit. Diikuti senyum karena kami juga tersenyum, mengatakan semuanya baik-baik saja.

Alhamdulillah. Saya mesti banyak-banyak bersyukur, dikelilingi orang-orang yang peduli dan membesarkan hati. Meski begitu, ada saatnya saya dan adik-adik dikungkung pilu. Biasanya usai sholat berjamaah, ketika saya mengajak mereka mendoakan bapak dan ibu. Atau malam hari, saat penjuru kampung sudah lengang, lalu tiba-tiba terdengar derum mesin motor dari kejauhan.

Saya tak bisa membaca pikiran, tetapi saya tahu benak adik-adik otomatis melayang pada bapak. Sebab, saya pun begitu. Bapak yang kerap bekerja hingga malam, lantas derum motornya menjadi pertanda kepulangannya. Meski sudah setengah tertidur, adik-adik akan tetap menyadari kehadiran bapak yang merebahkan diri di sebelah mereka. Sementara saya yang biasa tidur di kamar tersendiri, akan terlelap dengan tenang mengetahui bapak sudah kembali.

Hingga saat ini... saya dan adik-adik masih membayangkan kalau ketiadaan bapak di rumah hanya karena ia sedang pergi. Menyelesaikan pekerjaan di tempat yang jauh, seperti biasanya. Bapak akan kembali pada suatu malam, diantar derum mesin motor tuanya. Membuka pintu, lalu masuk dengan langkah ringan, supaya tidak membangunkan kami yang sudah hanyut di alam mimpi. Kemudian esok hari, kami bisa leluasa menyapanya lagi.

Gambar dari sini
Saya selalu berdoa agar dikuatkan dalam menghadapi kenyataan berpulangnya bapak. Berharap saya dan adik-adik mampu melalui waktu-waktu yang terasa sulit, mengatasi gelombang kesedihan yang sering melanda tanpa diduga. Bersama-sama, kami menguatkan diri untuk menata hidup, memantapkan hati supaya dapat berpikir jernih dalam merencanakan langkah kami ke depannya.

Terakhir, yang memegang peran penting dalam menguatkan hati saya: sahabat dan teman-teman. Support yang senantiasa mereka berikan membuat saya merasa beruntung memiliki teman-teman yang penyayang. Ketahuilah, saya senang ketika ada teman yang menanyakan kabar, atau meluangkan waktu sejenak untuk mendengar cerita saya. Saya sangat menghargai mereka yang menyediakan lengan untuk saya jadikan pegangan, berada di sisi saya ketika saya jatuh, tak lelah mengingatkan saya bahwa ada sejuta alasan untuk bahagia. Dan, tak ada yang dapat saya lakukan untuk membalas kebaikan hati mereka, selain berterima kasih.

Terima kasih, untuk semua yang punya andil dalam membesarkan hati kami. Mengusir rasa sedih, menggantinya dengan dorongan semangat agar kami melakukan yang terbaik yang kami bisa. Menyingkirkan rasa gundah, menggantinya dengan kepercayaan bahwa kami dapat melanjutkan hidup sebagai anak-anak mandiri, hasil didikan kedua orangtua. Saya sungguh berterima kasih, karena tanpa kalian, saya mungkin hanya jiwa rapuh yang tak henti berkeluh.

Jadi, tetaplah bersama saya. Jangan berhenti memupuk sabar ketika berada di samping saya.. Saya butuh kalian semua, untuk menghadapi dunia. :)

Sincerely,

Posted in , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

11 Responses to Update: How my life goes so far

  1. Sekaaaar... peluuuk... sekarag mungkin virtual hug dulu, kapan-kapan aku traktir mam eskrim mau? :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hueee, mendapat virtual hug dari Mbak Dhita aja aku udah seneng :') maaf ya mbak, dulu echa nggak lanjut KPP-nya :(

      Delete
  2. Hai Echaa.. aku selalu membaca update blog-mu btw, walopun sering enggak meninggalkan jejak di kolom komentar. Hihi. Terus update yaa.. semangat! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Ameng :) nah itu dia, aku nggak tau siapa aja yg hobi jadi silent reader blog ini wahahaha. Semangat juga buat Mbak Ameng!

      Delete
  3. Echa, salam kenal ya. Namaku Ivy. Aku sering mampir ke blogmu dan baca - baca entrymu. Aku turut berduka cita atas ini, kamu yang sabar, aku tahu kamu perempuan yang kuat. Semoga ayah dan ibumu tenang di sisi Allah SWT. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Ivy, salam kenal juga. Sepertinya nama blog kita punya tema yang sama ya, tentang bunga :) terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar, Mbak. Terima kasih juga atas doa dan supportnya :)

      Delete
  4. Mbak Sekaaaar, kuat selalu ya mbak!
    Semangaat :))

    ReplyDelete
  5. Baru nemu blog ini, postingan2 yg mengalir dan tulisan terakhir malah tentang.. ah saya cuma bisa berdoa semoga kalian tetap semangat menyelesaikan pendidikan dan selalu dalam lindungan-Nya. Amin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm, mungkin banyak yang ikut sedih membaca tulisan saya akhir-akhir ini, ya. Saya hanya bermaksud berbagi cerita. Terima kasih sudah berkunjung dan mendoakan yang baik, Mas.

      Delete
  6. tulisan yang tak hanya enak dibaca tp juga menginspirasi. tentang kehilangan, semangat, juga perjuangan.

    salam kenal mba sekar :)

    ReplyDelete

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.