Archive for July 2016

Pilek x KRS-an x Soulmate Impian Masa Depan

I've been suffered from influenza for the last three days. It's like, I feel my head will burst at any time, and I can't sleep well at night. There's burning sensation in my throat which is getting worse when I swallow things.

Today is Monday, so I have to deal with the situation that I'm all alone at home, because my sister had to go to school. I can't bring myself out with this headache and runny-nose. Means I have to refuse when my friend asked to go for photo-hunting this morning, errrghh.

Sepagian berkutat dengan isian rencana studi -- kegalauannya lebih pada memilih mata kuliah dan bukan masalah berebut kelas/dosen, karena fyi KRS-an di FIB nggak seganas fakultas lain. Saya mengisi 23/24 sks, matkul wajibnya ada sejarah teori antro, metode penelitian etnografi, bahasa indonesia, dan seni budaya (tadinya galau antara karawitan atau batik, tapi ternyata karawitan kelas mayoritas anak antro-nya penuh, akhirnya saya fix ambil batik). Untuk matkul pilihannya, hmm sebenarnya banyak matkul menarik kaya antro HIV/AIDS, studi tubuh & nalar, juga antro psikologi, tapi akhirnya dengan beberapa pertimbangan aku ambil matkul pilihan kajian anak & remaja, etnografi wilayah Maluku/NTT, dan etnofotografi.

Rencananya antro HIV sama antro psikologi aku keep buat tahun depan (udah planning banget yak wkwk). Actually itu masuk daftar matkul buat semester 7 jadi mungkin emang rada berat kalau diambil semester ini, but who knows.. semester kemarin aja aku ambil antro kesenian padahal itu ada di daftar matkul semester 6. Ehe. Dan malah enjoy banget, ya walaupun mungkin belum bisa se-artsy yang emang orang-orang seni // maksudnya gimana deh.

Nama mata kuliahnya (terdengar) asik-asik ya, ya nggak? Bilang aja iya. Saya juga mikir begitu. Dan, yang dipelajari memang menarik kok. Kecuali mata kuliah tertentu (biasanya matkul wajib/basic) yang dosennya selalu membuat berpikir keras waktu di kelas, atau saat dikejar-kejar tugas review artikel mingguan yang menurutku bahan referensinya cukup bikin frustasi, saya sangat menikmati belajar antropologi.

Tapi, btw, aslinya saya bukan mau ngobrolin soal antro.

Tadi saya ingin bilang, kalau waktu badan lagi nggak enak dan cuma bisa duduk-duduk di rumah (sendirian) gini, saya jadi berpikir.. beruntungnya mereka yang punya seseorang yang sabar mendampingi di waktu-waktu yang tidak menyenangkan. Menemani ketika sepi. Merawat ketika sakit. Menghibur ketika luka. I'm not talking about friends, ok. What I really mean is.. teman hidup. Just wondering if someday I found someone to care, and took care of me too when I'm sick. Hyaaa. Jadi teringat kisahnya Pak Habibie sama Bu Ainun, kan.

Well, everybody wants a blissful ending for their pursuit of love. To finally have someone to share feelings with. Me either. I've been dreaming of someone who stay with me in every ups and downs, and also make efforts to understand my complicated mind. Yeah, ini yang susah, menemukan orang yang mau memahami jalan pikiran kita, apalagi saya sadar saya orangnya agak sulit -- wkwk. Di sisi lain, saya juga ingin bertemu seseorang yang bersedia saya dalami, yang mau saya pahami seluk-beluk pikirannya, yang berkenan saya tengok isi hatinya untuk saya lihat apa yang bisa saya lakukan untuk melengkapinya. Hyaaaaa.

After all, I have no intentions to rush things. I will wait patiently for that right person to come up and fill my life. When the time is right, it will happen, eh? (Time is right-nya itu kapan ya wkwk). Biar orang sampe bosan berkata, "masih sendiri aja?", kalem, nggak usah ditanggepin -- lha wong sini juga udah bingung mau nanggepinnya gimana :( ahahaha begitulah.

#postingan #ini #topiknya #agak #deep

Never throw any possibilities, gurlz,

Posted in , , , , , , , , | Leave a comment

Something Called Me-time

Hari ini saya punya beberapa hal dalam to-do list. Mengurus asuransi bapak saya, lalu ke bank. Kemudian lanjut ke tempat nongkrong yang cukup familiar bagi anak SMA (jiah, berasa masih SMA), ada wifinya, di Jalan Tamansiswa. Sebagian besar pasti bisa nebak di mana.

Saya mengabari beberapa teman kalau saya di sini, dan menambahkan, "yang selo sini dong, temenin." Beberapa bilang kalau sebenarnya ingin menyusul, tapi gak bisa karena sedang ada urusan. Tetapi, beberapa teman -- yang biasanya paling sering saya ajakin hang out -- justru sengaja tidak saya kabarin. No specific reason, saya hanya merasa mereka sudah pasti tidak bisa menyusul karena saya tahu agenda beberapa dari mereka, dan lagi, saya malas mendapat tanggapan semacam, "ya ampun, jadi kamu di sana sendirian aja?"

Ya, saya ke sini sendiri.

Tapi saya nggak sendirian kok. Kan ada pengunjung lain..

Pffft. I mean, apa yang salah dengan sendirian? Saya sering ke mana-mana sendiri. Ke toko buku, perpustakaan kota, toko baju, sepatu, atau pun aksesoris (tapi paling cuma lihat-lihat, kecuali ada barang yang menarik banget buat langsung dibeli). Begitu juga dengan sekadar nongkrong. Tepatnya, saat ingin keluar rumah untuk nongkrong (definisi nongkrong: cari tempat buat duduk-duduk dengan segelas apa pun itu untuk diminum), saya punya dua mood.

Pertama, mood untuk berkumpul dengan teman-teman lalu ngobrol ngalor-ngidul sambil ketawa-ketiwi gak jelas. Kedua, mood untuk membawa diri saya keluar dari kejenuhan. Saat saya memutuskan nongkrong dalam keadaan mood yang kedua, maka biasanya saya tidak mengajak teman. Memang sih, kejenuhan juga bisa diatasi dengan bertemu teman, have some talks, sharing things, then your mind will be cleared up. But somehow, saya hanya butuh sendiri, berbekal laptop, then there I am, having fun of dating myself.

Sebenarnya, kalau saya nongkrong berbekal laptop, artinya saya punya rencana untuk menulis. Well, mengetik. Karena itu, saya sering bilang ke teman saya, "nanti siangan mungkin mau keluar cari wifi, terus ngetik cantik."

Saya jamin teman-teman saya nggak ngeh apa itu yang dimaksud 'ngetik cantik'. Maksudnya ya.. mengetik apa saja deh. Entah cerpen, puisi abal-abal, menuangkan isi kepala ke bentuk paragraf lalu diprosakan, blogging, atau... menerka-nerka ke mana arah draft novel saya yang masih jauh dari struktur yang rapi ini.

Saya sudah membuat kesepakatan dengan diri sendiri, setiap kali mengagendakan untuk ke tempat yang berwifi lalu duduk sendiri, maka tak boleh hanya sekadar browsing. Harus menghasilkan minimal satu tulisan. Apa pun itu.

Kalau sudah begitu, mau sendiri atau ada yang menemani, nggak jadi masalah, kan? Justru kalau untuk 'ngetik cantik' itu saya membutuhkan konsentrasi, dan itu hanya bisa saya dapatkan kalau saya pergi sendiri. Karena kalau ada teman, pasti ujung-ujungnya mengobrol, dan saya batal menulis. Lagian saya juga nggak bisa (nggak pede, tepatnya), terang-terangan mengetik untuk draft novel jika ada teman di sebelah. Hehe.

Mungkin suatu saat nanti ada sesuatu yang mengubah pikiran saya, saya nggak tahu. Hadirnya seseorang yang sukarela menemani tanpa rempong mengajak bicara, misalnya. Yang mengerti kalau ada saatnya saya bisa diajak diskusi, berbincang tentang ini-itu, dan ada saat lain ketika saya ingin dibiarkan sendiri.

Entah siapa 'sukarelawan' itu. Dan kapan datangnya, entah, saya tidak terburu. :p

Cheers,

Posted in , , , , , , , , , | 2 Comments

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.