Something Called Me-time

Hari ini saya punya beberapa hal dalam to-do list. Mengurus asuransi bapak saya, lalu ke bank. Kemudian lanjut ke tempat nongkrong yang cukup familiar bagi anak SMA (jiah, berasa masih SMA), ada wifinya, di Jalan Tamansiswa. Sebagian besar pasti bisa nebak di mana.

Saya mengabari beberapa teman kalau saya di sini, dan menambahkan, "yang selo sini dong, temenin." Beberapa bilang kalau sebenarnya ingin menyusul, tapi gak bisa karena sedang ada urusan. Tetapi, beberapa teman -- yang biasanya paling sering saya ajakin hang out -- justru sengaja tidak saya kabarin. No specific reason, saya hanya merasa mereka sudah pasti tidak bisa menyusul karena saya tahu agenda beberapa dari mereka, dan lagi, saya malas mendapat tanggapan semacam, "ya ampun, jadi kamu di sana sendirian aja?"

Ya, saya ke sini sendiri.

Tapi saya nggak sendirian kok. Kan ada pengunjung lain..

Pffft. I mean, apa yang salah dengan sendirian? Saya sering ke mana-mana sendiri. Ke toko buku, perpustakaan kota, toko baju, sepatu, atau pun aksesoris (tapi paling cuma lihat-lihat, kecuali ada barang yang menarik banget buat langsung dibeli). Begitu juga dengan sekadar nongkrong. Tepatnya, saat ingin keluar rumah untuk nongkrong (definisi nongkrong: cari tempat buat duduk-duduk dengan segelas apa pun itu untuk diminum), saya punya dua mood.

Pertama, mood untuk berkumpul dengan teman-teman lalu ngobrol ngalor-ngidul sambil ketawa-ketiwi gak jelas. Kedua, mood untuk membawa diri saya keluar dari kejenuhan. Saat saya memutuskan nongkrong dalam keadaan mood yang kedua, maka biasanya saya tidak mengajak teman. Memang sih, kejenuhan juga bisa diatasi dengan bertemu teman, have some talks, sharing things, then your mind will be cleared up. But somehow, saya hanya butuh sendiri, berbekal laptop, then there I am, having fun of dating myself.

Sebenarnya, kalau saya nongkrong berbekal laptop, artinya saya punya rencana untuk menulis. Well, mengetik. Karena itu, saya sering bilang ke teman saya, "nanti siangan mungkin mau keluar cari wifi, terus ngetik cantik."

Saya jamin teman-teman saya nggak ngeh apa itu yang dimaksud 'ngetik cantik'. Maksudnya ya.. mengetik apa saja deh. Entah cerpen, puisi abal-abal, menuangkan isi kepala ke bentuk paragraf lalu diprosakan, blogging, atau... menerka-nerka ke mana arah draft novel saya yang masih jauh dari struktur yang rapi ini.

Saya sudah membuat kesepakatan dengan diri sendiri, setiap kali mengagendakan untuk ke tempat yang berwifi lalu duduk sendiri, maka tak boleh hanya sekadar browsing. Harus menghasilkan minimal satu tulisan. Apa pun itu.

Kalau sudah begitu, mau sendiri atau ada yang menemani, nggak jadi masalah, kan? Justru kalau untuk 'ngetik cantik' itu saya membutuhkan konsentrasi, dan itu hanya bisa saya dapatkan kalau saya pergi sendiri. Karena kalau ada teman, pasti ujung-ujungnya mengobrol, dan saya batal menulis. Lagian saya juga nggak bisa (nggak pede, tepatnya), terang-terangan mengetik untuk draft novel jika ada teman di sebelah. Hehe.

Mungkin suatu saat nanti ada sesuatu yang mengubah pikiran saya, saya nggak tahu. Hadirnya seseorang yang sukarela menemani tanpa rempong mengajak bicara, misalnya. Yang mengerti kalau ada saatnya saya bisa diajak diskusi, berbincang tentang ini-itu, dan ada saat lain ketika saya ingin dibiarkan sendiri.

Entah siapa 'sukarelawan' itu. Dan kapan datangnya, entah, saya tidak terburu. :p

Cheers,

Posted in , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

2 Responses to Something Called Me-time

  1. Eh halo. Perfect timing sekali. Kapan-kapan kamu harus mengajakku. Maka kita akan belajar untuk mendengarkan diam. Somehow, sudah lama saya mendambakan hal yang sama. Tapi sama lagi, karena saya pun tidak menemukan orang yang tepat untuk bisa diajak demikian. Dan pasti, akan berakhir dengan ngobrol. Atau rikuh karena saya sedang terlalu cuek dengan pekerjaan di depan saya. Bedanya, mungkin Echa lebih banyak menulis, sedangkan saya... bisa jadi melukis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haloooo!
      Ya, kita bisa pergi dan melakukan yang kita suka, semoga tak berakhir rikuh apalagi ricuh ya? Lanjut personal chat saja untuk atur waktunya \:D/

      Delete

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.