Archive for August 2016

Situasi buruk

Kamu pernah merasa kepalamu ingin meledak karena dipenuhi pikiran-pikiran yang berlalu-lalang? Berbagai pikiran itu lalu menimbulkan perasaan tak nyaman: gelisah, takut, cemas, sesal, amarah. Karena dengan memikirkan sesuatu itu, timbul asumsi-asumsi, yang kemudian tumbuh-bercabang ke pemikiran lain.

Dan itu membuat dadamu ikutan sesak.

Saya adalah seorang pemikir, saking pemikirnya sampai kadang saya bertanya-tanya apakah sebenarnya "sesuatu" itu penting untuk dipikirkan. Pada saat yang sama, saya juga sangat-sangat-sangat mudah tersentuh. I cry for simple things, I can't even explain the reason. Tidak bagus, memang. Silakan ledek saya lemah. Seorang melankolis yang kadang tak punya cukup kekuatan untuk membentengi diri dari serangan pemikiran-pemikiran di kepalanya sendiri, yang dari situ tercipta kecemasan-kecemasan atau ribuan what if yang belum tentu masuk di akal. Tetapi tetap saja dipikirkan, berulang-ulang.

Satu lagi. Satu hal yang bagi saya sangat menyiksa. Perasaan sendirian, di saat saya ingin berada di tengah orang-orang. Merasa sendiri ketika saya sebenarnya ada dalam kondisi butuh ditemani. Ingin mendengar kata-kata yang menenangkan, yang mampu menghalau pikiran-pikiran negatif. Faktanya, ketika saya berkata "orang-orang", itu merujuk pada sekumpulan individu tertentu. Seringkali maksudnya adalah teman-teman dekat. Teman-teman yang saya anggap sudah mengenal saya luar-dalam, sehingga saya tidak pikir-pikir lagi untuk menampakkan cacat-cela diri saya. Sayangnya, di dunia ini ada pula konsep jarak, baik berupa ruang atau pun waktu, yang membatasi gerak manusia sehingga tidak setiap saat dapat bertemu. Kadang keinginan saya untuk "memperoleh perhatian teman-teman" pun terbentur konsep yang lain: konsep prioritas. Di mana teman-teman saya memiliki hal yang lebih penting daripada sekadar mengerling kontak saya di ponsel mereka lalu mengetikkan, "Apa kabar?"

Jadi, bisa bayangkan jika saya sedang sendiri, sibuk dengan berbagai pikiran yang membenak di kepala, sedangkan teman-teman yang saya harapkan untuk mendampingi tidak berada di sisi. Saya merasa di bawah tekanan, lalu tanpa sadar menangis. Begitu saja. Inginnya menumpahkan airmata habis-habisan seperti anak kecil. Bedanya, anak kecil bebas menangis dengan bersuara, sementara saya tidak dapat melakukannya.

Situasi buruk seperti itu sangat menguras energi saya.

Saya sadar sesadar-sadarnya, tangis tidak menyelesaikan masalah. Itu hanya bentuk reflek diri saya ketika dilanda tekanan. Saya menangis hanya supaya lega. Sedihnya, belakangan ini saya selalu mengalami posisi itu secara berkala, tanpa menemukan cara mencegah atau mengatasinya.


Posted in , , , , , , | 1 Comment

Truth is, I need you.

Hi, dad, it's been 100 days since we're not able to see you anymore. There are many things I still can't figure how to make it run. I've been trying to learn how you manage things, but apparently I found it's not as easy as it seems. Besides, I'm still struggling with my own mental state which make me drown in grief sometimes.

I always got a strange feeling whenever I'm being alone at home, dad. I don't even understand this feeling, it's like emptiness inside of me, or maybe kind of loneliness that confusing me.

I was being left alone at home many times before, you know, and during that time I know that it's okay. People would coming back and I could talk to them anyway. Also when the night come then my sisters had asleep, left me as the one who was wide awake, I know there's nothing to worry. You were just kilometers away to complete your work, and you would prepare to back home soon.

It's midnight when you touch down home, or even already early in the morning. Some of your project just can't be done after a whole day, so you have to stay until all of those finished. It took few days we were apart. But you'll be back, you'll be fine.

There was a time when you had to go for weeks, too. You convinced me to manage this household things and I do. But you never really left. You'll return back, we'll be fine. What I'm saying is pretty much as simple as that, right?


       So, now, after months and you're not coming back -
      I feel emptiness whenever I'm alone at home, how would you explain, dad?
      What do I supposed to think -- can you convinced me that it's okay?


Because I can't see any possibility
for me to wait,
then you will come
and make me believe everything is alright.

I need you, dad,
I miss you in every second of my life,
and I would rather turn back the time seeing your smile,
than to stay with the loneliness I can't understand.

Oh, dad, I still have no idea how to deal with this unpredictable circumstances,
because I have never imagined facing this life alone without you.

Everyone keep saying I was a brave girl survived in tough times. The truth is, I just need you to be here.

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.