The worst feeling for me

Kamu pernah memikirkan sesuatu sampai rasanya kepalamu terasa penuh oleh pikiran-pikiran yang berlalu-lalang? Berbagai pikiran itu lalu menimbulkan perasaan tak nyaman: gelisah, takut, cemas, sesal, amarah. Karena dengan memikirkan sesuatu itu, kamu jadi punya asumsi-asumsi, kamu jadi menyadari banyak hal yang kemudian tumbuh-bercabang ke pemikiran lain.

Dan itu membuat dadamu ikutan sesak.

Saya adalah seorang pemikir, saking pemikirnya kadang saya bertanya-tanya sendiri apakah sebenarnya "sesuatu" itu penting untuk dipikirkan. Pada saat yang sama, saya juga sangat-sangat-sangat mudah tersentuh. I cry for simple things, I can't even explain the reason. Tidak bagus, memang. Silakan ledek saya lemah. Seorang melankolis yang kadang tak punya cukup kekuatan untuk membentengi diri dari serangan pemikiran-pemikiran di kepalanya sendiri, yang dari situ tercipta kecemasan-kecemasan atau ribuan what if yang belum tentu masuk di akal. Tetapi tetap saja dipikirkan, berulang-ulang.

Satu lagi. Satu hal yang bagi saya sangat menyiksa. Kesendirian, di saat saya ingin berada di tengah orang-orang. Merasa sendiri ketika saya sebenarnya ada dalam kondisi butuh ditemani. Ingin mendengar kata-kata yang menenangkan, menghibur, yang mampu menghalau pikiran-pikiran negatif. Faktanya, ketika saya berkata "orang-orang", biasanya itu merujuk pada sekumpulan individu tertentu. Seringkali maksudnya adalah teman-teman dekat. Yang saya anggap sudah mengenal saya luar-dalam, sehingga saya tidak pikir-pikir lagi untuk menampakkan cacat-cela diri saya. Sayangnya, di dunia ini ada pula konsep jarak, baik berupa ruang atau pun waktu, yang membatasi gerak manusia sehingga tidak setiap saat dapat bertemu. Kadang keinginan saya untuk "memperoleh perhatian teman-teman" pun terbentur konsep yang lain, konsep prioritas. Di mana teman-teman saya memiliki hal yang lebih penting daripada sekadar mengerling kontak saya di ponsel mereka lalu mengetikkan, "Apa kabar?"

Jadi, bisa bayangkan jika saya sedang sendiri, sibuk dengan berbagai pikiran yang membenak di kepala, sedangkan teman-teman yang saya harapkan untuk mendampingi tidak berada di sisi. Saya merasa di bawah tekanan, lalu tanpa sadar menangis. Begitu saja. Inginnya menumpahkan airmata habis-habisan seperti anak kecil. Bedanya, anak kecil bebas menangis dengan bersuara, sementara saya tidak dapat melakukannya.

Saat-saat seperti itu sangat menguras energi saya.

Saya sadar sesadar-sadarnya, tangis tidak menyelesaikan masalah. Itu hanya bentuk reflek diri saya ketika dilanda tekanan. Saya menangis hanya supaya lega. Sedihnya, belakangan ini saya selalu mengalami posisi itu secara berkala, tanpa menemukan cara mencegah atau mengatasinya.

Posted in , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

One Response to The worst feeling for me

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.