Archive for September 2016

Berpikir dan Mencari

Semakin ke sini, saya semakin sering berpikir hal-hal kecil yang membawa efek besar dalam hidup saya. Misalnya, saya ini seorang kakak, tapi adik tengah saya kok kelihatannya lebih cekatan menangani beberapa hal di rumah ya. Dia lebih sering menanak nasi daripada saya. Jangan-jangan besok kalau sudah berumah tangga, saya sering numpang makan di rumahnya gara-gara saya terlambat menyajikan makanan -- sementara anak-anak saya sudah kelaparan. Lalu saya suruh mereka menghampiri meja makan buliknya yang sudah lebih dulu tertata.

Mikirnya kejauhan ya?

AHAHAHAHA. Apakah salah mikir begitu? Artinya dalam pikiran alam bawah sadar saya kan sedang berusaha menanamkan bahwa besok harus jadi ibu rumah tangga yang sigap, tidak boleh membiarkan keluarga saya terlantar (ya kalau tertanam betul, kalau pikiran saya mentok di kecemasan dan tidak berbuah apa-apa, gimana dong).

Selain mikir hal-hal kecil begitu, saya juga merasa dalam proses pencarian.

Mencari; apa tujuan hidup saya sebenarnya. Goals apa saja yang ingin saya capai.

dan rasanya, semua masih berkabut. credit pic: here

Dulu, saya berhenti sampai pada saya ingin hidup bahagia.

Kini, saya tak henti berpikir untuk mencari tahu, bahagia yang seperti apa

Apakah saya akan bahagia jika sudah jadi sarjana? Apakah bahagia itu artinya saya memperoleh pekerjaan yang sesuai minat saya (kemudian pertanyaan ini berkembang menjadi; apa minat saya?). Apakah saya akan bahagia jika sudah bertemu jodoh? (Backsound: eaaa.)

Biasanya sampai di sini saya bilang pada diri saya, sudah sudah, mungkin kamu lelah, jadinya pikiran bercabang ke mana-mana.

Tetapi, saat menulis ini (yang mana saya awalnya ragu mempublikasikannya karena semua ini agak personal, menurut saya), saya kembali berpikir: apakah aneh jika anak-hampir-19-tahun mulai memikirkan masa depannya? 

Errrr. Saya rasa tidak juga. Tapi mungkin, sebagaimana yang saya lihat pada diri orang-orang, tahapan berpikir dan mencari ini malahan akan berlangsung dalam rentang cukup lama. Bisa sampai pertengahan kepala dua, bahkan lebih. Iya nggak, ya? Saya kok jadi sok-sokan berteori gini?


Posted in , , , , , , , | 7 Comments

Apa yang saya pikirkan selama/sehingga saya sakit

pic from tumblr
Halo...

Menilik postingan blog belakangan ini, kok temanya melulu bernada sendu, ya. Kalau nggak tentang rasa kangen ke bapak, curhatan nggak jelas saat saya lagi merasa tertekan, lalu ada pula yang tentang kehilangan teman-teman dekat (itu, postingan sebelum ini). Errghh, bulan lalu memang cukup sulit bagi saya. Semacam banyak hal yang menuntut porsi di kepala saya dan di 24 jam hari-hari saya untuk dipikirkan / diurusi / dituntaskan. Entah saya yang terlalu kepikiran atau bagaimana, hingga akhirnya saya jatuh sakit.

Saya sakit gejala tipus selama hampir dua minggu, dan saat ini posisinya saya baru saja sembuh. Ini pertama kalinya saya terserang tipus dalam hidup saya, Alhamdulillah nggak parah-parah banget karena nggak sampai harus opname. Awalnya lumayan repot karena seminggu pertama saya selalu demam tiap sore sampai malam, tapi esoknya merasa baikan sehingga saya memutuskan tetap berangkat kuliah. Di hari ke-sekian, demam saya datang saat jeda antarkuliah dan meskipun saya berada di kos teman untuk numpang tidur, tetap saja badan saya nggak enak dan teman-teman saya jadi khawatir. Puncaknya ketika saya berada di kampus sampai lewat Maghrib, cuaca berangin dan akhirnya hujan turun, badan saya panas tinggi dan kepala saya terasa berat sampai rasanya nggak kuat bawa motor pulang. Saya terpaksa minta dijemput Om karena waktu itu nggak ada teman yang memungkinkan ngantar pulang (sebenarnya ada, tapi nongolnya telat, saya terlanjur mengontak Om hehe).

Besoknya, saya periksa dan dokter curiga kalau saya kena tipus. Saya disuruh bed rest total selama tiga hari dan diberi obat yang harus dihabiskan. Sebenarnya, saya nggak begitu kaget daya tahan tubuh saya menurun, pasalnya sejak awal semester kemarin saya memang kurang bisa menjaga pola makan. Kadang perut hanya kemasukan nasi satu kali waktu siang hari, kadang sama sekali nggak makan berat dalam sehari. Bahkan di minggu pertama masuk kuliah saya juga sempat tumbang karena mendadak muntah-muntah, seperti ada masalah pencernaan. Walaupun sadar saya kurang menjaga tubuh, tetap saja saat didiagnosis tipus kemarin saya ngomong ke diri sendiri: dih, dasar penyakitan.

Ketika saya laporan ke tante saya kalau kena gejala tipus, reaksinya agak di luar dugaan, tapi sekaligus memperjelas apa yang sebenarnya saya harapkan selama terbaring demam malam-malam sebelumnya. Tak jemput ya, Cha, istirahat di sini aja. Meski dalam hati saya nggak tega ninggal adik tengah saya sendirian, tapi dalam kondisi lemah saat itu saya tidak menolak diboyong ke Semarang. Adik saya sekolah dari pagi sampai sore, dia sedang padat-padatnya kegiatan sehingga malah kasihan juga kalau harus dibebani orang sakit di rumah. Jadilah tengah malam saya dijemput tante dan kami langsung bertolak ke Semarang, kota kelahiran bapak.

Bisa dikatakan, kepergian saya ke tempat tante itu selain untuk pemulihan dari sakit juga dalam rangka pelarian. Saya melarikan diri dari tekanan yang selalu menghampiri saya di malam-malam ketika si adik sudah tidur, ketika hanya ada saya memandangi gelap langit-langit rumah. Saya melarikan diri dari kecemasan yang menghantui saya tentang masa depan, tuntutan tanggungjawab saya sebagai anak sulung yang harus "mengurus rumah". Mengurus rumah dalam arti harfiah, mengurus segala hal yang umumnya ditangani orangtua -- namun karena orangtua saya sudah tidak ada, maka saya yang harus mengembannya.

Saya absen kuliah tiga hari -- Rabu, Kamis, Jumat. Kerjaan saya di rumah tante hanya makan-tidur-makan-tidur. Hari pertama sarapan bubur, siang makan bubur, malam juga bubur. Besok-besoknya, hanya pagi saja yang sarapan bubur, selain itu nasi. Di rumah tante, makan terjamin. Di rumah tante, saya tidak perlu memikirkan macam-macam (kecuali mikir adik saya yang sendirian di rumah Jogja, mikir apakah dia makan dengan teratur -- karena pada dasarnya kami sama-sama sering malas makan. Lebih sederhana lagi, apakah ada yang bisa dia makan? Ini yang membuat saya tidak tenang).

Minggu siang, saya bertolak kembali ke Jogja bersama adik bungsu saya yang minta ikut pulang, mumpung libur Idul Adha, katanya. Maka di sinilah saya, kembali ke rutinitas, kembali menjalani hari-hari yang entah akan berjalan baik ataukah masih menyisakan cemas di setiap malamnya.

Saya jadi menerka-nerka, boleh jadi sakit saya bukan karena secara fisik kurang terjaga, melainkan karena secara psikis saya belum siap menjalani hidup tanpa orangtua. Memasuki bulan kelima setelah kepergianmu, Pak, ini aku, masih tertatih meraba realita, masih limbung menentukan arah langkah. Di sini aku perlu meralat kata-kataku sebelumnya; kami siap jadi mandiri. Belum, kami belum sanggup. Aku belum siap.

Maafkan inkonsistensi saya dalam penggunaan "saya" dan "aku." Pada akhirnya, postingan ini pun jadi bernada sendu. Jika dilanjutkan, akan jadi saaaangat panjang. Dear pembaca, saya hanya ingin berpesan: jaga kesehatan.

Pukul setengah dua dini hari dan saya perlu tidur.

Posted in , , , , , , , , , , , | 6 Comments

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.