Apa yang saya pikirkan selama/sehingga saya sakit

pic from tumblr
Halo...

Menilik postingan blog belakangan ini, kok temanya melulu bernada sendu, ya. Kalau nggak tentang rasa kangen ke bapak, curhatan nggak jelas saat saya lagi merasa tertekan, lalu ada pula yang tentang kehilangan teman-teman dekat (itu, postingan sebelum ini). Errghh, bulan lalu memang cukup sulit bagi saya. Semacam banyak hal yang menuntut porsi di kepala saya dan di 24 jam hari-hari saya untuk dipikirkan / diurusi / dituntaskan. Entah saya yang terlalu kepikiran atau bagaimana, hingga akhirnya saya jatuh sakit.

Saya sakit gejala tipus selama hampir dua minggu, dan saat ini posisinya saya baru saja sembuh. Ini pertama kalinya saya terserang tipus dalam hidup saya, Alhamdulillah nggak parah-parah banget sih karena nggak sampai harus opname. Repotnya karena seminggu pertama saya selalu demam tiap sore sampai malam, meski esoknya merasa baikan sehingga saya memutuskan tetap berangkat kuliah. Di hari ke-sekian, demam saya datang saat jeda antara kuliah dan meskipun saya berada di kos teman untuk numpang tidur, tetap saja badan saya nggak enak dan teman-teman saya jadi khawatir. Puncaknya ketika saya berada di kampus sampai lewat Maghrib, cuaca berangin dan akhirnya hujan turun, badan saya panas tinggi dan kepala saya terasa berat sampai rasanya nggak kuat bawa motor pulang. Saya terpaksa minta jemputan Om karena waktu itu tidak ada teman yang memungkinkan untuk mengantar pulang (sebenarnya ada, tapi nongolnya telat sih, saya terlanjur mengontak Om hahaha).

Besoknya, saya periksa dan dokternya curiga kalau saya kena tipus. Saya disuruh bed rest total selama tiga hari dan diberi obat yang harus dihabiskan. Sebenarnya, saya nggak begitu kaget daya tahan tubuh saya menurun, pasalnya sejak awal semester kemarin saya memang kurang bisa menjaga pola makan. Kadang perut hanya kemasukan nasi satu kali waktu siang hari, kadang sama sekali nggak makan berat dalam sehari. Bahkan di minggu pertama masuk kuliah saya juga sempat tumbang karena mendadak muntah-muntah, seperti ada masalah pencernaan. Walaupun sadar saya kurang menjaga tubuh, tetap saja saat didiagnosis tipus kemarin saya ngomong ke diri sendiri: dih, dasar penyakitan.

Ketika saya laporan ke tante saya kalau kena gejala tipus, reaksinya agak di luar dugaan, tapi sekaligus memperjelas apa yang sebenarnya saya harapkan selama terbaring demam malam-malam sebelumnya. Tak jemput ya, Cha, istirahat di sini aja. Meski dalam hati saya nggak tega ninggal adik tengah saya sendirian, tapi dalam kondisi lemah saat itu saya tentu saja tidak menolak diboyong ke Semarang. Adik saya sekolah dari pagi sampai sore, dia sedang padat-padatnya kegiatan sehingga malah kasihan juga kalau harus dibebani orang sakit di rumah. Jadilah tengah malam saya dijemput tante dan kami langsung bertolak ke Semarang, kota kelahiran bapak.

Bisa dikatakan, kepergian saya ke tempat tante selain untuk pemulihan dari sakit juga dalam rangka pelarian. Saya melarikan diri dari tekanan yang selalu menghampiri saya di malam-malam ketika adik saya sudah tidur, ketika hanya ada saya memandangi gelapnya langit-langit rumah. Saya melarikan diri dari kecemasan yang menghantui saya tentang masa depan, tuntutan tanggungjawab saya sebagai seorang anak sulung yang harus "mengurus rumah". Mengurus rumah dalam arti harfiah, mengurus segala hal yang umumnya ditangani orangtua -- namun karena orangtua saya sudah tidak ada, maka saya yang harus mengembannya.

Saya absen kuliah tiga hari -- Rabu, Kamis, Jumat. Kerjaan saya di rumah tante hanya makan-tidur-makan-tidur. Hari pertama sarapan bubur, siang makan bubur, malam juga bubur. Besok-besoknya, hanya pagi saja yang sarapan bubur, selain itu nasi. Di rumah tante, makan terjamin. Di rumah tante, saya tidak perlu memikirkan macam-macam (kecuali mikir adik saya yang sendirian di rumah Jogja, mikir apakah dia makan dengan teratur -- karena pada dasarnya kami sama-sama sering malas makan. Lebih sederhana lagi, apakah ada yang bisa dia makan? Ini yang membuat saya tidak tenang).

Minggu siang, saya bertolak kembali ke Jogja bersama adik bungsu saya yang minta ikut pulang, mumpung libur Idul Adha, katanya. Maka di sinilah saya, kembali ke rutinitas, kembali menjalani hari-hari yang entah akan berjalan baik ataukah masih menyisakan cemas di setiap malamnya.

Saya jadi menerka-nerka, boleh jadi sakit saya bukan karena secara fisik kurang terjaga, melainkan karena secara psikis saya belum siap menjalani hidup tanpa orangtua. Memasuki bulan kelima setelah kepergianmu, Pak, ini aku, masih tertatih meraba realita, masih limbung menentukan arah langkah. Di sini aku perlu meralat kata-kataku sebelumnya; kami siap jadi mandiri. Belum, kami belum sanggup. Aku belum siap.

Maafkan inkonsistensi saya dalam penggunaan "saya" dan "aku." Pada akhirnya, postingan ini pun jadi bernada sendu. Jika dilanjutkan, akan jadi saaaangat panjang. Dear pembaca, saya hanya ingin berpesan: jaga kesehatan...

Pukul setengah dua dini hari dan saya perlu tidur.

Posted in , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

6 Responses to Apa yang saya pikirkan selama/sehingga saya sakit

  1. Echa, sehat selalu ya. Ah Echa, aku jadi ingin berbagi hal yang kurang lebih sama denganmu. Tapi aku sepertinya terlalu sombong atau terlalu pengecut bahkan untuk sekadar menuliskannya dalam blog, membagi kisah seperti Echa.
    Lekas pulih ya, Echa! :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sejujurnya mbak, aku nggak suka "berbagi" cerita yang sedih-sedih gini. Aku nggak suka ketika teman-teman membaca dan jadi ikut sedih. Tapi somehow aku merasa nulis itu terapi, dan toh nggak banyak juga yang baca blog ini jadi ya sudahlah wekekek.

      Aku tuh sering kangen sama mbak-mbak Kaca yang mengayomi lho, mbak. Kalo lagi selo ayolah kita ngopi-ngopi cantik :D

      Delete
  2. Coba sesekali bawa jalan2. Dalam artiN sebenrnya: jalan kaki. Atau sepedaan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dalam rangka meningkatkan kesehatan ya ini maksudnya? Hmm iya nih badan saya udah jarang dibawa olahraga...

      Anyway, belakangan ini sepertinya postingan saya disimak njenengan, salam kenal nggih Om. (barusan berkunjung balik ke blog auk dan membaca beberapa postingan terakhir, lha kok yang komen pada manggil Om)

      Delete
  3. tetap semnagt mb Sekar, dlm beberap kisahnya di atas ternyata aku juga mengalaminya :) terkadang kt mrsa hdup ini keras yah hehe,, tp aq salut loh ma mb Sekar, baca tulisannya meski sendu tp terasa waw. keep moving on :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengalaman membentuk karakter orang :D makasih udah berkunjung balik, Ainhy :)

      Delete

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.