Berpikir dan Mencari

Semakin ke sini, saya semakin sering berpikir hal-hal kecil yang membawa efek besar dalam hidup saya. Misalnya, saya ini seorang kakak, tapi adik tengah saya kok kelihatannya lebih cekatan menangani beberapa hal di rumah ya. Dia lebih sering menanak nasi daripada saya. Jangan-jangan besok kalau sudah berumah tangga, saya sering numpang makan di rumahnya gara-gara saya terlambat menyajikan makanan -- sementara anak-anak saya sudah kelaparan. Lalu saya suruh mereka menghampiri meja makan buliknya yang sudah lebih dulu tertata.

Mikirnya kejauhan ya?

AHAHAHAHA. Apakah salah mikir begitu? Artinya dalam pikiran alam bawah sadar saya kan sedang berusaha menanamkan bahwa besok harus jadi ibu rumah tangga yang sigap, tidak boleh membiarkan keluarga saya terlantar (ya kalau tertanam betul, kalau pikiran saya mentok di kecemasan dan tidak berbuah apa-apa, gimana dong).

Selain mikir hal-hal kecil begitu, saya juga merasa dalam proses pencarian.

Mencari; apa tujuan hidup saya sebenarnya. Goals apa saja yang ingin saya capai.

dan rasanya, semua masih berkabut. credit pic: here

Dulu, saya berhenti sampai pada saya ingin hidup bahagia.

Kini, saya tak henti berpikir untuk mencari tahu, bahagia yang seperti apa

Apakah saya akan bahagia jika sudah jadi sarjana? Apakah bahagia itu artinya saya memperoleh pekerjaan yang sesuai minat saya (kemudian pertanyaan ini berkembang menjadi; apa minat saya?). Apakah saya akan bahagia jika sudah bertemu jodoh? (Backsound: eaaa.)

Biasanya sampai di sini saya bilang pada diri saya, sudah sudah, mungkin kamu lelah, jadinya pikiran bercabang ke mana-mana.

Tetapi, saat menulis ini (yang mana saya awalnya ragu mempublikasikannya karena semua ini agak personal, menurut saya), saya kembali berpikir: apakah aneh jika anak-hampir-19-tahun mulai memikirkan masa depannya? 

Errrr. Saya rasa tidak juga. Tapi mungkin, sebagaimana yang saya lihat pada diri orang-orang, tahapan berpikir dan mencari ini malahan akan berlangsung dalam rentang cukup lama. Bisa sampai pertengahan kepala dua, bahkan lebih. Iya nggak, ya? Saya kok jadi sok-sokan berteori gini?


Posted in , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

7 Responses to Berpikir dan Mencari

  1. Aku pikir. Pikiranmu menjangkau masa jauh di depan. Dengan sgala kemungkinan2 ajaib di masa mwndatang. Itu keren. Adal jgn lupa menikmati masa hari ini hehe

    ReplyDelete
  2. Tida salah jika di umur n lum kita pala dua sudah mulai mmikirkan masa depan, akan hidup mau njadi apa dan akan hidup seperti apa.

    Tapi jagan terlalu dibawa stres, biarkan berjalan seiring berjalannya hari. Masih muda ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmmm oke mbak, tapi di sisi lain aku percaya kalau masa depan memang harus dipikirkan dari sekarang :D

      Delete
  3. Echa,

    Aku kira semua orang mengalami hal serupa, meski dengan tingkat kegalauan yang berbeda-beda. Bahkan, sangat mungkin orang yang telah berumur masih terus mencari tujuan.

    Apa yang akan terjadi jika seseorang telah mendapatkan tujuannya? Ia tentu akan mencari tujuan yang baru bukan?
    Maka, bagiku sendiri, yang menjadikan hidup ini bermakna adalah proses kita mencari, menemukan, lalu bergerak untuk mencapai tujuan itu, bukan hanya pada saat tercapainya tujuan.

    Teruslah mencari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hoooo yoyoyo kamu kok sampe sini e Sa???? As always, selalu bijak.

      Delete

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.