Archive for October 2016

Tentang aku dan Tya - setelah tiga bulan kita hanya berdua

Bisakah dua anak remaja tinggal di rumah mengurus dirinya dan memenuhi kebutuhannya dan menjalankan kewajibannya dan mengatur baik-baik waktunya dan melakukan kegiatan sehari-harinya ---- tanpa didampingi orangtua?

Jawabannya: bisa,

tapi tidak sempurna.

...............
*ditulis sebagai kesimpulan akhir pekan kami yang disambut gembira, ternyata berjalan biasa saja, lalu ditutup oleh perasaan hampa.


pagi : gembira


Posted in , , , , , , , , | Leave a comment

Sebuah Daftar

  • Laki-laki gondrong yang rambutnya lurus
  • Tato berwarna (bukan cuma tinta hitam)
  • Sandal gunung yang diinjak belakangnya
  • Kamera pocket, DSLR, tripod, baterai recharge
  • Film action, adventure, survival
  • Lagu-lagunya Bon Jovi, Guns N' Roses, Slank, Iwan Fals, Cokelat
  • Jas hujan plastik ala pak becak
  • Pisau lipat, sepatu bot, peluit
  • Kotak P3K kecil tapi isinya lengkap
  • Single Rope Technique
  • Kalung manik-manik
  • Celana pendek ketat (sering disebut second skin) baik polos ataupun bermotif norak/warna stabilo cetar (gak kelihatan kan cuma buat dobelan)
  • Obat batuk Cina 'Hsiao Keh Chuan'
  • Martabak Bangka dekat plengkung Gading (especially rasa cokelat-kacang, keju-susu)
  • Kacang atom, kacang kulit, kacang koro, kacang telur
  • Bubur kacang ijo
  • Pisang aroma Jalan KHA Dahlan (isinya bukan cuma pisang; ada nangka, nanas, tape juga)
  • Tahu gimbal depan BRI Samsat
  • Pempek Tanjung Pesona Jalan Ibu Ruswo (kapal selam, kuah pedas) 
  • Fotokopian pojokan pertigaan timurnya parkir bus Ngabean
  • Bengkel motor Jalan Tunjung arah Mandala Krida
  • Salep Cina 'Pi Kang Shuang'
  • Belalang goreng
  • Jus alpukat dengan tingkat kekentalan yang pas
  • Pembicaraan tentang single parent
  • Pembicaraan tentang gua (wisata gua, insiden di gua, sumber air dari gua)
  • Pembicaraan tentang kearifan lokal (sering banget disinggung di semester awal!!)
  • Belanja di Progo, Gardena, Superindo
  • Es krim Wall's kemasan wadah (yang porsi bareng-bareng, bukan yang cup)
  • Sosis toplesan, sarden, nugget, abon, telur asin... stok lauk cepat saji
  • "Gakpapa gak makan nasi yang penting perutnya diisi."
  • "Jangan lupa minum air putih nanti dehidrasi." 
  • Segala hal terkait safety riding
  • Segala hal terkait kebebasan, konsekuensi, kerja keras
  • Nasihat-nasihat untuk tidak sombong, menghargai sesama, menjaga alam

....adalah sebagian dari banyak hal di dunia ini yang mengingatkanku pada bapak. Dan kalau nyaris semua yang di daftar itu masih selalu bersinggungan dengan keseharianku, bagaimana mungkin aku tidak merindukannya setiap waktu?

We miss you, Pa. Really, really miss you.

Posted in , , , , , | 4 Comments

Iseng-iseng berhadiah!

Kalau kamu baca postingan ini, kamu akan tahu kalau beberapa waktu lalu saya punya kumpulan teman yang sering gelar rapat hingga larut malam. Actually, apa yang kami bahas dalam rapat-rapat tidak efektif itu adalah sebuah proyek: short movie competition. Ini kali kedua saya mengikuti kompetisi semacam ini. Mega yang mengajak saya bergabung dalam tim bentukannya; saya sendiri sempat heran -- sejak kapan Mega doyan ublek-ublek dunia perfilman? Tapi toh saya setuju untuk bergabung, dengan posisi sebagai penulis naskah. Kata dia, motivasinya ya coba-coba saja, ingin punya pengalaman bikin film. Oke sip, Meg.

Tim kami terdiri atas lima orang. Saya hanya kenal Mega saja, sesama teman antro. Dua yang lain temannya Mega, sedang sisanya adalah temannya teman Mega (nah lho bingung). Masing-masing menempati posisi sebagai produser, sutradara, kameramen, penulis naskah, dan editor. Sementara untuk talent, kami masih perlu mencari lagi di luar tim inti. Kami punya waktu sebulan sejak tim terbentuk sampai dengan batas pengumpulan karya. Sebulan yang rasanya berlalu dengan sangaaaat cepat, karena kami harus menyesuaikan kegiatan ini dengan jadwal masing-masing. Kamu tahu proses apa yang memakan waktu paling lama? Well, penentuan ide dan alur cerita!

Kami berpikir keras bagaimana caranya menyesuaikan kemampuan kami dengan tetap menggarap ide yang sesuai tema. Itu membuat kami berulang kali ganti ide cerita dan mengakibatkan penulisan naskah plus penentuan talent tersendat. Karena terbentur masalah jadwal juga, kami nekat melakukan syuting tiga hari sebelum deadline. Alhasil, mendekati deadline, makin kalang kabut-lah kami, terutama saya dan Mega.


Sukaaaa bikin naskah :")

Dua malam yang lalu, saya dikabari Mega sang produser kalau film pendek kami lolos tiga besar!

Tanggapan saya ketika menerima kabar itu: jurinya nggak salah tuh?

Rasanya setengah percaya, film pendek garapan kami yang dikirim mepet deadline bisa kecantol sebagai finalis. Pasalnya, kami mengalami banyaaaaak kendala selama proses penggarapannya, baik saat produksi maupun pasca-produksi. Beberapa hari menjelang syuting, kameramen kami tiba-tiba bilang tidak bisa ikut -- padahal kami sangat mengandalkan dia. Tentu saja kami kelabakan mencari penggantinya. Meskipun toh kami mendapatkan pengganti, tapi kameramen pengganti ini juga hasil dari cari-cari kenalan, alias merupakan orang asing bagi kami (dan kami juga asing bagi dia). Orangnya pendiam, sehingga jujur saja kami agak susah berkoordinasi dengannya.

Cuaca yang kurang bersahabat saat syuting turut mempengaruhi mood kami, termasuk para talent. Ditambah lagi, proses editing yang harusnya ditangani oleh editor (ya iyalah) justru diselesaikan oleh yang kurang ahli di bidangnya.... Siapa? Saya dan Mega HAHAHAHA. Saya dan Mega kan awam sekali kalau disuruh pegang aplikasi video editor, bagaimanalah hendak menghasilkan output yang brilian :( sementara editor kami malah melenggang entah ke mana. Sedih sedih sebaaaal!

Karena mengikuti semuanya dari awal sampai akhir -- hingga keping VCD berisi film pendek kami diposkan ke panitia, saya dan Mega tahu pasti: film pendek garapan kami ini kurang optimal. Makanya, saya pribadi kaget sekaligus senang karena ternyata juri menempatkan karya kami di urutan ketiga di antara semua karya yang masuk. Saya tidak akan bilang "cuma nomor tiga, sih," karena YAH kan sudah diceritain kalau rasanya kami sudah hopeless ini karya nggak bakal dilirik saking "seadanya." :((

Mega dan Afif berangkat mewakili tim kami ke Solo, tepatnya ke UNS sebagai penyelenggara kompetisi, untuk memenuhi undangan sebagai finalis. Di sana diadakan talkshow sebagai acara puncak dari Sebelas Maret Education Fair, serta pengumuman dan pemberian hadiah kepada pemenang dari beberapa cabang kompetisi. Kata Mega, jurinya bilang kalau yang dinilai dari kompetisi film pendek ini adalah kemurnian ide dan korelasinya dengan isu terkini. Film kami yang mengangkat realitas remaja masa kini semakin abai dengan lingkungan pun dianggap sesuai dengan tema. Tapi, untuk teknisnya, film kami memang masih banyak kekurangan, terutama dari segi sound (ini gara-gara perangkat audio yang dibawa kameramen pengganti kami nggak berfungsi waktu syuting). Juri juga menyinggung kurangnya perkenalan tokoh di awal film, sesuatu yang kami sangka justru tidak perlu dibuat gamblang. Hmm beda persepsi :)))))


Akhirnya, ada nama saya tercetak di lembar sertifikat lagi, setelah sekian lama...

Hewww :") sudah lama saya tidak mendapat penghargaan atas sesuatu yang saya lakukan. Bukan penghargaan dalam arti orang menerima diri saya apa adanya (halah), melainkan reward karena saya sudah berusaha mencapai target tertentu. Tetapi, di samping reward, ada yang menurut saya lebih penting: pengalaman. Banyak pelajaran yang saya ambil dari pengalaman yang singkat ini. Tak hanya soal proses produksi film (meskipun saya memang jadi tertarik ke arah situ), tapi juga bagaimana bekerjasama dengan orang yang baru kita kenal, serta berkompromi dengan karakter mereka yang macam-macam.

Kalau mau lihat garapan kami, ada di Youtube kok... linknya... eh... kasih lihat nggak, ya? Kan sudah dibilangin kalau kami sendiri kurang puas dengan hasilnya... hehehe search aja ya, judulnya Bagas Jadi Bagus. :)))

À plus tard!


Posted in , , , , , | 1 Comment

Sepintas raut sedih

Dia selalu melihat sepintas ke arahku setiap kali kami berpapasan. Aku tahu, karena aku mengikuti sosoknya dari ujung mata, bahkan sejak dia masih berjarak jauh dariku. Raut sedih itu! Raut sedih yang selalu terpasang di wajahnya, membuat aku ingin tanya mengapa.

Di waktu lain, saat dia bermaksud menghampiri teman di sebelahku, lagi-lagi dia melirikku sekilas. Aku pura-pura tidak melihat. Buat apa? Aku tidak pernah punya kepentingan untuk bicara dengannya. Dia juga tidak pernah mengajakku bicara. Sepertinya dia mengira aku orang yang dingin. Karena itu dia melempar tatapan heran ketika melihatku tertawa-tawa di tengah teman-temanku. Tuh kan, dia mengawasiku lagi. Aku tahu! Lagipula buat apa dia terheran-heran? Watakku santai saja, hanya kepadanya aku bersikap kaku. Gara-gara raut sedih di wajahnya itu!

Tidak mungkin kan aku serta-merta menujunya lalu bertanya, "kenapa sih kamu selalu bertampang kuyu?" -- celakanya, aku akan langsung menyambung sendiri kalimatku, "aku tidak suka melihat orang berwajah sendu! Membuatku jadi ingin menghiburmu!"

Kemudian dia jadi tahu kalau selama ini aku memperhatikannya, melebihi dia yang sering melihat sepintas ke arahku.

Posted in , , , , | Leave a comment

Jalanan sehabis hujan

Credit pic here

Saya sudah pernah bilang belum, kalau saya sangat suka
jalanan kota malam-malam sehabis hujan?

Kalau belum, mari saya ceritakan.

Saya sangat suka jalanan kota malam-malam sehabis hujan.

Saat yang ditunggu reda akhirnya reda, sehingga kita tidak perlu pakai jas plastik buat melindungi badan. Jas plastik dan lambaiannya yang heboh sepanjang jalan! Aduh, repot sekali, takut keserimpet ruji. Kecuali kalau jas hujannya satu stel atasan dan bawahan, nah itu ringkas, tapi jadi masalah juga kalau hari itu kamu pakai rok panjang.

Saya suka bayangan lampu lalu lintas terpantul di aspal basah. Menjadikan abu-abu gelap membias hijau, oranye, dan merah. Saya suka merah! Tapi tentu saja lebih suka ungu. Sayangnya lampu lalu lintas tidak ada yang ungu. Rasanya ingin memandangi aspal saja kalau penuh warna begitu.

Sehabis hujan malam-malam, banyak yang bikin repot juga.
Jalanan kota jadi licin. Harus hati-hati betul kalau mau berbelok apalagi menikung tajam. Takut tergelincir! Belum lagi kalau lewat genangan air. Saya suka mengangkat kedua kaki dari pijakan, supaya sepatu tidak kecipratan air dari genangan. Susahnya kalau diciprati orang. Ban mereka menggilas genangan dengan garang, pas di samping kita! Betapa menyebalkan. Oiya, malam-malam sehabis hujan udaranya dingin. Jadi harus sedia jaket tebal. Pasalnya saya gampang masuk angin.

Jadi, sebenarnya.. saya suka jalanan kota malam-malam sehabis hujan atau tidak?

Ya, tetap suka! Meski banyak wanti-wantinya. Sayangnya menikmati jalanan kota malam-malam sehabis hujannya masih sendirian saja. Belum ada yang memboncengkan di jok depan sepeda motor, apalagi tiba-tiba mengajak mampir sebentar ke warung kopi. Lho lho lho. He he he.



Posted in , , , , , | 1 Comment

Tergantung Diksi

Katanya sih tidak ada yang namanya kebetulan. Saya disuruh percaya, semua sudah diatur sama Sang Pembuat Rencana, sampai serinci-rincinya. Alias sudah takdir. Tapi soal ini? Saya kan tidak punya kosakata lain selain ke-be-tul-an? Habisnya, kalau menyebut takdir, aduuuuh rasanya kok belum pantas. Ini terlalu seperti kisah lucu dan menggelikan. Rasanya sangat ingin terkikik tapi kalau dipikir ya tidak jadi lucu. Remeh ternyata. Menjurus ke miris. Ketawa-ketawa miris ada juga kan? Itu, ketawa yang membuat orang jadi prihatin.

{Tapi, Tuhan-----
nggak apa-apa lho kalau memang ini takdir! Sungguh, saya terima.}

Posted in , , , , , | Leave a comment

Pulang Malam

Pic from here
Jam di kamar saya menunjukkan pukul duabelas tengah malam ketika saya tiba di rumah (jam di ruang tengah mati dan itu sangat mengganggu, soalnya jam itu paling sering saya dan adik kerling, kami kan sering tidur di kasur depan televisi). Hmm, sudah lama saya tidak pulang selarut ini. Selain karena sudah jarang ada kumpul yang sampai larut malam, memang karena saya sendiri membatasi diri supaya tidak terlalu sering ninggal adik di rumah. Habisnya, saya sadar kalau frekuensi ketemu kami di hari sekolah/kuliah sudah minim banget. Kalau ditambah saya pergi dari isya sampai malam, kasihan aja dia nggak ada teman ngobrol di rumah.

Belakangan, ada kumpulan baru yang kalau gelar "rapat" tuh pasti sampai malam. Minimal jam sepuluh, dan puncaknya ya hari ini, jam setengah dua belasan baru selesai bahas-bahas (itu pun gara-gara mentok ide, sudah nggak bisa mikir, jadi ya disudahi dulu ajalah toh sudah ketemu grand design-nya). Saya yang beberapa hari ini lagi batuk dan kumat demam pusing tiap malam awalnya menawarkan buat pada ke rumah aja. Tapi karena suatu alasan, teman-teman nggak jadi ke rumah dan kami ketemu di luar seperti biasa (silakan bayangkan gaya nongkrong saya sama teman-teman, apakah hedon atau gimana hahaha).

Jam 22.00-an, teman saya ada yang tanya, "Ini kamu nggak apa-apa pulang malam?" (Saya lupa siapa yang tanya, pokoknya kami baru kenal dalam penggarapan proyek ini.)

Saya menjawab singkat, "Nggak pa-pa."

Teman saya yang satunya, yang sejurusan dengan saya menimpali, ikut meng-iya-kan kalau saya santai aja keluar sampai malam.

"Ya maksudnya, orang rumahmu gimana kalau kamu pulang malam-malam, orangtuamu gitu.." tambah si teman pertama tadi.

Saya sok sibuk mencari-cari kunci motor di tas (tanpa ingat kalau sebelumnya kunci saya sudah tak kalungkan di leher! huft), lalu kembali menjawab singkat, "Nggak pa-pa deh, pokoknya."

Teman saya yang bertanya (atau yang satunya ya?) cuma ketawa dan teman satunya bilang dia ingin pakai motor pitung saya, sehingga perhatian kami teralih. Teman yang sejurusan sama saya juga posisinya sudah misah jadi sudah nggak terlibat dalam pembicaraan, untuk sekadar melihat air muka saya yang saya jamin, pada detik itu seketika sendu (halah). Btw ceritanya itu kami "diusir" dari tempat kami bercokol yang pertama karena tempat itu tutup pukul 10 malam -- lalu kami pindah ke lokasi kedua karena memang pembahasan belum selesai, mau gimana dong.

Besok ketika ada waktu, mungkin ini yang akan saya sampaikan ke teman sejurusan saya, yang dalam hal ini sudah lebih mengenal saya: Entah mengapa saya tidak suka proses memberi tahu orang fakta bahwa di rumah, saya tidak punya orangtua yang memegang fungsi kontrol. Tak ada yang mengontrol jam bangun tidur saya, memantau kedisiplinan saya dalam melakukan pekerjaan rumah, termasuk memastikan saya tidak melaggar jam malam tiap kumpul dengan teman. Dalam keseharian saya, sudah tak ada lagi aturan tidak tertulis yang ditetapkan dan diawasi oleh lembaga orangtua, sejak 5 bulan lalu. Aturan dalam keluarga kini dibuat bersama oleh saya dan adik, sedang fungsi kontrol berjalan hanya dengan berpegang pada kesadaran kami sendiri untuk menepati aturan itu (aturan di sini maksudnya sesederhana siapa bangun duluan dia masak nasi, dalam sehari minimal rumah disapu dua kali, dsb. Adik saya bahkan tidak "mengatur" jam malam saya, padahal dia bisa dan berhak melakukannya. Tapi ya itu tadi, saya sendiri yang ingin "menyediakan diri" ada untuknya).

Saya hanya.. tidak begitu yakin akan sepersekian detik setelah orang yang tadinya tidak tahu kalau saya yatim-piatu, jadi mengetahuinya... Sejauh mana lawan bicara saya menangkap arti dari "tidak ada orangtua di rumah, karena keduanya sudah berpulang"? Apakah artinya bagi lawan bicara adalah rasa prihatin? Ataukah mereka mengartikan kami hidup bebas? Atau sampai pada pertanyaan bagaimana kami bertahan hidup? Bahkan jika lawan bicara ini langsung memikirkan banyak hal sekaligus ketika menerima informasi saya, saya makin tidak suka sepersekian detik momentum itu.

Ketika saya sempat menawari mereka untuk main ke rumah saya saja, saya pun sudah berpikir sampai ke situ. Dengan berada di rumah saya, berarti mau tidak mau saya harus mengatakan hal yang prosesnya tidak saya suka itu. Tapi berhubung nggak jadi, dan sewaktu tanya tentang orangtua juga unggak mendesak, ya sudah deh saya belum perlu menjalankan proses itu. Saya kenapa ya? Apakah ini sindrom tidak-ingin-dianggap-berbeda?

Saya jadi ingin mencari teman yang tidak beda. Yang juga tidak punya orangtua. Supaya bisa ngobrol dan membicarakan, rasa ini apa namanya.

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Agak menyinggung gender

Apa karena dia lelaki, sedang saya perempuan, maka saya lebih bebas menumpahkan keluh-kesah, sedang dia harus menahannya susah-payah? Apa karena dia lelaki, sedang saya perempuan, maka dia merasa perlu menggunakan semua analogi itu untuk menutupi duka hatinya, sedang saya hanya tinggal menuliskan di blog ini, saya sedih tak terkira? -- dan yang membaca maklum saja. Yang membaca manggut saja, seolah sudah sewajarnya perempuan berhati lemah (ewww?!).

Kadang, saya nggak paham.

------------------
*ditulis usai membaca sebuah laman milik seorang kawan, laman yang baru saya temukan, dan isinya... HUAAAA ternyata dia sudah menulis banyak. Dia, kawan yang saya idolakan sejak SMA.
 

Posted in , , | Leave a comment

please just skip. no need to read even a word.

Hidupku aneh banget, deh. Seaneh bangun jam 2.37 dini hari dan mengecek sesuatu di ponsel yang langsung membuat perasaan-perasaan asing itu kembali bermunculan. Katanya sudah mau memaafkan, tapi gak tahu ya kenapa di sisi lain rasanya masih aneh. Seperti melihat bagian dari masa lalu yang terseret-seret ke sana ke mari mengikuti gurat-gurat waktu, tapi dianya sendiri tuh gak hidup di masa yang dinamis itu. Karena dirinya terlanjur mengikatkan diri pada sesuatu yang terlambat disadari. Karena dirinya juga penuh ketidaktahuan, sedangkan aku, yang tahu sebuah kenyataan, seakan-akan tidak berwenang bilang yang sebenarnya ke dia. Berarti aku membiarkan dia dengan kesimpulannya yang melenceng, dong? Ya sih, mirip-mirip begitu. Habisnya aku gak sampai hati membuatnya terpuruk. Padahal dia pernah bikin aku terpuruk. Aku pernah dibuat merasakan hal yang tidak adil. Aku, sejak dulu ternyata memang sudah sering mikir, hidupku aneh sekali. Sudah kucoba berlapang hati. Tapi itu susah banget gila?! Segila kucing di rumahku yang sering lari-lari di atap asbes. Bikin pusing karena berisik dan membuatku cemas bagaimana kalau atapnya jebol. Sama seperti dia yang intervensinya membuatku cemas, bagaimana kalau hatiku tak bisa menjadi lapang dan justru malah dibuatnya berlubang. Karena dia, dia pernah punya tempat di masa laluku... aneh! Aneh! Dan kalau misalnya aku tau hidupku ini aneh, kenapa aku gak bobok saja dengan enaknya tanpa harus membuat catatan tanpa makna????

Note: ini bukan post galau, please. 'Dia' yang kusebut-sebut dalam post ini bukan berjenis kelamin laki-laki. Dia seorang dari masa lalu (seperti sudah kubilang), ibu-ibu yang nyaris jadi ibu tiriku. 

Posted in , , , | Leave a comment

Lara yang sama

Dua malam lalu.

Saya melihat postingan di Instagram dan berkaca-kaca membaca keterangan di bawahnya. Ada sesak yang menyergap tanpa diminta, hingga saya merasa perlu menghubungi si pemosting foto supaya dia tahu kalau di dunia ini ada yang merasakan sama.

Pukul delapan lebih sedikit.

Dia muncul di pintu rumah dan langsung memeluk saya sambil sesenggukan. Saya, yang tangisnya sudah tadi-tadi, jadi jebol kembali. Tapi sebentar saja. Saya merangkul dia dan membawanya duduk di sofa. Membiarkannya melanjutkan melepas lara.

Bertanya pada yang mengantar, "Begini terus di jalan, mas?" -- Ya, jawab si mas.

Tangan kanan saya mengusap-usap bahu dia. Tangan kiri saya mengusap mata saya. "Habis dari mana, mbak?" saya coba memutus dukanya -- namun agaknya ia belum sanggup. "Dari kos? Atau kampus?"

Perempuan itu masih menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Saya ambilkan segelas air putih dari belakang, menaruhnya di meja. Dan saya menunggu, sambil berdoa semoga tidak ikut-ikutan sesenggukan (saya gampang sekali mewek, tahu). Ada sekitar tiga menit sampai akhirnya dia membisikkan istighfar, pelan-pelan menyurutkan tangis, lalu berucap, "Nggak tahu kenapa, pokoknya tadi habis maghrib aku keinget dia, kangeeen banget, jadi malah keterusan gak bisa berhenti. Maaf ya, Cha."

Maka mengalirlah cerita-cerita di antara kami yang bermuara pada kerinduan yang sama: sosok ayahanda.

Mbak Yuli di acara Stasiun Nol-nya ASC, 23-25 Sept 2016
Mbak Yuli... terima kasih telah menjadi orang yang selalu mendoakan bapak. Terima kasih telah begitu menghormati bapak layaknya ayah sendiri. Berbulan-bulan lalu, mbak banyak mengorbankan waktu dan tenaga untuk bergantian menjaga bapak di rumah sakit (yang selalu mbak tanggapi dengan, ah, bukan apa-apa). Mbak bilang, bapak sudah memberi banyak pelajaran berharga. Bahwa aktivitas pencinta alam sama sekali tidak untuk memenuhi tuntutan gaya saja. Bahwa hal-hal kecil dari alam bisa mempertajam kebijaksanaan manusia. Hingga sekarang, kesedihan mbak di malam buta mungkin sama seperti kesedihan keluarga. Rasa kehilangan mbak persis sama seperti yang mendera hati kami, ketiga putrinya. 

Perempuan itu -- berdarah Sunda, satu tahun di atas saya, berliku jalan hidupnya -- membuat saya bersyukur pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Sekaligus menjadikan saya menyesal, mengapa di tahun-tahun terakhir bapak justru saya tak terlalu sering menghabiskan waktu dengan bapak.



Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.