Iseng-iseng berhadiah!

Kalau kamu baca postingan ini, kamu akan tahu kalau beberapa waktu lalu saya punya kumpulan teman yang sering gelar rapat hingga larut malam. Actually, apa yang kami bahas dalam rapat-rapat tidak efektif itu adalah sebuah proyek: short movie competition. Ini kali kedua saya mengikuti kompetisi semacam ini. Mega yang mengajak saya bergabung dalam tim bentukannya; saya sendiri sempat heran -- sejak kapan Mega doyan ublek-ublek dunia perfilman? Tapi toh saya setuju untuk bergabung, dengan posisi sebagai penulis naskah. Kata dia, motivasinya ya coba-coba saja, ingin punya pengalaman bikin film. Oke sip, Meg.

Tim kami terdiri atas lima orang. Saya hanya kenal Mega saja, sesama teman antro. Dua yang lain temannya Mega, sedang sisanya adalah temannya teman Mega (nah lho bingung). Masing-masing menempati posisi sebagai produser, sutradara, kameramen, penulis naskah, dan editor. Sementara untuk talent, kami masih perlu mencari lagi di luar tim inti. Kami punya waktu sebulan sejak tim terbentuk sampai dengan batas pengumpulan karya. Sebulan yang rasanya berlalu dengan sangaaaat cepat, karena kami harus menyesuaikan kegiatan ini dengan jadwal masing-masing. Kamu tahu proses apa yang memakan waktu paling lama? Well, penentuan ide dan alur cerita!

Kami berpikir keras bagaimana caranya menyesuaikan kemampuan kami dengan tetap menggarap ide yang sesuai tema. Itu membuat kami berulang kali ganti ide cerita dan mengakibatkan penulisan naskah plus penentuan talent tersendat. Karena terbentur masalah jadwal juga, kami nekat melakukan syuting tiga hari sebelum deadline. Alhasil, mendekati deadline, makin kalang kabut-lah kami, terutama saya dan Mega.


Sukaaaa bikin naskah :")

Dua malam yang lalu, saya dikabari Mega sang produser kalau film pendek kami lolos tiga besar!

Tanggapan saya ketika menerima kabar itu: jurinya nggak salah tuh?

Rasanya setengah percaya, film pendek garapan kami yang dikirim mepet deadline bisa kecantol sebagai finalis. Pasalnya, kami mengalami banyaaaaak kendala selama proses penggarapannya, baik saat produksi maupun pasca-produksi. Beberapa hari menjelang syuting, kameramen kami tiba-tiba bilang tidak bisa ikut -- padahal kami sangat mengandalkan dia. Tentu saja kami kelabakan mencari penggantinya. Meskipun toh kami mendapatkan pengganti, tapi kameramen pengganti ini juga hasil dari cari-cari kenalan, alias merupakan orang asing bagi kami (dan kami juga asing bagi dia). Orangnya pendiam, sehingga jujur saja kami agak susah berkoordinasi dengannya.

Cuaca yang kurang bersahabat saat syuting turut mempengaruhi mood kami, termasuk para talent. Ditambah lagi, proses editing yang harusnya ditangani oleh editor (ya iyalah) justru diselesaikan oleh yang kurang ahli di bidangnya.... Siapa? Saya dan Mega HAHAHAHA. Saya dan Mega kan awam sekali kalau disuruh pegang aplikasi video editor, bagaimanalah hendak menghasilkan output yang brilian :( sementara editor kami malah melenggang entah ke mana. Sedih sedih sebaaaal!

Karena mengikuti semuanya dari awal sampai akhir -- hingga keping VCD berisi film pendek kami diposkan ke panitia, saya dan Mega tahu pasti: film pendek garapan kami ini kurang optimal. Makanya, saya pribadi kaget sekaligus senang karena ternyata juri menempatkan karya kami di urutan ketiga di antara semua karya yang masuk. Saya tidak akan bilang "cuma nomor tiga, sih," karena YAH kan sudah diceritain kalau rasanya kami sudah hopeless ini karya nggak bakal dilirik saking "seadanya." :((

Mega dan Afif berangkat mewakili tim kami ke Solo, tepatnya ke UNS sebagai penyelenggara kompetisi, untuk memenuhi undangan sebagai finalis. Di sana diadakan talkshow sebagai acara puncak dari Sebelas Maret Education Fair, serta pengumuman dan pemberian hadiah kepada pemenang dari beberapa cabang kompetisi. Kata Mega, jurinya bilang kalau yang dinilai dari kompetisi film pendek ini adalah kemurnian ide dan korelasinya dengan isu terkini. Film kami yang mengangkat realitas remaja masa kini semakin abai dengan lingkungan pun dianggap sesuai dengan tema. Tapi, untuk teknisnya, film kami memang masih banyak kekurangan, terutama dari segi sound (ini gara-gara perangkat audio yang dibawa kameramen pengganti kami nggak berfungsi waktu syuting). Juri juga menyinggung kurangnya perkenalan tokoh di awal film, sesuatu yang kami sangka justru tidak perlu dibuat gamblang. Hmm beda persepsi :)))))


Akhirnya, ada nama saya tercetak di lembar sertifikat lagi, setelah sekian lama...

Hewww :") sudah lama saya tidak mendapat penghargaan atas sesuatu yang saya lakukan. Bukan penghargaan dalam arti orang menerima diri saya apa adanya (halah), melainkan reward karena saya sudah berusaha mencapai target tertentu. Tetapi, di samping reward, ada yang menurut saya lebih penting: pengalaman. Banyak pelajaran yang saya ambil dari pengalaman yang singkat ini. Tak hanya soal proses produksi film (meskipun saya memang jadi tertarik ke arah situ), tapi juga bagaimana bekerjasama dengan orang yang baru kita kenal, serta berkompromi dengan karakter mereka yang macam-macam.

Kalau mau lihat garapan kami, ada di Youtube kok... linknya... eh... kasih lihat nggak, ya? Kan sudah dibilangin kalau kami sendiri kurang puas dengan hasilnya... hehehe search aja ya, judulnya Bagas Jadi Bagus. :)))

À plus tard!


Posted in , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

One Response to Iseng-iseng berhadiah!

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.