Jalanan sehabis hujan

Credit pic here

Saya sudah pernah bilang belum, kalau saya sangat suka
jalanan kota malam-malam sehabis hujan?

Kalau belum, mari saya ceritakan.

Saya sangat suka jalanan kota malam-malam sehabis hujan.

Saat yang ditunggu reda akhirnya reda, sehingga kita tidak perlu pakai jas plastik buat melindungi badan. Jas plastik dan lambaiannya yang heboh sepanjang jalan! Aduh, repot sekali, takut keserimpet ruji. Kecuali kalau jas hujannya satu stel atasan dan bawahan, nah itu ringkas, tapi jadi masalah juga kalau hari itu kamu pakai rok panjang.

Saya suka bayangan lampu lalu lintas terpantul di aspal basah. Menjadikan abu-abu gelap membias hijau, oranye, dan merah. Saya suka merah! Tapi tentu saja lebih suka ungu. Sayangnya lampu lalu lintas tidak ada yang ungu. Rasanya ingin memandangi aspal saja kalau penuh warna begitu.

Sehabis hujan malam-malam, banyak yang bikin repot juga.
Jalanan kota jadi licin. Harus hati-hati betul kalau mau berbelok apalagi menikung tajam. Takut tergelincir! Belum lagi kalau lewat genangan air. Saya suka mengangkat kedua kaki dari pijakan, supaya sepatu tidak kecipratan air dari genangan. Susahnya kalau diciprati orang. Ban mereka menggilas genangan dengan garang, pas di samping kita! Betapa menyebalkan. Oiya, malam-malam sehabis hujan udaranya dingin. Jadi harus sedia jaket tebal. Pasalnya saya gampang masuk angin.

Jadi, sebenarnya.. saya suka jalanan kota malam-malam sehabis hujan atau tidak?

Ya, tetap suka! Meski banyak wanti-wantinya. Sayangnya menikmati jalanan kota malam-malam sehabis hujannya masih sendirian saja. Belum ada yang memboncengkan di jok depan sepeda motor, apalagi tiba-tiba mengajak mampir sebentar ke warung kopi. Lho lho lho. He he he.



Posted in , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

One Response to Jalanan sehabis hujan

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.