Lara yang sama

Dua malam lalu.

Saya melihat postingan di Instagram dan berkaca-kaca membaca keterangan di bawahnya. Ada sesak yang menyergap tanpa diminta, hingga saya merasa perlu menghubungi si pemosting foto supaya dia tahu kalau di dunia ini ada yang merasakan sama.

Pukul delapan lebih sedikit.

Dia muncul di pintu rumah dan langsung memeluk saya sambil sesenggukan. Saya, yang tangisnya sudah tadi-tadi, jadi jebol kembali. Tapi sebentar saja. Saya merangkul dia dan membawanya duduk di sofa. Membiarkannya melanjutkan melepas lara.

Bertanya pada yang mengantar, "Begini terus di jalan, mas?" -- Ya, jawab si mas.

Tangan kanan saya mengusap-usap bahu dia. Tangan kiri saya mengusap mata saya. "Habis dari mana, mbak?" saya coba memutus dukanya -- namun agaknya ia belum sanggup. "Dari kos? Atau kampus?"

Perempuan itu masih menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Saya ambilkan segelas air putih dari belakang, menaruhnya di meja. Dan saya menunggu, sambil berdoa semoga tidak ikut-ikutan sesenggukan (saya gampang sekali mewek, tahu). Ada sekitar tiga menit sampai akhirnya dia membisikkan istighfar, pelan-pelan menyurutkan tangis, lalu berucap, "Nggak tahu kenapa, pokoknya tadi habis maghrib aku keinget dia, kangeeen banget, jadi malah keterusan gak bisa berhenti. Maaf ya, Cha."

Maka mengalirlah cerita-cerita di antara kami yang bermuara pada kerinduan yang sama: sosok ayahanda.

Mbak Yuli di acara Stasiun Nol-nya ASC, 23-25 Sept 2016
Mbak Yuli... terima kasih telah menjadi orang yang selalu mendoakan bapak. Terima kasih telah begitu menghormati bapak layaknya ayah sendiri. Berbulan-bulan lalu, mbak banyak mengorbankan waktu dan tenaga untuk bergantian menjaga bapak di rumah sakit (yang selalu mbak tanggapi dengan, ah, bukan apa-apa). Mbak bilang, bapak sudah memberi banyak pelajaran berharga. Bahwa aktivitas pencinta alam sama sekali tidak untuk memenuhi tuntutan gaya saja. Bahwa hal-hal kecil dari alam bisa mempertajam kebijaksanaan manusia. Hingga sekarang, kesedihan mbak di malam buta mungkin sama seperti kesedihan keluarga. Rasa kehilangan mbak persis sama seperti yang mendera hati kami, ketiga putrinya. 

Perempuan itu -- berdarah Sunda, satu tahun di atas saya, berliku jalan hidupnya -- membuat saya bersyukur pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Sekaligus menjadikan saya menyesal, mengapa di tahun-tahun terakhir bapak justru saya tak terlalu sering menghabiskan waktu dengan bapak.



Posted in , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.