Pulang Malam

Pic from here
Jam di kamar saya menunjukkan pukul duabelas tengah malam ketika saya tiba di rumah (jam di ruang tengah mati dan itu sangat mengganggu, soalnya jam itu paling sering saya dan adik kerling, kami kan sering tidur di kasur depan televisi). Hmm, sudah lama saya tidak pulang selarut ini. Selain karena sudah jarang ada kumpul yang sampai larut malam, memang karena saya sendiri membatasi diri supaya tidak terlalu sering ninggal adik di rumah. Habisnya, saya sadar kalau frekuensi ketemu kami di hari sekolah/kuliah sudah minim banget. Kalau ditambah saya pergi dari isya sampai malam, kasihan aja dia nggak ada teman ngobrol di rumah.

Belakangan, ada kumpulan baru yang kalau gelar "rapat" tuh pasti sampai malam. Minimal jam sepuluh, dan puncaknya ya hari ini, jam setengah dua belasan baru selesai bahas-bahas (itu pun gara-gara mentok ide, sudah nggak bisa mikir, jadi ya disudahi dulu ajalah toh sudah ketemu grand design-nya). Saya yang beberapa hari ini lagi batuk dan kumat demam pusing tiap malam awalnya menawarkan buat pada ke rumah aja. Tapi karena suatu alasan, teman-teman nggak jadi ke rumah dan kami ketemu di luar seperti biasa (silakan bayangkan gaya nongkrong saya sama teman-teman, apakah hedon atau gimana hahaha).

Jam 22.00-an, teman saya ada yang tanya, "Ini kamu nggak apa-apa pulang malam?" (Saya lupa siapa yang tanya, pokoknya kami baru kenal dalam penggarapan proyek ini.)

Saya menjawab singkat, "Nggak pa-pa."

Teman saya yang satunya, yang sejurusan dengan saya menimpali, ikut meng-iya-kan kalau saya santai aja keluar sampai malam.

"Ya maksudnya, orang rumahmu gimana kalau kamu pulang malam-malam, orangtuamu gitu.." tambah si teman pertama tadi.

Saya sok sibuk mencari-cari kunci motor di tas (tanpa ingat kalau sebelumnya kunci saya sudah tak kalungkan di leher! huft), lalu kembali menjawab singkat, "Nggak pa-pa deh, pokoknya."

Teman saya yang bertanya (atau yang satunya ya?) cuma ketawa dan teman satunya bilang dia ingin pakai motor pitung saya, sehingga perhatian kami teralih. Teman yang sejurusan sama saya juga posisinya sudah misah jadi sudah nggak terlibat dalam pembicaraan, untuk sekadar melihat air muka saya yang saya jamin, pada detik itu seketika sendu (halah). Btw ceritanya itu kami "diusir" dari tempat kami bercokol yang pertama karena tempat itu tutup pukul 10 malam -- lalu kami pindah ke lokasi kedua karena memang pembahasan belum selesai, mau gimana dong.

Besok ketika ada waktu, mungkin ini yang akan saya sampaikan ke teman sejurusan saya, yang dalam hal ini sudah lebih mengenal saya: Entah mengapa saya tidak suka proses memberi tahu orang fakta bahwa di rumah, saya tidak punya orangtua yang memegang fungsi kontrol. Tak ada yang mengontrol jam bangun tidur saya, memantau kedisiplinan saya dalam melakukan pekerjaan rumah, termasuk memastikan saya tidak melaggar jam malam tiap kumpul dengan teman. Dalam keseharian saya, sudah tak ada lagi aturan tidak tertulis yang ditetapkan dan diawasi oleh lembaga orangtua, sejak 5 bulan lalu. Aturan dalam keluarga kini dibuat bersama oleh saya dan adik, sedang fungsi kontrol berjalan hanya dengan berpegang pada kesadaran kami sendiri untuk menepati aturan itu (aturan di sini maksudnya sesederhana siapa bangun duluan dia masak nasi, dalam sehari minimal rumah disapu dua kali, dsb. Adik saya bahkan tidak "mengatur" jam malam saya, padahal dia bisa dan berhak melakukannya. Tapi ya itu tadi, saya sendiri yang ingin "menyediakan diri" ada untuknya).

Saya hanya.. tidak begitu yakin akan sepersekian detik setelah orang yang tadinya tidak tahu kalau saya yatim-piatu, jadi mengetahuinya... Sejauh mana lawan bicara saya menangkap arti dari "tidak ada orangtua di rumah, karena keduanya sudah berpulang"? Apakah artinya bagi lawan bicara adalah rasa prihatin? Ataukah mereka mengartikan kami hidup bebas? Atau sampai pada pertanyaan bagaimana kami bertahan hidup? Bahkan jika lawan bicara ini langsung memikirkan banyak hal sekaligus ketika menerima informasi saya, saya makin tidak suka sepersekian detik momentum itu.

Ketika saya sempat menawari mereka untuk main ke rumah saya saja, saya pun sudah berpikir sampai ke situ. Dengan berada di rumah saya, berarti mau tidak mau saya harus mengatakan hal yang prosesnya tidak saya suka itu. Tapi berhubung nggak jadi, dan sewaktu tanya tentang orangtua juga unggak mendesak, ya sudah deh saya belum perlu menjalankan proses itu. Saya kenapa ya? Apakah ini sindrom tidak-ingin-dianggap-berbeda?

Saya jadi ingin mencari teman yang tidak beda. Yang juga tidak punya orangtua. Supaya bisa ngobrol dan membicarakan, rasa ini apa namanya.

Posted in , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.