Sepintas raut sedih

Dia selalu melihat sepintas ke arahku setiap kali kami berpapasan. Aku tahu, karena aku mengikuti sosoknya dari ujung mata, bahkan sejak dia masih berjarak jauh dariku. Raut sedih itu! Raut sedih yang selalu terpasang di wajahnya, membuat aku ingin tanya mengapa.

Di waktu lain, saat dia bermaksud menghampiri teman di sebelahku, lagi-lagi dia melirikku sekilas. Aku pura-pura tidak melihat. Buat apa? Aku tidak pernah punya kepentingan untuk bicara dengannya. Dia juga tidak pernah mengajakku bicara. Sepertinya dia mengira aku orang yang dingin. Karena itu dia melempar tatapan heran ketika melihatku tertawa-tawa di tengah teman-temanku. Tuh kan, dia mengawasiku lagi. Aku tahu! Lagipula buat apa dia terheran-heran? Watakku santai saja, hanya kepadanya aku bersikap kaku. Gara-gara raut sedih di wajahnya itu!

Tidak mungkin kan aku serta-merta menujunya lalu bertanya, "kenapa sih kamu selalu bertampang kuyu?" -- celakanya, aku akan langsung menyambung sendiri kalimatku, "aku tidak suka melihat orang berwajah sendu! Membuatku jadi ingin menghiburmu!"

Kemudian dia jadi tahu kalau selama ini aku memperhatikannya, melebihi dia yang sering melihat sepintas ke arahku.

Posted in , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.