Archive for November 2016

Tengok ke dalam dirimu

Setiap kali harus beli makan siang di lingkungan kampus, sebisa mungkin saya mencari warung nasi. Tidak seperti teman-teman yang suka bingung menentukan mau makan mi, bakso, siomay, atau batagor, saya dengan mantap memilih nasi ramesan. Ketika memindai aneka lauk yang disediakan, mata saya akan berbinar jika melihat: ada sayur! Entah itu sayur bening, sop, atau pun sayur asem. Oseng kangkung atau daun kates juga suka, tapi alangkah senang hati saya kalau ada yang berkuah. Saya—suka—sayur!

Siang itu, saya dan Zulva baru selesai membahas kerja kelompok dan berniat cari makan siang. Zulva, sama seperti saya, menganggap nasi sebagai satu-satunya bahan pangan yang memenuhi syarat untuk mengenyangkan perut (halah). Memang dasarnya waktu itu kami sama-sama lapar berat, hahaha. Kami tancap gas mendatangi dua warung nasi langganan yang tak jauh dari kampus, tapi tampaknya waktu itu saya dan Zulva sedang sial: dua-duanya tutup! Bayangan sepiring nasi mengepul dengan lauk nikmat dan segarnya sayur harus menguap dari benak saya.

Dengan kecewa, saya dan Zulva beralih ke menu mi ayam -- di tempat yang rada elit, alias bukan tenda pinggir jalan. Begitu melihat daftar harga, hati kami langsung mencelos. Benar-benar tak sesuai untuk kantong mahasiswa. Tapi kami sudah terlanjur duduk di sana, mau bagaimana lagi, kan? Kami tak habis pikir mengapa dua warung nasi itu memilih tutup hari ini. Jangan-jangan dua-duanya janjian, lagi.

Saya mengobrol dengan Zulva siang itu. Berbagi pandangan tentang hal-hal di sekitar kami. Tentang bagaimana kami mengambil sikap dalam suatu keadaan. Tentang prinsip yang dipegang setiap orang, tapi bisa runtuh karena pengaruh teman.

Saya melihat Zulva sendiri adalah pribadi yang memegang teguh prinsipnya. Tidak, dia tidak keras kepala, meski menurut saya bedanya tipis antara punya prinsip dan keras kepala. Zulva tetap memiliki kepekaan untuk tidak menjadi kepala batu. Dan, meski itu berarti dirinya sering memilih jalan yang beda dari orang kebanyakan, toh ia tidak lantas dikucilkan. Di situlah saya sadar bahwa kita tidak harus selalu mendengarkan komentar orang. Tidak perlu menjadikan orang lain sebagai acuan. Setiap orang berhak menentukan prinsipnya sendiri, tanpa menjadikan dia lebih rendah atau lebih tinggi dari orang lain.

Agak menohok. Saya sendiri merasa belakangan ini saya kehilangan diri saya. Saya telah banyak berubah; pola pikir saya berubah, tapi entah, rasanya saya ingin membela diri bahwa saya masih punya bagian dari Sekar yang lama. Bagian yang timbul-tenggelam dari permukaan, seolah menanti waktu yang tepat untuk tampil ke depan. Mengapa, Sekar? Mengapa harus menunggu? Obrolan dengan Zulva membuat saya kembali percaya, Sekar yang ada di dalam sini tak perlu melihat kembang lain untuk dapat mekar. Sekar punya mahkotanya sendiri, dan dirinyalah yang tahu bagaimana carany mahkota itu mekar sempurna.

yang lembut-lembut bisa jadi baja jika terus ditempa (hehe apa nih maksudnya) | pic from here
 
J'attends une autre le temps de parler avec vous, Zulva!

Posted in , , , , , , , | 5 Comments

Aku kosong

Rumah ini kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong. Tapi ada penghuninya. Tapi kosong, kehilangan nyawa.

Pagi yang kosong setelah ibu pergi, bapak pergi, adik-adikku berangkat sekolah pagi-pagi,

Posted in , , , , , , , , | Leave a comment

Sedih lagi, sedih terus

Kenapa ya, saya masih sering mencari mereka yang tak ada kabarnya, masih sering menunggu celah untuk berjumpa di antara kesibukan mereka yang luar biasa: teman-teman dekat saya semasa SMA. Rasanya makin ke sini mereka semakin jauh, hubungan antara kami kian renggang. Dulu, saya leluasa bercerita pada mereka tentang apa saja, mulai dari hal remeh sampai curhat serius dan minta saran. Sekarang, bahkan ketika saya berada pada titik yang sangat butuh dukungan dari teman-teman, saya sungkan mengatakannya langsung. Seolah-olah tanggapan yang akan saya terima berupa, “berhentilah bersikap cengeng. Kamu merepotkan sekali, kami tak punya waktu mengurusi kamu dan masalahmu.”

Katanya sih, people don’t change, their priorities do. Saya senang mereka sudah menemukan kegiatan untuk menyalurkan minat dan bakat -- tersusun dalam jadwal cukup padat, bersama teman-teman baru. Saya sendiri juga bertemu teman baru yang menyenangkan, meski soal penyaluran minat-bakat, entah, masih saya raba pelan-pelan. Saya bisa melakukan banyak hal dengan teman-teman baru, tapi toh saya tidak berhenti mencari sahabat masa SMA saya. Saya ingin bercerita banyak pada mereka, pun ingin mendengar cerita mereka. Simpelnya, saya merindukan sahabat-sahabat masa SMA saya. Rindu yang sepertinya tidak terbalas.


Mungkin, saya memang tidak pernah cukup penting bagi siapapun untuk dipedulikan. Hah, ini terdengar menyedihkan sekali :( tapi memang betul saat ini saya sedang menyimpan kesedihan yang dalam. Anak adalah prioritas bagi orangtuanya -– ketika orangtuanya tiada, siapa yang memprioritaskan dia?

Posted in , , , , | 1 Comment

Bagaimana saya membuat deskripsi diri

Dulu, saya punya stok frase yang tidak terbatas untuk menjabarkan siapa diri saya. Kini, deskripsi diri yang mampu saya buat hanya,


Sekar:
perempuan yang butuh penanganan ahli jiwa, segera.

Posted in , , , , | Leave a comment

kucingkucingku

kucing-kucing mengeong
meong, meong, meong
kucing berlari
kucing mengejar kucing
di halaman, di dapur, di atas plafon
gedebak gedebuk, plafon jebol

aku dongkol.

kucing-kucing mendengking
eing, eing, eing
kucing mau kawin
kucing menubruk yang mau dikawinin
yang ditubruk menggerung
berisiknya sepanjang malam

aku geram.

kucing-kucing berguling minta dielus
kucing-kucing bergelung tidur di sofa
kucing-kucing mengendus, mata bulat berkilat jenaka
dielus senang, digaruk senang, dikasih makan senang

aku sayang!


credit pic Cristine Cartera Turkus

Kalau di rumah nggak ada Olin dan Olsa, saya pasti kesepian.

Posted in , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.