Makan siang sama Zulva

Setiap kali harus beli makan siang di lingkungan kampus, sebisa mungkin saya mencari warung nasi. Tidak seperti teman-teman yang suka bingung menentukan mau makan mi, bakso, siomay, atau batagor, saya dengan mantap memilih nasi ramesan. Ketika memindai aneka lauk yang disediakan, mata saya akan berbinar jika melihat: ada sayur! Entah itu sayur bening, sop, atau pun sayur asem. Oseng kangkung atau daun kates juga suka, tapi alangkah senang hati saya kalau ada yang berkuah. Saya—suka—sayur!

Siang itu, saya dan Zulva baru selesai membahas kerja kelompok dan berniat cari makan siang. Zulva, sama seperti saya, menganggap nasi sebagai satu-satunya bahan pangan yang memenuhi syarat untuk mengenyangkan perut (halah). Memang dasarnya waktu itu kami sama-sama lapar berat, hahaha. Kami tancap gas mendatangi dua warung nasi langganan yang tak jauh dari kampus, tapi tampaknya waktu itu saya dan Zulva sedang sial: dua-duanya tutup! Bayangan sepiring nasi mengepul dengan lauk nikmat dan segarnya sayur harus menguap dari benak saya.

Dengan kecewa, saya dan Zulva beralih ke menu mi ayam -- di tempat yang rada elit, alias bukan tenda pinggir jalan. Begitu melihat daftar harga, hati kami langsung mencelos. Benar-benar tak sesuai untuk kantong mahasiswa. Tapi kami sudah terlanjur duduk di sana. Kami tak habis pikir mengapa dua warung nasi itu memilih tutup hari ini. Jangan-jangan dua-duanya janjian, lagi.

Saya mengobrol dengan Zulva siang itu. Berbagi pandangan tentang hal-hal di sekitar kami. Tentang bagaimana kami mengambil sikap dalam suatu keadaan. Tentang prinsip yang dipegang setiap orang, tapi bisa runtuh karena pengaruh teman.

Saya melihat Zulva sendiri adalah pribadi yang memegang teguh prinsipnya. Tidak, dia tidak keras kepala, meski menurut saya bedanya tipis antara punya prinsip dan keras kepala. Zulva tetap memiliki kepekaan untuk tidak menjadi kepala batu. Dan, meski itu berarti dirinya sering memilih jalan yang beda dari orang kebanyakan, toh ia tidak lantas dikucilkan. Di situlah saya sadar bahwa kita tidak harus selalu mendengarkan komentar orang. Tidak perlu menjadikan orang lain sebagai acuan. Setiap orang berhak menentukan prinsipnya sendiri, tanpa menjadikan dia lebih rendah atau lebih tinggi dari orang lain.

Agak menohok. Saya sendiri merasa belakangan ini saya kehilangan diri saya. Saya telah banyak berubah; pola pikir saya berubah, tapi entah, rasanya saya ingin membela diri bahwa saya masih punya bagian dari Sekar yang lama. Bagian yang timbul-tenggelam dari permukaan, seolah menanti waktu yang tepat untuk tampil ke depan. Mengapa, Sekar? Mengapa harus menunggu? Obrolan dengan Zulva membuat saya kembali percaya, Sekar yang ada di dalam sini tak perlu melihat kembang lain untuk dapat mekar. Sekar punya mahkotanya sendiri, dan dirinyalah yang tahu bagaimana carany mahkota itu mekar sempurna.

yang lembut-lembut bisa jadi baja jika terus ditempa (hehe apa nih maksudnya) | pic from here
 
J'attends une autre le temps de parler avec vous, Zulva!

Posted in , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

5 Responses to Makan siang sama Zulva

  1. Apakah menjadi dewasa adalah suatu perubahan juga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin, suatu proses, lebih tepatnya :D

      Delete
    2. Entahlah, masih berpikir masa kecil itu lebih gigantis. Le Petit Prince-Antoine De Saint Exupery.

      Delete
    3. Hmm saya juga baca, versi indonesianya.

      Delete
    4. Oh udah ada yang bahasa Indonesia? Buku legend dan keren.

      Delete

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.