Hei, kalian hilang ke mana?

Kenapa ya, saya masih sering mencari mereka yang tak ada kabarnya, masih sering menunggu celah untuk berjumpa di antara kesibukan mereka yang luar biasa: teman-teman dekat saya semasa SMA. Rasanya makin ke sini mereka semakin jauh, hubungan antara kami kian renggang. Dulu, saya leluasa bercerita pada mereka tentang apa saja, mulai dari hal remeh sampai curhat serius dan minta saran. Sekarang, bahkan ketika saya berada pada titik yang sangat butuh dukungan dari teman-teman, saya sungkan mengatakannya langsung. Seolah-olah tanggapan yang akan saya terima berupa, “berhentilah bersikap cengeng. Kamu merepotkan sekali, kami tak punya waktu mengurusi kamu dan masalahmu.”

Katanya sih, people don’t change, their priorities do. Saya senang mereka sudah menemukan kegiatan untuk menyalurkan minat dan bakat -- tersusun dalam jadwal cukup padat, bersama teman-teman baru. Saya sendiri juga bertemu teman baru yang menyenangkan, meski soal penyaluran minat-bakat, entah, masih saya raba pelan-pelan. Saya bisa melakukan banyak hal dengan teman-teman baru, tapi toh saya tidak berhenti mencari sahabat masa SMA saya. Saya ingin bercerita banyak pada mereka, pun ingin mendengar cerita mereka. Simpelnya, saya merindukan sahabat-sahabat masa SMA saya. Rindu yang sepertinya tidak terbalas.

Mungkin, saya memang tidak pernah cukup penting bagi siapapun untuk dipedulikan. Hah, ini terdengar menyedihkan sekali :( tapi memang betul saat ini saya sedang menyimpan kesedihan yang dalam. Anak adalah prioritas bagi orangtuanya -– ketika orangtuanya tiada, siapa yang memprioritaskan dia?


Posted in , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

One Response to Hei, kalian hilang ke mana?

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.