Keluarga Kedua

Kalau saya tidur larut malam di rumah sendiri, itu hal biasa. Tapi malam ini berbeda, karena saya sedang berada jauh dari rumah. Jauh dari hingar-bingar Kota Yogyakarta yang belum lama ini meresmikan kawasan pedestrian di sepanjang Jalan Malioboro-nya. Senang sih, kota saya jadi cantik dan enak dipandang. Tetapi kalau kecantikan itu diperuntukkan bagi wisatawan yang datang berbondong-bondong sampai warga setempat malah merasa sumpek, jalan keluar terakhir yang bisa ditempuh ya minggat jauh-jauh dari pusat keramaian. :(

Maka di sinilah saya, di rumah milik keluarga besar om saya yang berada di tepi jalanan Wajak, Kota Malang yang dingin. Saya datang bersama keluarga tante dan om dari Semarang. Dalam setahun, ini kali kedua saya (dan adik-adik saya) menjadikan Malang sebagai kota tujuan saat liburan. Saat libur lebaran kemarin kami juga ikut tante dan om ke sini, mengunjungi saudara-saudara mereka (yang berarti merupakan saudara jauh saya juga, ya nggak sih?).

Tadi malam, dua puluh empat jam yang lalu, kami bermalam di dalam jeep dalam rangka memenuhi agenda pertama kami di kota ini: menyaksikan matahari terbit dari kawasan Bromo. Meskipun akhinya gagal karena spot yang kami datangi ternyata kurang tepat untuk melihat sunrise, tapi keindahan lanskap Bromo esok paginya mampu mengobati kekecewaan. Cerita soal ini akan saya posting kemudian, ya. Saat ini, saya lebih ingin menulis tentang...

Betapa kami harus bersyukur memiliki om dan tante yang begitu baik hati mengajak kami turut dalam liburan keluarga mereka. Sejak kecil, saya dan adik-adik memang paling dekat dengan tante ini, adik bungsu dari almarhum bapak. Dua tahun terakhir sejak eyang kakung sakit dan dirawat oleh tante, rumahnya pun menjadi tujuan kami setiap libur panjang (tadinya kami selalu ke rumah eyang). Kedua puteri tante pun menjadi sepupu terdekat kami, apalagi setelah Naya pindah sekolah ke Semarang dan sekelas dengan Nafa, anak bungsu tante.

Keluarga tante adalah keluarga kedua bagi saya. Sosok tante yang begitu sabar serta penyayang membuat saya ingin menjadi sepertinya. Tante sangat telaten merawat eyang kakung yang sudah sepuh dan sedang sakit. Ditambah lagi, mengurusi kami bertiga yang sekarang tidak punya orangtua.

Terima kasih ya, Tante Antik dan Om Bowo. Jangan bosan-bosan cerewetin Echa, Tya, dan Naya kalau kami memang perlu dinasehati. Saat ini, saya belum tahu bagaimana membalas kebaikan keluarga tante. Semoga tante sekeluarga selalu sehat dan dalam lindungan Allah SWT.

Tantik: tante gaul kesayangan ponakan-ponakannya


Wajak, 26 Desember 2016.

Posted in , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.