Melantur soal jendela

Saya ingin punya rumah dengan banyak jendela. Jendela yang mengarah ke luar, supaya bisa melihat langit dan memperkirakan cuaca. Sudah banyak pengalaman saya yang menujukkan kalau lihat langit sangat penting, sungguh! Misalnya saja waktu di rumah om kemarin. Rumahnya besar tapi tak banyak jendela. Saya tak tahu kalau di luar langit mendung, padahal saya harus mencuci jaket putih yang harus kering malam itu juga, sebab esoknya akan dipakai menempuh perjalanan antarprovinsi. (Untungnya waktu itu mendungnya cuma lewat, sih. Saya nekat cuci jaket dan saya jemur di halaman belakang. Tak lama kemudian matahari muncul mengusir kelabu, jaket saya pun kering. Yeay!)

Pengalaman lainnya terjadi pada hari-hari kuliah saya. Saya sering ngendon di kos teman yang kamarnya luas dan adem. Nyaman sekali di sana untuk gelesotan sambil ngerumpi (tapi paling nyaman buat numpang tidur siang!). Sayangnya tak ada jendela yang mengarah keluar, sehingga tak bisa lihat langit. Seringkali tiba-tiba kami terlambat sadar kalau di luar turun hujan. Padahal kami harus berangkat kuliah sore, atau sudah waktunya saya pulang ke rumah. Geregetan kan kalau harus tunggu hujan reda -– tahu gitu segera cabut tadi-tadi.

Kemarin, hari pertama saya di Banyuwangi. Saya ditampung oleh Zulva dan keluarganya yang baik hati. Pagi-pagi saya numpang cuci baju bawaan dari Malang yang belum sempat dicuci -- ternyata di luar mendung! Saya dan Zulva tetap jemur baju. Waktu kami lagi seru-serunya nonton film di kamar, mendadak Zulva meloncat dari tempat tidur. Hujan, katanya! Kami buru-buru menyelamatkan jemuran.

Dari mana dia tahu kalau hujan? Dari jendela di kamarnya, tentu saja. Pendengaran yang baik juga ada gunanya, kalau hujan turun cukup deras sehingga terdengar suaranya. Tapi, awan mendung kan tak ada suaranya... begitu juga dengan aksi mencurigakan orang asing di sekitar rumah. Atau jika ada anak kecil tetangga butuh pertolongan tapi suaranya lemah. Atau ketika gebetanmu datang bawa mawar merah -- kacau kan, kalau kamu buka pintu untuknya sambil pakai baju tidur saja. Jendela sangat penting untuk antisipasi! (Dan, ya, paragraf terakhir banyak dipengaruhi imajinasi.)


masih pagi tapi sudah terang

Banyuwangi, 30 Desember 2016  |  05.44 WIB

Posted in , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.