Archive for 2017

Apakah menurutmu saya berbohong pada abang burjo?


Ada dua bakul yang jadi langganan saya beli bubur kacang ijo di pagi hari: bapak yang jualan di pertigaan alun-alun utara—dari arah kantor pos, SD Pangudi Luhur ke timur; dan mas-mas yang manggon di jembatan Serangan, utara jalan. Keduanya jualan burjo pakai gerobak dorong. Bakul yang di alun-alun itu dulu adalah langganan almarhum bapak juga. Sedangkan mas-mas di jembatan Serangan, saya sering mampir karena searah dengan rute pulang usai mengantar adik paling kecil (yang dulu) sekolah di SMP Muga.

Beberapa bulan terakhir, saya tak lagi sering jajan bubur kacang ijo. Sampai kemarin sepulang dari Semarang, satu pekan setelah lebaran. Adik-adik ikut pulang, artinya ada banyak mulut dan perut yang butuh makan. Maka, pagi itu, saya beli soto Surabaya untuk sarapan. Dilanjut dengan belanja sayur bahan sop untuk makan siang, dan, mumpung naik motor, sekalian saja mampir tumbas bubur kacang ijo di jembatan Serangan.

Mas-mas bakul burjo sedang duduk menghadap gerobaknya, membaca surat kabar, memunggungi arah di mana saya memarkirkan motor.

“Burjo tiga, dibungkus nggih, mas.” Saya berkata dari sisi samping. Si mas meletakkan korannya, lantas sigap berdiri, dan menanggapi saya.

Sebelumnya, ia menolehkan kepala ke belakang, seperti ingin tahu kendaraan yang membawa saya ke situ. Biasanya, orang-orang parkir motor tepat di samping gerobak, sehingga si mas bisa langsung bersiap melayani. Tetapi, saya muncul dari belakang, yang mengakibatkan—dugaan saya—ia merasa dikejutkan (hehe ya maaf lho mas.)

“Lama nggak kelihatan, mbak,” ujar si mas sambil menciduk burjo porsi pertama. “Campur seperti biasa?” Maksudnya, memastikan apakah saya mau bubur kacang ijo dicampur ketan hitam, atau salah satunya saja. Saya meng-iya-kan kalimat kedua.

“Sibuk kuliah, mbak?” tanya si mas lagi, sebab saya belum menanggapi kalimatnya yang pertama.

Saya nyengir, “nggak juga. Kemarin libur lebaran, saya nggak di Jogja.”

“Ooh ya ya ya.”

Jeda.

“Motor pitungnya di mana, mbak?”


Ah. Saya tahu. Saya tahu si mas akan menanyakan perihal kendaraan yang saya bawa. Saat itu, saya pakai motor matic, karena si pitung sudah pasti sulit di-starter setelah lama ditinggal dan dibiarkan menganggur.

“Pitungnya ada di rumah. Saya pakai matic saja biar cepat.”

“Ooh ya ya. Bapaknya belum bosan sama pitung, ya.”

“Ehe… iya.”

“Malah bagus, mbak, pitung kan antik. Kesukaan bapaknya memang unik.”

Saya nyengir lagi. Tiga porsi burjo sudah diplastiki. Waktu akan membayar, saya sempat lupa kalau harganya empat ribu rupiah per porsi. Saya kira masih tiga ribuan. Masnya mengingatkan dengan tampang sedih, plus ekspresi hari-gini-mbak-plis-siapa-yang-jual-burjo-tiga-ribuan.

Usai mengucap matur nuwun, saya pun berlalu dari sana dan berkendara pulang.

Aduh, mas bakul burjo. Maafkan saya. Di satu sisi, mas ini adalah salah satu dari orang-orang yang saya temui dalam penampilan saya yang paling jujur: pagi hari, belum mandi, berpakaian sekadarnya. Di sisi lain, mas juga mendengar ketidakjujuran saya pagi itu.

Bapak saya, yang suka koleksi pitung itu, sampun tilar, mas.


Saya… tidak sepenuhnya bohong, kan? Ketika ditanya, ‘bapaknya belum bosan sama pitung, ya,’ saya nyengir saja… karena, sampai bapak wafat memang pitungnya masih komplet.

Saya hanya memilih tidak mengatakan itu. Bahwa sosok yang sedang dibicarakan ini sudah tiada.

Besok lagi saya tumbas burjo, kita ngobrol yang lain saja ya, mas. Tentang Kali Winongo, tips dagang burjo, apa saja selain topik yang membuat saya memilih jalan ketidakjujuran.

Soalnya, saya tidak terlalu suka menceritakan perihal kepergian orangtua saya, kecuali jika saya yakin, lawan bicara mampu merespon lebih dari ungkapan turut prihatin dan raut iba. Saya memilih membiarkan orang lain dengan apa yang mereka tahu, karena dalam beberapa situasi, saya rasa, memang lebih mudah begitu.

--
Hem. Cerita tumbas burjo aja panjang gini, ealah Chak :(

Terima kasih sudah menyempatkan baca. Sekarang kamu tahu, salah satu jajanan yang saya suka. Wkwkwk.

Regards,

Posted in , , , , , | Leave a comment

Tulung

Tulung banget saya pengin posting banyak tapi nggak bawa laptop. Sudah pindah tiga kota tanpa laptop di tas (gaya banget hee!), maksudnya biar lebih bersosialisasi sama apa yang nyata di hadapan. Tapi ternyata butuh juga ya untuk ketik-ketik apa yang ada di kepala, kasihan kepala saya kalau kebanyakan muatan jangan-jangan nanti meledak. Beberapa sudah dituangkan ke notes di hp, ini coba posting via hp tapi nggak enak :(

Besok tolong diingatkan ya, saya banyak utang tulisan. Semoga rencana memposting tidak berakhir wacana.

Selamat merayakan hari yang fitri, guys.

Eh kayak ada yang baca blog ini aja :(

*kasih signature Sekar seperti biasa di akhir postingan*

Posted in , | 2 Comments

How everything goes on: paruh awal Ramadhan 1438 H

Lagi jamaah Maghrib, kitanya malah ngemper di pinggir jalan. @ Jl. Jogokaryan. (dok. pribadi)
15 Ramadhan 1438 H / 10 Juni 2017.

Separuh Ramadhan berlalu. Dibuka dengan kesibukan UAS yang memaksa mata melek sampai sahur, merem sejam setelah subuhan, bangun lagi buat merampungkan yang kurang-kurang... terus ke kampus menyerahkan hasil kerjaan semalam suntuk itu sambil minta paraf pengawas ujian. Deadliner parah, memang. Instruksi tugas sudah diberikan jauh-jauh hari, tapi eksekusinya selalu mepet batas pengumpulan. Mau janji 'semester depan nggak bakal gini lagi deh' juga percuma, selama masih pakai prinsip the power of kepepet wkwk.

Mohon bagian itu jangan ditiru ya saudara-saudara.

Kehilangan waktu istirahat, terforsir tenaga dan pikiran buat ngerjain sesuatu yang harusnya bisa dicicil dulu-dulu tuh nggak enak. Dan bolehkah saya lanjut curhatnya tentang hal nggak enak apa lagi yang saya rasakan Ramadhan ini?

Adalah rasa sepi. Berhubung Naya sudah ikut tante di Semarang, saya menjalani bulan puasa berdua saja dengan Tya. Kalau nggak ada janji buka puasa di luar, kami buka berdua saja di rumah. Begitu juga dengan santap sahur. Entah sudah berapa alarm yang missed, kami baru berhasil melek jam setengah empat. Tergopoh-gopoh menyiapkan nasi dan lauk, cepat-cepat menghabiskannya sebelum imsak.

Saya dan Tya jarang menyalakan televisi saat sahur. Kami biasa santap sahur dalam senyap, cukup senyap sampai yang terdengar hanya sayup sholawatan dari masjid sekitar rumah. Kadang terdengar juga denting piring tetangga sebelah. Kalau keheningan sudah sampai pada puncaknya, kami akan mulai berbincang--hingga senyap terusir oleh suara kami sendiri.

Setelah derita UAS berakhir, saya membantu Tya melengkapi persyaratan mendaftar SMA. Tya mengumpulkan lembar sertifikat untuk prestasi yang pernah dia peroleh, lantas saya membawanya ke dinas pendidikan untuk dilegalisir. Kartu Keluarga dan akte kelahiran Tya juga perlu disahkan di kantor catatan sipil--Tya ikut serta saat mengurusnya. Dia bilang, dia belum pernah pergi ke kantor catatan sipil untuk mengurus berkas semacam itu. Batin saya: tentu saja, dik. Waktu saya seusiamu, saya juga mana tahu prosedur mengurus berkas administratif macam ini. Bapak yang melakukannya. Kali pertama saya berurusan dengan kantor capil adalah untuk mendapatkan surat kematian bapak tahun lalu.

Kita sering terlambat menyadari pentingnya pengetahuan akan sesuatu, kan? Kita baru mempelajarinya saat dihadapkan pada situasi yang mendesak.

Kembali lagi ke pertengahan Ramadhan yang terasa sepi. Eh, ya... cerita bagian itu sudah habis. Syukurlah saya masih punya sisi lain yang cukup mencerahkan. Ramadhan memberi kita kesempatan untuk bertemu teman-teman terdekat. Pertama-tama, datang ajakan ngabuburit dari sahabat saya masa SMP. Sudah lama kami tak bersua, sehingga pertemuan singkat kemarin rasanya begitu berharga. Dua tahun terakhir, cari takjil di pasar tiban Jogokaryan seperti sebuah agenda yang otomatis terealisasikan. Ya Hid, Za? Sayangnya nggak fullteam, gara-gara miskom sama Aranda waktu itu. Tahun depan deh ya.

Beberapa hari setelahnya, ganti kawan-kawan SMA yang menginisasi kumpul bareng, sekalian bikin surprise kecil-kecilan buat salah satu di antara kami yang ulang tahun bulan Juni. Saat itu kami nggak ada rencana menghabiskan waktu sampai berbuka, tapi karena banyak molor di sana-sini, sekalian saja kami buka puasa di rumahnya (kesannya jadi kaya 'malak', hahaha. Tapi yang punya rumah nggak merasa dipalak, ya kan Flo? Habisnya aktivis UKM, susah minta waktunya kalau nggak digrebek rumahnya. Peace, Flo).

Ngakunya kuliahan, tapi kelakuan kaya anak SD. (dok. pribadi)
Waktu itu posisi UAS belum kelar loh saudara-saudara! Sudah seenaknya saja kongkow-kongkow kawan SMA :( saya masih punya tanggungan dua mata kuliah yang menunggu dituntaskan, salah satunya harus dikerjakan berkelompok. Inilah proses editing film yang kami rekam di Rumah Pelayanan Lansia Budi Dharma; kami beri judul Menua Bersama. Dalam rangka editing itu, teman-teman saya menginap di rumah. Susah payah mengidentifikasi rekaman audio, meng-import video sesuai alur, begadang sampai sahur, itu pun terpaksa kami hentikan dulu karena pada beralih menggarap paper individu HAHAHAHA parah banget pokoknya! Beberapa jam sebelum batas pengumpulan, kami masih pontang-panting menyelesaikan editing sampai akhirnya bisa mulai rendering project ke format MP4.

Itu sebuah cerita tentang penderitaan dan perjuangan UAS semester genap, jadi di mana letak 'mencerahkan'-nya? Hehe, mbuh. Saya senang saja waktu teman-teman pada nginap. Jam tiga keluar cari lauk sahur, terus makan sama-sama. Yang makan Tya dan teman-teman sih, saya memilih manfaatkan waktu buat tidur karena sedang nggak puasa. :))

WOW postingan ini sudah panjang sekali, cerita saya belum kelar juga. Lanjut nggak?

Lanjut.

Sehari setelah UAS rampung, saya bisa bernapas lega, jadilah Wonder Women yang sedang tayang di bioskop sebagai pelarian. Bersama Tya dan seorang kawan SMA yang lain, kami beradu dengan aspal yang panas menuju Empire XXI... untuk mendapati bahwa Wonder Women dengan jam tayang terdekat tidak menyisakan seat dengan jarak pandang aman dan nyaman :") kami pun kembali ngentang-ngentang pindah ke Cinemaxx, masih hampir satu jam sebelum filmnya main pula, akhirnya kami keliling toko buku impor dan kuat-kuatin iman di BreadTalk buat beli oleh-oleh orang rumah si teman saya :")

Terakhir nih terakhir. Kemarin sore, saya dan Hamima nonton Frau featuring Sekar Sari di Rumah Budaya Siliran. Emang dasar mahasiswa sekarang punya masalah dengan ketepatan waktu ya, kami sampai sananya kesorean, mbak Sekar sudah nggak nampil lagi. Kami malah dapat satu lagu Frau duet sama mas-mas Sisir Tanah, lagunya Lagu Bahagia. Ditutup dengan solo Frau membawakan Tarian Sari, sukses bikin saya merinding. Sepuluh menit sebelum bedug Maghrib, saya dan Hamima tancap gas... lagi-lagi menuju Jogokaryan yang stok takjilnya tiada terbatas wkwkwkwkwk.

Mbak Lani Frau u u u u saya adik tingkatmu di antro loh! (dok. pribadi)
Baiklah, sampai di sini dulu. Akan ada cerita lanjutan, karena masih ada paruh akhir bulan Ramadhan. Saya tidak mau merasa sepi lagi, maka lusa saya siap bertolak naik kereta... ke mana? Nantikan postingan berikutnya! :)

Regards,

Posted in , , , , , | 2 Comments

Menuju takdir yang digariskan Semesta

credit: pinterest
Kadang, ada satu titik di mana semua yang kamu inginkan hanyalah berbaring di tempat tidur. Memejamkan mata, lalu jatuh tertidur untuk waktu yang lama. Setelah apa yang kamu lalui seharian: bergabung dengan riuh kendaraan yang bikin macet jalanan, membaca berita-berita terbaru di layar gawai, tertawa bersama teman-temanmu meski sesungguhnya tawa itu palsu. Malamnya, kamu menangisi orang-orang yang telah lebih dulu pergi, menyesali satu-dua kawan yang tak terjangkau lagi. Kamu juga berkontemplasi tentang apa yang akan terjadi esok nanti. Sampai akhirnya kamu tidur, tanpa mimpi.

Dan kamu ingin bangun dari tidur lelapmu, perlahan-lahan, bangun oleh perasaan seolah-olah tubuhmu sudah mendapatkan cukup energi, bukannya tersentak oleh bunyi-bunyi mengejutkan. Kamu terlahir dalam pribadi yang terbarukan, siap menjemput segala yang pernah kamu tulis dalam daftar cita-cita. Lebih mantap menghadapi berbagai bentuk kemungkinan yang disodorkan dunia. Dan kamu beranjak menuju cermin, ada sepasang mata terpantul di sana, mata yang berbicara: Jangan manja!

Dan kamu mengancingkan kemeja, merapikan riasan, lantas menyiapkan berkas pendaftaran: menuju takdir yang telah digariskan Semesta.


Posted in , , , , , , | Leave a comment

Tanya, tanya dia: kenapa?

Jika pada suatu waktu ada temanmu yang bersikap ganjil, entah ia tiba-tiba jadi begitu pendiam atau barangkali bertingkah menyebalkan, hal sederhana yang bisa kamu lakukan: bertanya kenapa.

Mungkin ia sedang mengalami hari yang buruk. Mungkin perasaannya sedang kacau, atau bisa jadi perubahan sikapnya dipicu tekanan batin yang melanda seperti badai topan La Nina. Kamu hanya akan tahu mana yang benar terjadi, jika kamu tanyakan alasan di balik perubahan sikapnya.

Terbesit di pikiranmu, bukankah sebaiknya kamu menunggu. Tunggu saja, dia pasti akan bercerita. Ketahuilah, terkadang hukum tunggu-menunggu ini tidak berlaku. Kamu tidak bisa yakin dia akan buka suara dan membawa berita, “Pengumuman! Ada nyeri di sudut hatiku yang ketika kutengok ke dalam, ternyata ia nyaris habis digerogoti kedukaan. Hatiku berlubang, aku sungguh hancur oleh rasa duka dan tak tahu cara mengembalikan logikaku utuh seperti semula.”

Sesuatu semacam itu sukar diungkapkan, kau mungkin bisa bayangkan?

Maka sebelum terbit prasangka, sebelum memuncak kejengahanmu melihat ganjil sikapnya, cobalah tanya. Apakah dia baik-baik saja? Manakah yang dia butuhkan: kuping, tisu, atau bahu? Katakan kepadanya, kamu sadar ada yang berbeda. Dan kepadamu, dia boleh berbagi cerita.

Tanya, tanyai dia. Jangan diam saja,

...kecuali kamu memang tak ingin tahu,

sebab prasangkamu menang dan kamu memilih biarkan saja dia begitu.

Sebab kamu tak pernah sungguh-sungguh menaruh peduli,
atau kamu tak punya dada yang cukup lapang untuk memahami.

 

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Sekarang, saya penakut

"Kamu harus belajar memberi kepercayaan pada orang lain selain bapakmu, Chak."

—Saras kepada Sekar, menanggapi kecemasan Sekar yang merasa bapaknya pergi membawa seluruh keberanian dalam dirinya.

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Pendiam or slengean?

'Saya cocoknya dengan cowok yang bagaimana?' adalah pertanyaan saya kepada dua orang kawan, kemarin di warung Mie Bandung Kridosono. Saat itu siang menjelang sore, saya menunjukkan tempat makan mie (yang menurut saya) enak kepada mereka yang kelaparan. Biasalah anak kos, sarapan dan makan siang dirapel di akhir waktu (saya juga sering, padahal nggak ngekos).

Hamima dan Agista -- nama dua teman itu -- sepakat: saya butuh cowok yang agak slengean, tapi sekali waktu juga bisa menjelma arif dan bijaksana.

Nah loh. Gimana tuh.

Slengean, alias banyak tingkah, pandai melawak. Maksudnya biar mengimbangi watak saya yang (menurut dua kawan ini) suka kebawa serius dan banyak diamnya. Cowok ini, di sisi lain harus juga bijaksana, mampu bersikap dewasa, agar bisa momong saya. Wakakaka... bakal ketemu nggak ya cowok yang begitu? Atau malah sudah? #lha

Tadinya saya mau membantah. Perasaan, saya nggak begitu serius kok orangnya. Asal kumpul sama yang bikin nyaman, saya cenderung ceriwis dan nggak jaim. Tapi ya sudah. Mungkin image saya di mata mereka memang begitu adanya.

Kalau mengikuti opini Hamima dan Agista, berarti saya nggak cocok sama cowok yang saya taksir sekarang, dong? Soalnya dia ini orangnya tenang. Agak pendiam. Kecuali kalau sedang di antara teman-teman terdekatnya, barulah dia banyak omong dan ikut melontar gurauan. Nah... tuh kan mirip kayak saya! Masa nggak cocok? Hahahaha. :))

yang penting pantang menyerah dan rela berkorban. nggak harus superhero kok *kemudian nyanyi something just like this-nya coldplay ft. the chainsmokers*

See u in future ya lelaki pilihan Tuhan,

Posted in , , , , , , | Leave a comment

"Bersamamu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal dirimu."

Rekomendasi soundtrack saat membaca ini: Ipang - Sahabat Kecil.

Hai, saya ingin memberitahumu.

Sangat menyenangkan berkumpul dengan orang-orang yang memancarkan energi positif. Kita dengan sukarela tertular aura positifnya, menyerap kehangatan dari sana. Seakan bebanmu tak lagi berat terasa, karena ada yang menawarkan memikulnya bersama. Lalu kita mudah terpancing tawa. Larut dalam cair suasana. Keakraban menghilangkan rasa sungkan -- yang berlanjut pada membicarakan apa saja.

Orang-orang baik ini membagi hal-hal yang tak ada ruginya kaudengarkan, pun menyimak penuh perhatian saat tiba giliranmu bercerita. Dan, yang terpenting, mereka membuatmu nyaman sampai kau lupa mengerling ke arah ponsel. Bahkan mengeluarkannya dari tas pun kau merasa tak perlu.

Malam ini adalah salah satu malam terbaik saya dengan orang-orang baik. Kami menikmati sejenak kesempatan meninggalkan rutinitas, mencari hiburan bersama, dan tak lupa -- memetik pelajaran setelahnya.

Ponsel saya waktu itu terlanjur mati kehabisan daya. Tetapi kalau pun nyala, saya pasti tak berminat menyentuhnya.

Karena waktu bersama orang-orang baik ini, sungguh, tak ternilai harganya.

Yogyakarta, 22 Mei 2017.
Terima kasih, relawan Kolong Tangga. :)

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Lihat langit, ingin ke laut

Seminggu terakhir, saya sering ada di jalanan pukul delapan pagi dan setengah tiga sore, menatap langit yang terbentang demikian indah. Biru, cerah, sekaligus lembut membalas tatapan saya.

Melihat langit yang bersahabat itu, selalu terbersit di benak saya: ingin ke pantai! Membayangkan hampar langit menjemput batas laut yang sama birunya. Merasakan udara bersih, dihibur debur ombak, memandang jauh formasi camar di cakrawala.

Di saat-saat seperti ini, saya mengeluhkan padatnya kota. Butuh waktu hampir dua jam perjalanan darat dari tempat saya berada, jika ingin memenuhi panggilan samudra.

Kelak, saya ingin punya rumah di pinggir kota saja. Dekat dengan laut, kalau bisa.

Saya akan membangun rumah di atas pasir. Tidak, jangan rumah. Cukup pondok kecil dari kayu, dengan kaki-kaki di keempat sudutnya, serta tangga di muka pintunya, yang dari sana saya bisa belajar pada giatnya mentari, bijaknya laut, serta lapangnya langit.

credit: instagram @sejkko

Yogyakarta, 15 Mei 2017.


Posted in , , , , | Leave a comment

Surat Permohonan Bahagia untuk Pesisir

Bagaimana cara menyurutkan kesedihan Pesisir yang kamu kira nggak akan pernah dilanda pasang? Pesisir itu letaknya tinggi, sehingga selalu mandi cahaya matahari, ya, larik-larik cahaya menghambur lewat celah langit. Maka kuyuplah ia oleh kharisma dan daya pikat luar biasa, yang membuat wisatawan berbondong-bondong menghampiri.

Tentu saja, bukan wisatawan yang diinginkan dan dinanti-nanti oleh Pesisir. Bahkan Matahari, Karang, dan para Nelayan pun tahu itu.

Pesisir selalu mendamba kasih yang sejati,
bukan yang singgah sejenak lalu beringsut pergi.

Pesisir suka menebak-nebak kapan hadirnya suatu Abadi,
sambil berharap ia punya wadah yang lebih cekung daripada lautnya,
untuk menampung luapan rindu
yang telah disiapkannya sejak lama.

Setelah semua keteguhan itu, mana mungkin saya menyodorkan selembar tisu untuk membersit ingus atau menyeka linang airmata; bukankah tangis Pesisir berarti gulungan tsunami? Saya tenggelam ini, bayangkan, berusaha menjangkau apa saja sampai megap-megap kehabisan nafas, dan kegetiran si Pesisir jelas melemahkan denyut saya.

Parahnya, kalau nanti saya mati, Pesisir bisa jadi tambah sedih lagi. Masa iya dia mau hempaskan tsunami dua kali?

Jadi lebih baik Pesisir sabar sebentar, ya. Bumi masih berputar, tenang saja. Benda langit masih di sana, seluruhnya. Saya tidak tahu rasi kesukaanmu, tapi yang saya tahu bahwa matahari belum letih bertengger di ranting mega. Kekuatan sinarnya masih sama seperti zaman purba, asal kau percaya.

Sinar yang akan menguapkan gelisah, menyurutkan sedu sedan.
Pesisir kembali berkilauan.
Kelak, kausambut wujud sesosok membawa Kasih Sayang. Kita belum tahu dari arah mana dia datang: dari daratan, ataukah mendayung sampan?

Demikianlah saya bermohon kepada Semesta,
agar Pesisir segera menjemput bahagia.
(Tak perlu saya ulangi: dia menangis, saya yang mati!
bahkan mungkin, yang lainnya juga: Nyiur, Terumbu, Ikan Pari....)

gambar dari sini
 
-------- errrrgh. Ironi atas sebuah narasi. Nggak kebayang rautmu membaca ini.
You know, I'm trying to put a smile on your face, Bi. Maaf kalau malah bikin pucat pasi.
 
Yours,

Posted in , , , , , | Leave a comment

Tidak berniat iseng

Jujur saja, Lebah, yang kemarin itu di luar kebiasaan saya. Saya tidak pernah berniat iseng-iseng menghubungi kamu, hanya untuk bilang hal-hal nggak penting. Saya akui, kemarin saya tidak berpikir panjang.

Tetapi, saya nggak menyesalinya. Habis selama ini saya kebanyakan mikir tanpa ada aksi. Saya terlalu cemas akan reaksi kamu.

Ternyata reaksimu begitu-begitu saja, ya. Padahal saya sungguh kelepasan ngomong, lho, di akhir itu.

Kamu sadar tidak?


Posted in , , , , , , , , | Leave a comment

Mempertanyakan Keaslian

Dulu, setiap ada yang tanya, aslinya mana? Saya selalu mantap menjawab, dari Jogja. Belakangan, saya baru merenungkan lagi, sebenarnya saya ini sudah nggak 'asli' lagi. Haha.

Ibu saya asli Kebumen, begitu juga dengan eyang kakung dan eyang putri dari Ibu. Sementara bapak orang Semarang. Lahir dan besar di kota masing-masing, sebuah sekolah tinggi di Semarang-lah yang mempertemukan ibu dan bapak pada suatu ketika. Dari sana, keduanya lalu melanjutkan ke institut yang ada di Jogja untuk memperoleh gelar Sarjana.

Ibu berhasil mendapatkannya. Bapak tidak.

Tapi itu tidak menghalangi cinta mereka dibawa ke pelaminan pada 1996. Tak sampai setahun kemudian, saya lahir di sebuah rumah sakit di Kebumen. Kami tinggal berpindah-pindah antara rumah eyang Kebumen dan eyang Semarang, sampai saya berusia dua tahun. Barulah kemudian bapak dan ibu memutuskan hijrah ke Jogja dan menyewa satu kamar di sebuah rumah di daerah Babadan, dekat Gembira Loka. Setahun berlalu, kerabat kami menawarkan sepetak bangunan dekat jantung Kota Jogja. Bangunan itu, rumah yang saya tinggali sampai sekarang.

Saya didaftarkan ke Taman Kanak-kanak yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari rumah. Empat hari setelah saya mulai bersekolah, lahir adik saya yang pertama. Tak sampai dua tahun kemudian, adik kedua nyusul melihat dunia. Keduanya lahir di bidan yang sama, di Jogja. Jadi memang betul kalau mereka mengaku aslinya dari Jogja.

Sementara saya?

Saya selalu merasa, saya juga orang Jogja. Soalnya di Kebumen kan cuma numpang lahir saja. Wakakaka. Meski sempat tinggal di sana waktu masih ada eyang kakung, tapi kan tidak lama. Saya bahkan nggak bisa ngomong ngapak. Sejak Taman Kanak-kanak, saya sudah di sini. Tumbuh di tengah-tengah lingkungan dan budaya Jawa-Jogja.

Kalau dalam kuliah antropologi, ini persoalan etnis dan etnisitas. Etnis itu sesuatu yang objektif, melekat pada seseorang berdasarkan pertalian darah para leluhurnya, dan kadang memunculkan ciri fisik yang khas (dan bisa dilihat orang lain). Lain halnya etnisitas yang sifatnya subjektif, hanya pribadi yang bersangkutan yang berhak menentukan etnisitasnya. Etnisitas dibentuk oleh lingkungan dan kebudayaan masyarakat sekitar yang banyak mempengaruhi pola pikir seseorang. And here I am, feel belong to Jogja. Etnis saya Jawa, etnisitas Jogja.

Tapi ya gitu. Memang nggak asli banget, haha. Kini, walaupun Jogja saya anggap sebagai kampung halaman, saya seringkali merasa sendirian di tengah kota yang ramai ini.

Habisnya gimana, orang yang membawa saya ke kota ini sudah nggak ada semua. :(

Jogja nggak ada matinya. [dokumentasi pribadi, 2015]

Kudu terus sinau babagan 'dadi Jawa',

Posted in , , , , , , , | 2 Comments

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.