Archive for 2017

Ice cream on gloomy days

“Kau pernah bilang, kedai kopi di belakang kampusmu menyediakan kopi terbaik.”
“Aku memang pernah bilang begitu.”
“Dengan harga terjangkau kocek mahasiswa proletar macam aku?”
“Tepat. Lagipula kau sebenarnya tidak proletar-proletar amat.”
“Kita ke sana, kalau begitu.”
“Aku tidak ingin kopi—
“Pasti ada minuman lain—
“Aku sedang ingin es krim.” 
“Di cuaca begini? Kau bercanda? Gerimis rapat sejak dini hari, langit muram, kita butuh minuman panas—
“Aku tidak akan ikut ke kedai kopi.” 
Ck. Payah. Untuk apa aku menemuimu kalau—
“Untuk menemaniku makan es krim?”
“Dasar keras kepala. Tapi kau tahu aku menyukai tantangan.”
“Tentu aku tahu. Dan kau sebaiknya mencoba tantangan itu. Kedai gelato?”
“Terlalu banyak pilihan rasa.” 
“Memang itu yang mereka jual, bodoh.”
“Es krim stik saja, yang dijual oleh minimarket.”
“Sungguh tidak elit— 
Pilih yang cone.”
“Es krim cone.”
“Es krim cone di cuaca dingin.”
“Terbaik!”

+++

Saya pernah bilang, kan, kalau saya pengin nulis fiksi-romance lagi. Sudah dua draft saya bikin dengan judul yang sama, topik yang sama seperti di postingan ini, tetapi selalu mandeg di tengah jalan. Bosan dengan gaya penceritaan saya yang begitu-begitu saja.

Tapi, gagasan soal es krim di hari-hari hujan terus mengganggu! Rasanya ingin sekali menuliskan itu, meskipun bukan dilatarbelakangi pengalaman pribadi.

Pada akhirnya, gagasan itu menemukan wujudnya dalam dialog satu babak ini. Deskripsi latar, suasana, penokohan, gestur, saya serahkan seluruhnya pada imajinasi pembaca. Oke? Sip!

Posted in , , | 2 Comments

Halo, Pak

Halo... Pak?

Jogja sedang dingin-dinginnya. Angin malam masuk lewat celah atap rumah kita yang tak pakai eternit, langsung langit-langit genteng yang tinggi saja. Bapak belum tahu, kan, jendela dekat meja makan pecah kacanya. Dengan bantuan tetangga, kaca diganti anyaman kawat agar tikus tak masuk seenaknya. Angin lah yang kemudian menyelinap berlomba-lomba, menembus tirai dan sampai pada badanku yang terduduk di ruang tengah, di depan televisi yang berminggu-minggu tidak nyala.

Perutku jadi mulas, Pak, ingin kentut melulu.

Dulu selalu bapak yang mudah terkentut-kentut, suaranya nyaring tapi tak bau.

Halo... Pak?

Sekaten baru mulai dan langsung ramai, suara kereta-keretaan dan tong setan itu terdengar jelas sampai ke rumah. Kalau pulang lewat alun-alun pasti kena macet, apalagi malam hari pas tidak hujan dan orang-orang tumpah cari hiburan. Parkir motornya makan separuh ruas jalan. Ingin terbang saja rasanya, biar bebas dari kemacetan.

Tak ada Sekaten pun jalanan Jogja sudah ramai, Pak, apalagi arah menuju kampus. Berangkat kuliah sering terburu-buru. Agak ngebut biar mempersingkat waktu, tetap patuh rambu-rambu. Barangkali geleng-geleng bapak lihat cara berkendaraku, anakmu badannya kecil, motornya besar, sok-sokan mau nguasai jalanan.

Jalan ceritaku lompat sana-sini ya, Pak?

Tapi bapak dengar, kan?

Dari jauh sana, bisa dengar?

Sungguh banyak cerita, kali ini dicukupkan dulu. Betapa Sekar rindu, kelewat rindu sampai meracau rangkai monolog semu.


Yogyakarta, 9 November 2017  |  00.49 WIB


Posted in , , , , , | 2 Comments

Reality vs virtuality

pic from here
Saya nggak yakin mana yang lebih dulu terjadi: saya merasa pikiran keruh gara-gara berlebihan mengkonsumsi konten-konten di media sosial, lalu kuliah Antropologi dan Teknologi semakin mempertebal perasaan ituATAU kuliah antro & tekno-lah yang lebih dulu membentuk pemikiran saya untuk lebih hati-hati menempatkan diri antara reality vs virtuality. Haduuu. Wkwk.

Terhadap sesuatu yang namanya media sosial, terus terang saya sempat merasa agak kecanduan. Terutama platform yang menonjolkan konten-konten visual itu tuh. Rasanya nggak bisa kalau dalam sehari nggak buka aplikasi yang satu itu. Nggak harus unggah posting baru, yang pasti jari-jari selalu aktif scrolling timeline tiap ada waktu senggang. Nontonin postingan orang-orang yang terhubung dengan saya di media itu, nge-love-in foto-foto yang sesuai sama minat dan aliran saya.

Saya bahkan nggak repot-repot memperhitungkan seberapa berfaedahnya aktivitas di media itu buat kehidupan (nyata) saya. Faedahnya yaa, saya jadi punya sumber hiburan, bisa mengakses informasi dari akun-akun yang saya ikuti, atau sekadar jadi tau aja aktivitas teman-teman. Well, atau jangan-jangan ini hanya upaya pembelaan diri aja?

Kalau mau bilang kecanduan Instagram mah bilang aja kali, Chak. Nggak usah kebanyakan ngeles. EHHH, kesebut deh nama platformnya. Wkwk.

Suatu sore yang ngantuk, kuliah antro & tekno membahas tentang bagaimana orang-orang sekarang (terutama masyarakat modern di perkotaan) punya pilihan untuk hidup di 'dunia lain' bernama dunia virtual. Dunia yang memiliki aturan main tersendiri dalam membentuk relasi-relasi antarperan, di mana identitas individu bebas dikonstruksi ulang. Aturan main yang jelas berbeda dengan di dunia nyata tempat kita tinggal.

Hidup (di dunia nyata) bersifat sementara dan manusia bisa mati. Saat seseorang meninggal dunia, ia terlepas dari struktur di mana ia memiliki peran di dalamnya. Kehidupan berhenti bagi si mati, tetapi tidak untuk orang-orang di sekitarnya. Orang akan mengenang si mati, bisa dengan ziarah ke makamnya, meletakkan karangan bunga, atau mengirim pengharapan melalui doa.

ATAU, didukung teknologi masa kini, orang bisa saja menggali memori tentang si mati lewat foto-foto. Rekaman gambar bergerak. Rekaman suara. Akun media sosial. Segala hal berbentuk data yang merupakan versi digital dari entitas individu. Apa yang kami sebut digital self dalam pembahasan kuliah saat itu.

Dosen kami memantik diskusi dengan sebuah statement: orang membuat akun media sosial dan membangun dirinya versi digital, salah satu tujuannya agar ia tidak dilupakan, nanti, jika raganya sudah mangkat dari dunia (nyata). Peserta kuliah menanggapi dengan memberi contoh beberapa kasus di mana orang sudah meninggal namun akun media sosialnya masih ada. Besar kemungkinannya, orang-orang yang mengenal si mati akan tetap berkunjung ke laman akun si mati untuk memposting kalimat yang seakan mengajak ngobrol pemilik akun. 'Apa kabar, bro? Semoga tenang ya di sana', 'Selamat ulang tahun, aman kan di alam baka?', hal-hal semacam itu.

Waktu itu, saya lebih banyak menyimak dan tidak melibatkan diri dalam diskusi. Alasannya karena saya mencoba merefleksikan pada diri sendiri. Sesekali saya memang masih membuka profil almarhum bapak di Facebook untuk melihat apa yang orang posting di sana.

Sebentar, coba kita berhenti ngomongin kematian. Di dunia ini, apa sih yang ditakutkan oleh manusia hidup? ujar Mas Indy pada satu titik ketika peserta kuliah mulai kehilangan arah pembicaraan (halah). Mas Indy adalah dosen saya untuk mata kuliah antro & tekno.

Dua detik, kelas hening.

Manusia takut hidup sendiri, Mas, Mbak Fia menjawab dengan tone suara yang bulat dan mengalir tenang mirip Mamah Dedeh kalau lagi menanggapi curhatan. Manusia takut 'nggak dianggap', tambahnya.

Exactly. Tidak dianggap oleh siapa? Oleh orang-orang di sekitarnya? Mas Indy mengklarifikasi, lalu peserta kuliah mengangguk-angguk, mengamini dalam hati.

Saat itu, saya berpikir... AHHH benar juga?!?!?!?! Padahal saya udah mikir keras buat nemuin sesuatu dari pengalaman saya yang bisa dipakai buat menjawab pertanyaan sederhana itu, tapi kok ya nggak kepikiran sampai Mbak Fia mengucapkannya.

Manusia takut hidup sendiri, takut keberadaannya nggak dipedulikan oleh orang-orang di sekitarnya... haaa saya banget! Saya yang dikit-dikit ngerasa nggak enak hati, ketika teman yang dulunya sering ke mana-mana bareng tiba-tiba nggak pernah bersinggungan lagi. Ada atau tidaknya saya, rasanya nggak dipedulikan lagi. Jika bertemu di keramaian, dia mengobrol dengan teman yang lain, tapi saya kok dicuekin. Ya ngobrol sih, kadang-kadang, tapi biasanya karena saya yang nimbrung duluan, dan kami bicara seperlunya saja. Saya jadi cemas, apa yang salah dari saya? Kenapa dia seakan nggak menganggap penting keberadaan saya? (Ya emang lo bukan orang penting, Chak.)

Pengabaian ini saya rasakan tak hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia virtual. Dulu, kalau ada apa-apa dia selalu menghubungi saya lewat aplikasi Whatsapp. Dia meninggalkan komentar di postingan saya di Instagram, atau membalas Instagram story yang saya unggah. Sekarang hal itu tidak dia lakukan lagi, dan saya jadi resah sendiri. (Atau saya aja yang terbawa perasaan, sih?)

Salah satu yang saya pelajari dari kelas antro & tekno adalah bahwa dunia virtual berdampak pada bagaimana orang menilai kualitas sebuah hubungan. HEHE makin njelimet yak. Maksudnya gini, dulu sebelum ada media sosial, orang bergaul secara langsung. Ada tatap muka dan interaksi yang bisa menunjukkan bagaimana hubungan antarindividu berjalan. Akan sangat jelas ketika orang menghindari bertemu denganmu, cukup membuat bertanya-tanya apa yang salah dari hubungan kalian.

Tapi, sekarang, hubungan yang terjalin di dunia nyata dan dunia virtual bisa jadi nggak sejalan. Orang bisa baik-baik aja di dunia nyata, tapi di dunia virtual menunjukkan sikap kayak 'saya bukan teman kamu'. Atau sebaliknya. Di media sosial rajin kasih likes untuk postingan kita, berkomentar sok akrab, tapi di dunia nyata nggak pernah menyapa sama sekali. Gitu deh pokoknya.

Teman saya ada yang tertarik mengamati realitas sosial ini, tentang dunia offline/online dan bagaimana orang sekarang terfasilitasi untuk punya pilihan 'wajah' yang mau ditunjukkan kepada publik. Khususnya di Instagram, di mana banyak bermunculan fenomena second account sebagai akun alternatif di samping akun utama seseorang. Ada yang menjadikan akun kedua sebagai galeri untuk menunjang hobi atau bisnis, ada pula yang memakai identitas palsu/anonim, serta di-setting privat. Anggaplah akun utama Instagram merupakan 'wajah' atau citra kedua dari seseorang di dunia nyata, bagaimana dengan akun kedua, ketiga, fitur close friend, dan akun-akun media sosial lainnya?

Menurut saya, orang yang nggak ambil pusing dengan urusan per-medsos-an ini tuh hebat! Nggak mudah untuk mengesampingkan kehidupan dunia virtual, di mana teman-temanmu semuanya berkecimpung di situ. Kadang, jika tak ada hasil untuk pencarian akun seseorang di dunia virtual, orang malah merasa aneh. Masa sih namanya nggak terdata di jaringan internet? Nggak punya akun media sosial apapun? Ada beneran nggak nih orangnya di dunia nyata? Dsb, dsb. Padahal, ya, suka-suka dialah mau bikin akun medsos apa engga. Mau pakai LINE apa engga. Mau daftar Instagram engga. Barangkali pilihannya hanya untuk hidup di dunia nyata, bukan di dunia virtual. Dia tidak berminat membuat dirinya dalam versi digital, dan kita harus menghargai itu.

Anyway, platform Blogger ini juga termasuk media sosial kan ya. Nggak ada jaminan apa yang saya tampilkan di sini persis merepresentasikan diri saya yang sebenarnya. Pusing kau Chak? Punya akun Facebook, Twitter, LINE, Whatsapp, Instagram, Blogger pulak?!

Bijaksanalah kau Chak. Pakai tu ilmu yang kaudapat dari kuliah Antropologi dan Teknologi, jangan sampai dunia virtualmu mengaburkan nurani dan kemanusiaanmu di dunia nyata.

Cheers,

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Bermimpi besar


Dan tak ada yang lebih menyenangkan dari berdekatan dengan orang-orang yang punya mimpi besar.



Itu kutipan dari novel kesepuluhnya Cik Andrea Hirata, Sirkus Pohon. Aku belum baca. Cuma lihat kutipan itu di Instagram. Wkwk. Bagus e! Memberi alasan kenapa kadang-kadang aku merasa sangat bersemangat ketika di dekat orang tertentu. Yang punya mimpi besar. Yang berani bercita-cita setinggi langit.


Dan, mungkin juga, kenapa aku senang menyerap energi positif dari mereka, adalah karena aku tahu, mereka tidak hanya punya mimpi besar, tetapi juga penuh kesadaran dalam usaha menggapainya.


Tertanda, aku
yang masih mencoba merangkai mimpi-mimpi untuk diwujudkan segera.


Posted in , , | 4 Comments

Pikirkan yang baik-baik

Hidup ini penuh makhluk-makhluk baik. Nggak cuma manusia. Semua sudah diatur olehNYA untuk mengisi hari-hari kita. Kucing baik. Perabot rumah baik. Partikel udara baik. Arak-arak awan baik, bayang-bayang pohon yang jatuh di aspal baik. Apalagi rencana-rencana Semesta, penuh kebaikan yang nyata.

Mengapa ambil pusing soal manusia di sekitar yang perilakunya kurang baik?

: sebuah pengingat diri
Oktober, 2017.


Posted in , , , , | Leave a comment

Are you happy?


pic from here
Postingan ini masih ada kaitannya dengan posting sebelumnya. Saya sadar betul, posting saya sebelum ini tuh benar-benar sok. Sok ide, pakai judul managing emotions segala. Bah. Padahal, orang-orang terdekat saya barangkali tahu, saya masih sangat kacau soal pekerjaan satu itu.

Saya mengerti, sedih itu hal biasa. Orang bersedih karena alasan-alasan tertentu. Kalimat-kalimat penghibur untuk orang yang sedang sedih itu biasanya berbunyi, “nggak apa-apa, it’s okay not to be okay. Nggak apa-apa sesekali sedih. Lebih baik diungkapkan, jangan dipendam seorang diri. Nangis aja dulu, supaya lega.” Begitu biasanya, kan?

Saya melakukannya sesuai saran. Bagi saya, situasi paling emosional yang mungkin menjangkiti saya adalah perasaan sedih. Bukan marah, atau emosi lain. Maka, ketika saya—apa ya istilahnya, mungkin ini lebay, tapi biarlah—sudah tidak kuat menanggung kesedihan, saya akan mencari bantuan ke orang-orang terdekat. Saya akan menghubungi mereka dan mengatakan, “saya sedang sedih nih, butuh kuping, pundak, tisu, apapun milik siapapun yang mau menampung.” For those who always have my back, thank you. Kamu nggak punya ide betapa besar arti kehadiranmu buat saya.

Ketika minta bantuan orang-orang kepercayaan, biasanya posisi saya sudah capek menangis. Saya menghubungi mereka lewat aplikasi chatting saja, sehingga mereka tak perlu melihat muka saya yang kacau. Tapi, nggak semua situasi emosional datang saat saya sedang sendiri. Ada kalanya situasi itu menyergap saat saya sedang berada di tengah-tengah forum. Bukan sekali-dua kali saya gagal menahan diri untuk tidak kelewat emosional. Sering, saya sering gagal.

Waktu lagi sama teman-teman, mengobrol soal macam-macam. Jika ada topik yang related dengan pengalaman hidup saya, yang membuat ingatan tentang pengalaman sensitif terpanggil sedikit saja, saya bisa mendadak mewek. Waktu pelajaran sosiologi bersama Pak Pur di SMA, saya pernah dua kali gagal menahan sesenggukan di kelas. Padahal, perkaranya sederhana. Pak Pur melempar pertanyaan tentang seberapa besar kemungkinan siswa perempuan memilih jadi ibu rumah tangga setelah menikah, ketimbang jadi wanita karier. Pertanyaan yang membawa pikiran Sekar umur 16 kepada ibunya, bagaimana ia mendapat afeksi seorang ibu dalam waktu yang terbatas. Jadilah ia mbrambangi di kelas, mengundang raut tak tega di wajah teman-teman.

Beberapa waktu lalu, situasi emosional datang di tengah kelas workshop relawan Kolong Tangga dengan Pak Rudi sebagai tutornya (tutor? Kami nggak menggunakan istilah itu, sebenarnya. Beliau hanya selalu ada di sana untuk memandu diskusi dan training workshop, jadi... yah, disebut tutor juga barangkali nggak apa-apa). Saat itu Pak Rudi meminta relawan menyobek pola bebas dari halaman majalah bekas, lalu menempelkannya pada selembar kertas sesuai kreativitas masing-masing. Boleh menyobek bentuk segitiga besar, segitika kurus, lingkaran kecil, atau abstrak sekali pun, tetapi saat menyusunnya di kertas harus bisa membentuk pola gambar. Itu latihan motorik halus, membayangkan bentuk, dan memadukan warna. Setelah itu, Pak Rudi “membaca” satu per satu gambaran yang kami bentuk, seakan-akan pola gambar kami di kertas itu memberitahu Pak Rudi watak dan karakter kami.

Pak Rudi bilang, pola kucing bermata nakal yang saya bentuk mencerminkan watak saya yang menyimpan kekuatan meski terbungkus tampilan yang “halus”. Kekuatan itu, jika tidak saya kelola dengan bijaksana, dapat berubah menjadi watak keras yang membuat orang-orang di sekitar saya “terdorong” menjauh. Pak Rudi bertanya apakah saya pernah “mendorong” orang-orang menjauh, yang saya jawab, saya tidak terlalu yakin. Saya kurang ingat bagaimana ia menganalisis karakter saya lebih lanjut, tetapi di akhir Pak Rudi bertanya, “are you happy in your life?” 

Saya mencoba bilang “ya”, tapi lelehan yang keluar dari sudut mata saya tampaknya tidak mendukung jawaban itu. Teman-teman peserta kelas workshop sigap menawarkan tisu. Saya masih memandang Pak Rudi, tapi kehilangan ide untuk memberikan argumen. Saat itu, yang ada di pikiran saya: seseorang bertanya apakah saya bahagia dalam hidup saya. Jadi, apakah saya bahagia? Apakah selama hidup saya merasakan bahagia? Saya tidak tahu. Saya mengalami banyak kehilangan, orang-orang yang saya sayangi pergi, ada yang untuk sementara waktu, ada yang untuk selamanya. Apakah saya bisa merasakan bahagia? 

Begitulah. Terlepas dari pemikiran kemudian tentang ‘bahagia’ yang punya bermacam-macam bentuk, setiap orang bebas membuat definisi dan berhak menciptakan bahagia versi dirinya sendiri, faktanya saya sering lepas kendali atas emosi. Emosi sedih, terutama. Beberapa teman menyebut watak saya perasa, mudah tersentuh. Tetapi, saya pikir itu berbeda dengan lepas kendali. Orang boleh tersentuh hatinya saat menonton drama dengan sad ending. Tapi nggak bisa, kan, orang serta-merta menangis disergap situasi emosional saat sedang berada di tengah-tengah forum? Dijamin, orang-orang dalam forum juga nggak ngerti bagian mana yang termasuk situasi emosional itu.

Bukannya nggak boleh...

Tapi, jangan sering-sering deh. Jadilah kuat saja, dengan belajar mengelola dan mengendalikan emosi. Suatu saat nanti, datang pertanyaan are you happy, kamu nggak bingung lagi.
—Sekar kepada Sekar.


Posted in , , , , , | Leave a comment

Managing emotions

gambar pinjam dari sini

Chat yang masuk dari seorang teman, pagi-pagi saat saya baru bangun tidur di hari Minggu, membuat saya berpikir ulang tentang hidup. Bahasannya sok-sokan ya? Mikir soal hidup. Hehe, saya tidak menemukan diksi yang lebih tepat. Teman saya mengawali chat dengan permintaan maaf karena akan bertanya sesuatu yang personal. Ia membebaskan sejauh mana saya akan memberi tanggapan. Tanyanya, apakah saya pernah menangis tanpa alasan--tiba-tiba merasa begitu sedih hingga kemudian menangis?

Saya langsung mikir, apakah gerangan yang terjadi pada teman saya ini? Dia tergolong teman yang dekat dengan banyak orang karena sifatnya yang supel. Tetapi, saya dipilihnya untuk menyampaikan kegelisahan yang dirasakannya. Di mata saya, si teman ini jarang terlihat sedih, tapi bukan berarti nggak pernah sedih sih ya. Maka pagi itu mengobrol lah kami lewat aplikasi chatting.

Kami bertukar cerita tentang apa yang dialami masing-masing terkait perasaan sedih. Teman saya bilang, dia belum siap menceritakan masalahnya secara rinci. Dia hanya ingin tahu jika ada teman yang mengalami hal yang sama (dicecar kesedihan yang memicu tangis), dan bertanya bagaimana meng-handle-nya. Jadi, saya membagi apa yang saya punya--bahwa saya memang kerap merasa sedih hingga menangis (saya berkali-kali bilang di blog, kan, kalau saya sangat cengeng). Tetapi, saya rasa, saya selalu punya alasan untuk itu.

Di akhir obrolan, teman saya berkata, membicarakan kegelisahannya dengan saya membuat perasaannya sedikit lebih baik. Syukurlah. Teman saya nggak tahu, pagi itu kegelisahannya berpindah pada saya, menghantui saya seharian penuh. Wkwkwkwk. Nggak apa-apa. Sungguh, saya sudah biasa dihantui kesedihan dan kegelisahan. #yak #cry

Oleh karena kesedihan dan kegelisahan itu seakan sudah jadi bagian dari hidup saya, maka saya belajar mengatasinya sendiri. Tidak menutup kemungkinan saya minta bantuan ke orang lain juga sih, karena saya percaya, solusi terbaik justru bisa datang dari orang lain kalau kita mau terbuka. Itu juga yang saya sampaikan ke teman tadi. Si teman ini sadar kok, dia harus keluar dari rasa sedih yang mengungkungnya. Hanya saja, kadang ketika dia mencoba cerita ke orang lain, banyak yang salah paham dan mengira dia nggak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Final statement darinya adalah bahwa sebenarnya, dia nggak butuh solusi, nggak berharap apapun, karena dalam dirinya ada keyakinan dia bisa melewati masalahnya. Satu hal yang dia butuhkan hanya afeksi.

Aduh bo, kalimat pamungkas kawan ini somehow memperjelas apa yang saya sendiri rasakan, in some related conditions. It feels like I am talking to the mirror, hahaha. Mungkin kesedihan dan kegelisahan yang begitu besar terlanjur tertanam di alam bawah sadar saya (atau, setiap orang juga punya? Saya kurang tahu ilmu psikologinya, nih). Didasari pengalaman masa lalu seperti yang saya miliki, saya nggak akan bisa betul-betul lepas dari rasa sedih dan gelisah. Kuncinya hanya bagaimana me-manage emosi itu agar nggak berlarut-larut di dalamnya. Saya tahu, saya sering merasa sedih, tapi saya harus punya kendali untuk mengatur kapan dia boleh muncul, kapan dia harus masuk ke dalam kotak emosi yang paling tersembunyi. #sip #ngumpet

Saya masih terus berusaha mempelajari dan memahami diri saya sendiri.
Satu harapan saya, to live my life more happily.

Posted in , , , , , , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.