Pages - Menu

Tuesday, December 5, 2017

Kepada pembaca

Suatu hari, saya meluangkan waktu untuk membaca ulang setiap postingan di laman ini, urut sesuai menu Archive yang ada di sidebar. Saya menelusuri postingan demi postingan sembari mengingat-ingat segala hal yang menjadi dasar tulisan saya, apa yang saya rasakan atau pikirkan pada saat menulis postingan itu.

Postingan tertentu dapat dengan mudah memanggil kembali memori tentang suatu peristiwa, namun beberapa yang lain membutuhkan waktu lebih lama untuk saya sendiri 'ngeh' peristiwa apa yang mendasarinya.

Itu karena blog ini berisi postingan yang begitu acak. Ada cerita saya tentang keseharian. Ada tulisan yang lahir sebagai hasil kontemplasi. Rangkaian kata yang saya labeli 'puisi', juga prosa-prosa fiksi—baik itu fiksi betulan atau pun yang sesungguhnya pengalaman nyata tetapi difiksikan.

Saya juga membaca tulisan-tulisan yang tersimpan sebagai draft sejak zaman dulu kala, yang karena berbagai alasan dan pertimbangan, saya putuskan tidak mempublikasikannya. Beberapa tulisan mulanya sudah tampil di blog ini, tetapi kemudian saya kembalikan ke bagian draft lagi.

Sebagian besar postingan di draft itu adalah tulisan-tulisan yang menurut saya bernuansa 'gelap'. Tulisan tentang kecemasan, kesedihan, ketakutan, keengganan, perasaan tidak nyaman, kesal, amarah, dan sisi gelap lainnya dalam diri saya yang tidak selalu saya tampilkan di keseharian. Tetapi, bukankah postingan yang ter-publish di blog ini juga rata-rata mengangkat tema yang sama?

Sering saya bertanya-tanya, siapa pula yang mengunjungi blog ini dengan sengaja? Apa yang ia pikirkan saat menemui 'sisi gelap' bertebaran di mana-mana? Kesalkah rasanya, ketika sadar dirinya tersasar di belantara?

Itu membuat saya berpikir, ingin berhenti memposting tulisan 'gelap' di laman ini.

Tetapi tampaknya tidak bisa.

Barangkali ada yang sadar, topik postingan belakangan ini pun kian menuju ke arah sana. Semakin egosentris dan melulu soal penulisnya. Masih mending kalau mengandung energi positif, ini yang ada justru sebaliknya. Yap, saya mengaku sering lari ke sini beserta segala sisi gelap saya. Dan, ya, saya melakukannya dengan penuh kesadaran.

Sejak pertama kali dibuatkan blog pada 2007, saya mengenalnya sebagai media untuk menyalurkan pikiran dan perasaan. Lahan berekspresi melalui tulisan. Didorong minat saya terhadap dunia tulis-menulis, juga dilatarbelakangi peristiwa berkabung yang saya alami waktu itu, blog menjadi saluran katarsis yang cukup efektif bagi saya.

Kini, sepuluh tahun berlalu, saya masih nyaman menulis untuk menyampaikan buah pikiran dan segenap perasaan. Blog lah yang saya pilih untuk merepresentasikan kepribadian dan isi kepala yang—menurut saya—paling mendekati aslinya. Blog, dan bukan platform media sosial lain. Termasuk urusan sisi gelap yang tidak saya ekspos di sembarang media. Blog seakan menjadi diary online tempat saya menuangkan segala kisah maupun keluh-kesah.

Oleh karena itu, dear pengunjung belantara sekar,

Blog ini mungkin tidak banyak berisi konten yang bermanfaat bagi pembaca. Racauan tak jelas, pengalaman pribadi berbalut kegelisahan, narasi tentang apa yang ada di angan, siapa yang tertarik membaca tulisan seperti itu? Meskipun saya sangat berminat mengeksplorasi jenis tulisan lain seperti catatan perjalanan, ulasan buku yang saya baca, musik yang saya dengar, film atau pertunjukan yang saya tonton; saya belum bisa menjanjikannya. Ulasan-ulasan semacam itu yang lazim dibagikan kepada publik, kan?

Saya masih akan mengisi blog ini sebagaimana model tulisan yang telah ada. Tidak peduli siapa yang membaca, saya ingin menjadi bebas dalam tulisan. Mengekspresikan diri lewat kata-kata, menjadi liar di belantara. Efek sampingnya jelas, saya bisa terlena untuk membagikan hal-hal yang kelewat pribadi di ranah maya. Untuk itu, biarlah kontrol diri yang bekerja.

Pembaca belantara sekar mungkin teman-teman saya sendiri, atau orang asing entah siapa yang tidak ada urusannya dengan saya di dunia nyata. Saya memang mencantumkan tautan menuju laman ini di profil akun medsos saya yang lainnya. Siapapun dapat mengaksesnya. Tetapi, saya toh masih terkaget-kaget jika ada orang yang saya kenal berkata: ia habis menengok belantara. Tagline di bawah judul laman ini saya buat bukan tanpa tujuan. Itulah sebuah peringatan atas liarnya belantara yang berpotensi memakan korban! (Yak mulai lebay.)

Terakhir. Jika kamu tidak suka dengan melankolia khas saya, kamu tidak perlu membuka belantara ini lagi. Lupakan kalau kamu pernah bertandang ke laman tak menarik ini.

Saya ingin bertapa dengan tenang di belantara.

Mengisi blog seperti memenuhi kebutuhan jiwa.

(Keterusan deh lebay-nya. Terima kasih lho sudah baca sampai akhir. Semoga harimu menyenangkan, ya.)


Yogyakarta, 5 Desember 2017.  04.19 WIB.

Sunday, November 26, 2017

Orang-orang dalam mimpi

Dulu, selepas kepergian ibu, Echa-kecil yang baru berkenalan dengan dunia tulis-menulis kerap menuangkan kerinduannya pada ibu lewat puisi. Dalam setiap puisinya, hampir selalu terselip permohonan agar ibu datang menemuinya lewat mimpi. Itu karena Echa-kecil belum siap berpisah dengan ibu, belum ingin ibu hilang dari kesehariannya.

Maka apabila suatu malam Echa-kecil memimpikan ibunya, ia akan berusaha mengingat detail mimpi itu, kalau perlu mencatatnya dalam buku harian agar tidak lupa. Orang-orang yang dijumpai dalam mimpi menjadi penting, terlebih jika mereka sosok yang kaukenal dan sudah lebih dulu meninggalkan dunia.

Akhir-akhir ini, aku terus-menerus memimpikan bapak. Setiap kali jatuh tertidur dalam keadaan letih, selalu bapak yang hadir dalam mimpiku. Benar, itu bapak. Aku ingat dengan jelas saat terbangun. Tapi aku tidak selalu berhasil mengingat detail maupun jalan ceritanya. Aku hanya yakin bahwa bapak baru saja mampir, ditandai perasaan spesifik seperti habis bertemu orang yang kausayangi, kauhormati. Kehadirannya meninggalkan perasaan tenang, diayomi. Persis seperti ketika bapak masih ada.

Terkadang aku juga masih memimpikan ibu. Ibu ada di sana, sepanjang mimpi dalam tidurku, atau muncul sekelebat saja. Tidak mesti bisa kuingat detailnya. Hanya saat terbangun, aku sungguh yakin baru saja memimpikan ibu.

Kata tante, memang benar orang-orang yang sudah meninggal dapat hadir di mimpi kita. Kalau mereka hanya menampakkan diri dan tidak bicara, artinya benar itu roh orang meninggal yang berkunjung ke mimpi orang hidup. Barangkali mereka datang karena rindu pada kita, atau untuk menjawab kerinduan kita. Tetapi jika kita mimpi bercakap-cakap dengan mereka, tandanya sosok itu hanya jin yang menyamar menyerupai orang yang kita kenal. Maka lebih baik tak perlu dipikirkan apa maknanya.

Beberapa kali sosok yang hadir dalam mimpiku persis ibu, ia sungguh ada di sana, bersikap tenang saja, duduk maupun berdiri, di sudut maupun di tengah-tengah kami. Jika aku atau tokoh lain dalam mimpiku menyapa, sosok ibu hanya membalas dengan senyum. Benarkah itu roh ibu, ibuku, datang ke mimpiku? Sering pula aku memimpikan bapak, ada adik-adik juga, kami berbincang sebagaimana sebuah keluarga sedang membicarakan suatu urusan. Kalimat-kalimat yang keluar dari lisan bapak bernada nasihat untuk anaknya. Benarkah itu penyamaran jin, menyerupai bapakku, datang ke mimpiku?

Berbeda dengan Echa-kecil, kini setiap kali memimpikan bapak atau ibu, aku--yang kini sudah besar untuk memahami--tidak lantas menganggap itu benar-benar roh mereka yang menjengukku.

Bisa jadi benar, dari perasaan spesifik yang mereka tinggalkan, Tuhan sedang menyuruh mereka berkunjung. Kemungkinan lainnya, mimpi-mimpi itu wujud dari akumulasi rasa rindu, pikiran alam bawah sadar sehari-hari tentang bapak dan ibu, dan betapa aku tak lagi punya akses untuk bertemu.

Echa-besar masih menulis untuk mengenang orang-orang yang lebih dulu pergi, Pak, Bu. Hanya saja ia tak lagi minta dikunjungi lewat bunga tidurnya setiap malam, karena ia telah paham: perbedaan dimensi mengubah arti sebuah perjumpaan. Bertemu lewat mimpi justru terasa menyesakkan, kala ia bangun dan mendapati di dunia ini ia masih sendirian.

sendiri di perjalanan--sama sekali bukan sesuatu yang aku minta

Yogyakarta, 26 November 2017.

Wednesday, November 22, 2017

Tentang bertahan hidup

Saya selalu merasa kehidupan sosialmu berjalan sangat baik, Chak, kok bisa sih? Kamu terlihat punya banyak teman; hari ini dengan si Anu, hari berikutnya bisa bertemu yang lain. Hidupmu sepertinya ramai sekali dengan peristiwa ini dan itu. Sementara saya, saya terjebak di lingkaran yang begini-begini saja. Lurus sekali, tidak belok-belok, dan justru jadi tidak asyik. Saya tahu saya sebenarnya bisa mencoba keluar, tapi saya terlalu malas melakukannya. Kebanyakan orang memang begitu, kan? Tahu problem mereka, bahkan tahu solusinya, tapi tak kunjung bergerak menyelesaikannya. 

Itu kata seorang kawan kepada saya, kemarin, saat kami mencuri waktu di tengah perkuliahan untuk makan sore bersama.

Saya cengengesan. 

Berarti saya berhasil membuat orang mengira begitu, ya, jawab saya. Saya berhasil membentuk citra diri sebagai orang yang hidupnya menyenangkan.

Ya, oleh karenanya saya perlu belajar dari kamu, ujar si kawan.

Cengengesan saya makin lebar.

Tentu saja kami tidak mengobrol menggunakan saya-kamu; tidak seformal itu. Kami pakai bahasa percakapan santai, terkadang diselingi bahasa jawa. Saya dan kawan ini dulu sekelas di tahun pertama SMA. Tahun berikutnya, saat penjurusan, dia masuk IPA sedangkan saya memilih IPS. Tapi kami masih sering hangout, saling mengunjungi rumah satu sama lain, dan masih menjalin pertemanan hingga saat ini, tahun ketiga di bangku kuliah. Saya di Fakultas Ilmu Budaya, dia di Teknik.

Kemarin, masih sambil cengengesan, saya berkata padanya, kamu kok kayak nggak tahu saya, sih? Nggak, hidup saya nggak semenyenangkan itu. Saya sering berada di situasi buruk. Merasa sendirian, nggak punya teman. 

Kawan saya bersikeras, tetap saja. Hidupmu oke. 

Yah, dia nggak secara gamblang mengatakan “hidupmu oke”, begitu. Tetapi yang saya tangkap, dia sungguh-sungguh menganggap hidup saya dipenuhi hal-hal oke. Itu yang membuat saya heran. Dia kan sudah lama mengenal saya. Dia tahu lika-liku hidup saya, betapa saya punya sisi yang amat rapuh, dapat runtuh menjadi keping-keping hanya dalam sekali sentuh. Hidup saya sama sekali nggak seperti sangkaannya. Dia seharusnya paham.

Eh, kok maksa. Wkwk.

Sekarang, saya pikir-pikir lagi... tidak penting bagi saya memusingkan anggapan kawan ini. Bukankah bagus jika orang melihat yang oke-oke saja dari hidup saya? Barangkali, ini dampak dari apa yang saya citrakan sehari-hari—meski saya tidak bermaksud membangunnya dengan sengaja. Atau, mungkin, ini hasil sugesti yang selama ini saya bisikkan pada diri sendiri, berulang kali: 

Hidupmu oke, Chak, kamu dikelilingi orang-orang hebat, berkawan dengan mereka menularkan semangat. Niatmu untuk bertahan hidup pun sudah oke, meskipun kadang jalanmu terseok-seok, pandanganmu buram saat melihat masa depan, setidaknya kamu punya tujuan. Itu yang paling penting. Bertahan hiduplah untuk menjaga nyala cita-cita dalam dirimu. Hidup dengan baik, untuk dirimu sendiri, untuk orang-orang yang kamu sayangi dan menyayangimu.

Hidup, bernapaslah, jaga dirimu baik-baik.
Yogyakarta, 22 November 2017.

Friday, November 10, 2017

Ice cream on gloomy days

“Kau pernah bilang, kedai kopi di belakang kampusmu menyediakan kopi terbaik.”
“Aku memang pernah bilang begitu.”
“Dengan harga terjangkau kocek mahasiswa proletar macam aku?”
“Tepat. Lagipula kau sebenarnya tidak proletar-proletar amat.”
“Kita ke sana, kalau begitu.”
“Aku tidak ingin kopi—
“Pasti ada minuman lain—
“Aku sedang ingin es krim.” 
“Di cuaca begini? Kau bercanda? Gerimis rapat sejak dini hari, langit muram, kita butuh minuman panas—
“Aku tidak akan ikut ke kedai kopi.” 
Ck. Payah. Untuk apa aku menemuimu kalau—
“Untuk menemaniku makan es krim?”
“Dasar keras kepala. Tapi kau tahu aku menyukai tantangan.”
“Tentu aku tahu. Dan kau sebaiknya mencoba tantangan itu. Kedai gelato?”
“Terlalu banyak pilihan rasa.” 
“Memang itu yang mereka jual, bodoh.”
“Es krim stik saja, yang dijual oleh minimarket.”
“Sungguh tidak elit— 
Pilih yang cone.”
“Es krim cone.”
“Es krim cone di cuaca dingin.”
“Terbaik!”

+++

Saya pernah bilang, kan, kalau saya pengin nulis fiksi-romance lagi. Sudah dua draft saya bikin dengan judul yang sama, topik yang sama seperti di postingan ini, tetapi selalu mandeg di tengah jalan. Bosan dengan gaya penceritaan saya yang begitu-begitu saja.

Tapi, gagasan soal es krim di hari-hari hujan terus mengganggu! Rasanya ingin sekali menuliskan itu, meskipun bukan dilatarbelakangi pengalaman pribadi.

Pada akhirnya, gagasan itu menemukan wujudnya dalam dialog satu babak ini. Deskripsi latar, suasana, penokohan, gestur, saya serahkan seluruhnya pada imajinasi pembaca. Oke? Sip!

Thursday, November 9, 2017

Halo, Pak

Halo... Pak?

Jogja sedang dingin-dinginnya. Angin malam masuk lewat celah atap rumah kita yang tak pakai eternit, langsung langit-langit genteng yang tinggi saja. Bapak belum tahu, kan, jendela dekat meja makan pecah kacanya. Dengan bantuan tetangga, kaca diganti anyaman kawat agar tikus tak masuk seenaknya. Angin lah yang kemudian menyelinap berlomba-lomba, menembus tirai dan sampai pada badanku yang terduduk di ruang tengah, di depan televisi yang berminggu-minggu tidak nyala.

Perutku jadi mulas, Pak, ingin kentut melulu.

Dulu selalu bapak yang mudah terkentut-kentut, suaranya nyaring tapi tak bau.

Halo... Pak?

Sekaten baru mulai dan langsung ramai, suara kereta-keretaan dan tong setan itu terdengar jelas sampai ke rumah. Kalau pulang lewat alun-alun pasti kena macet, apalagi malam hari pas tidak hujan dan orang-orang tumpah cari hiburan. Parkir motornya makan separuh ruas jalan. Ingin terbang saja rasanya, biar bebas dari kemacetan.

Tak ada Sekaten pun jalanan Jogja sudah ramai, Pak, apalagi arah menuju kampus. Berangkat kuliah sering terburu-buru. Agak ngebut biar mempersingkat waktu, tetap patuh rambu-rambu. Barangkali geleng-geleng bapak lihat cara berkendaraku, anakmu badannya kecil, motornya besar, sok-sokan mau nguasai jalanan.

Jalan ceritaku lompat sana-sini ya, Pak?

Tapi bapak dengar, kan?

Dari jauh sana, bisa dengar?

Sungguh banyak cerita, kali ini dicukupkan dulu. Betapa Sekar rindu, kelewat rindu sampai meracau rangkai monolog semu.


Yogyakarta, 9 November 2017  |  00.49 WIB


Wednesday, November 1, 2017

Reality vs virtuality

pic from here
Saya nggak yakin mana yang lebih dulu terjadi: saya merasa pikiran keruh gara-gara berlebihan mengkonsumsi konten-konten di media sosial, lalu kuliah Antropologi dan Teknologi semakin mempertebal perasaan ituATAU kuliah antro & tekno-lah yang lebih dulu membentuk pemikiran saya untuk lebih hati-hati menempatkan diri antara reality vs virtuality. Haduuu. Wkwk.

Terhadap sesuatu yang namanya media sosial, terus terang saya sempat merasa agak kecanduan. Terutama platform yang menonjolkan konten-konten visual itu tuh. Rasanya nggak bisa kalau dalam sehari nggak buka aplikasi yang satu itu. Nggak harus unggah posting baru, yang pasti jari-jari selalu aktif scrolling timeline tiap ada waktu senggang. Nontonin postingan orang-orang yang terhubung dengan saya di media itu, nge-love-in foto-foto yang sesuai sama minat dan aliran saya.

Saya bahkan nggak repot-repot memperhitungkan seberapa berfaedahnya aktivitas di media itu buat kehidupan (nyata) saya. Faedahnya yaa, saya jadi punya sumber hiburan, bisa mengakses informasi dari akun-akun yang saya ikuti, atau sekadar jadi tau aja aktivitas teman-teman. Well, atau jangan-jangan ini hanya upaya pembelaan diri aja?

Kalau mau bilang kecanduan Instagram mah bilang aja kali, Chak. Nggak usah kebanyakan ngeles. EHHH, kesebut deh nama platformnya. Wkwk.

Suatu sore yang ngantuk, kuliah antro & tekno membahas tentang bagaimana orang-orang sekarang (terutama masyarakat modern di perkotaan) punya pilihan untuk hidup di 'dunia lain' bernama dunia virtual. Dunia yang memiliki aturan main tersendiri dalam membentuk relasi-relasi antarperan, di mana identitas individu bebas dikonstruksi ulang. Aturan main yang jelas berbeda dengan di dunia nyata tempat kita tinggal.

Hidup (di dunia nyata) bersifat sementara dan manusia bisa mati. Saat seseorang meninggal dunia, ia terlepas dari struktur di mana ia memiliki peran di dalamnya. Kehidupan berhenti bagi si mati, tetapi tidak untuk orang-orang di sekitarnya. Orang akan mengenang si mati, bisa dengan ziarah ke makamnya, meletakkan karangan bunga, atau mengirim pengharapan melalui doa.

ATAU, didukung teknologi masa kini, orang bisa saja menggali memori tentang si mati lewat foto-foto. Rekaman gambar bergerak. Rekaman suara. Akun media sosial. Segala hal berbentuk data yang merupakan versi digital dari entitas individu. Apa yang kami sebut digital self dalam pembahasan kuliah saat itu.

Dosen kami memantik diskusi dengan sebuah statement: orang membuat akun media sosial dan membangun dirinya versi digital, salah satu tujuannya agar ia tidak dilupakan, nanti, jika raganya sudah mangkat dari dunia (nyata). Peserta kuliah menanggapi dengan memberi contoh beberapa kasus di mana orang sudah meninggal namun akun media sosialnya masih ada. Besar kemungkinannya, orang-orang yang mengenal si mati akan tetap berkunjung ke laman akun si mati untuk memposting kalimat yang seakan mengajak ngobrol pemilik akun. 'Apa kabar, bro? Semoga tenang ya di sana', 'Selamat ulang tahun, aman kan di alam baka?', hal-hal semacam itu.

Waktu itu, saya lebih banyak menyimak dan tidak melibatkan diri dalam diskusi. Alasannya karena saya mencoba merefleksikan pada diri sendiri. Sesekali saya memang masih membuka profil almarhum bapak di Facebook untuk melihat apa yang orang posting di sana.

Sebentar, coba kita berhenti ngomongin kematian. Di dunia ini, apa sih yang ditakutkan oleh manusia hidup? ujar Mas Indy pada satu titik ketika peserta kuliah mulai kehilangan arah pembicaraan (halah). Mas Indy adalah dosen saya untuk mata kuliah antro & tekno.

Dua detik, kelas hening.

Manusia takut hidup sendiri, Mas, Mbak Fia menjawab dengan tone suara yang bulat dan mengalir tenang mirip Mamah Dedeh kalau lagi menanggapi curhatan. Manusia takut 'nggak dianggap', tambahnya.

Exactly. Tidak dianggap oleh siapa? Oleh orang-orang di sekitarnya? Mas Indy mengklarifikasi, lalu peserta kuliah mengangguk-angguk, mengamini dalam hati.

Saat itu, saya berpikir... AHHH benar juga?!?!?!?! Padahal saya udah mikir keras buat nemuin sesuatu dari pengalaman saya yang bisa dipakai buat menjawab pertanyaan sederhana itu, tapi kok ya nggak kepikiran sampai Mbak Fia mengucapkannya.

Manusia takut hidup sendiri, takut keberadaannya nggak dipedulikan oleh orang-orang di sekitarnya... haaa saya banget! Saya yang dikit-dikit ngerasa nggak enak hati, ketika teman yang dulunya sering ke mana-mana bareng tiba-tiba nggak pernah bersinggungan lagi. Ada atau tidaknya saya, rasanya nggak dipedulikan lagi. Jika bertemu di keramaian, dia mengobrol dengan teman yang lain, tapi saya kok dicuekin. Ya ngobrol sih, kadang-kadang, tapi biasanya karena saya yang nimbrung duluan, dan kami bicara seperlunya saja. Saya jadi cemas, apa yang salah dari saya? Kenapa dia seakan nggak menganggap penting keberadaan saya? (Ya emang lo bukan orang penting, Chak.)

Pengabaian ini saya rasakan tak hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia virtual. Dulu, kalau ada apa-apa dia selalu menghubungi saya lewat aplikasi Whatsapp. Dia meninggalkan komentar di postingan saya di Instagram, atau membalas Instagram story yang saya unggah. Sekarang hal itu tidak dia lakukan lagi, dan saya jadi resah sendiri. (Atau saya aja yang terbawa perasaan, sih?)

Salah satu yang saya pelajari dari kelas antro & tekno adalah bahwa dunia virtual berdampak pada bagaimana orang menilai kualitas sebuah hubungan. HEHE makin njelimet yak. Maksudnya gini, dulu sebelum ada media sosial, orang bergaul secara langsung. Ada tatap muka dan interaksi yang bisa menunjukkan bagaimana hubungan antarindividu berjalan. Akan sangat jelas ketika orang menghindari bertemu denganmu, cukup membuat bertanya-tanya apa yang salah dari hubungan kalian.

Tapi, sekarang, hubungan yang terjalin di dunia nyata dan dunia virtual bisa jadi nggak sejalan. Orang bisa baik-baik aja di dunia nyata, tapi di dunia virtual menunjukkan sikap kayak 'saya bukan teman kamu'. Atau sebaliknya. Di media sosial rajin kasih likes untuk postingan kita, berkomentar sok akrab, tapi di dunia nyata nggak pernah menyapa sama sekali. Gitu deh pokoknya.

Teman saya ada yang tertarik mengamati realitas sosial ini, tentang dunia offline/online dan bagaimana orang sekarang terfasilitasi untuk punya pilihan 'wajah' yang mau ditunjukkan kepada publik. Khususnya di Instagram, di mana banyak bermunculan fenomena second account sebagai akun alternatif di samping akun utama seseorang. Ada yang menjadikan akun kedua sebagai galeri untuk menunjang hobi atau bisnis, ada pula yang memakai identitas palsu/anonim, serta di-setting privat. Anggaplah akun utama Instagram merupakan 'wajah' atau citra kedua dari seseorang di dunia nyata, bagaimana dengan akun kedua, ketiga, fitur close friend, dan akun-akun media sosial lainnya?

Menurut saya, orang yang nggak ambil pusing dengan urusan per-medsos-an ini tuh hebat! Nggak mudah untuk mengesampingkan kehidupan dunia virtual, di mana teman-temanmu semuanya berkecimpung di situ. Kadang, jika tak ada hasil untuk pencarian akun seseorang di dunia virtual, orang malah merasa aneh. Masa sih namanya nggak terdata di jaringan internet? Nggak punya akun media sosial apapun? Ada beneran nggak nih orangnya di dunia nyata? Dsb, dsb. Padahal, ya, suka-suka dialah mau bikin akun medsos apa engga. Mau pakai LINE apa engga. Mau daftar Instagram engga. Barangkali pilihannya hanya untuk hidup di dunia nyata, bukan di dunia virtual. Dia tidak berminat membuat dirinya dalam versi digital, dan kita harus menghargai itu.

Anyway, platform Blogger ini juga termasuk media sosial kan ya. Nggak ada jaminan apa yang saya tampilkan di sini persis merepresentasikan diri saya yang sebenarnya. Pusing kau Chak? Punya akun Facebook, Twitter, LINE, Whatsapp, Instagram, Blogger pulak?!

Bijaksanalah kau Chak. Pakai tu ilmu yang kaudapat dari kuliah Antropologi dan Teknologi, jangan sampai dunia virtualmu mengaburkan nurani dan kemanusiaanmu di dunia nyata.

Cheers,

Tuesday, October 17, 2017

Bermimpi besar


Dan tak ada yang lebih menyenangkan dari berdekatan dengan orang-orang yang punya mimpi besar.



Itu kutipan dari novel kesepuluhnya Cik Andrea Hirata, Sirkus Pohon. Aku belum baca. Cuma lihat kutipan itu di Instagram. Wkwk. Bagus e! Memberi alasan kenapa kadang-kadang aku merasa sangat bersemangat ketika di dekat orang tertentu. Yang punya mimpi besar. Yang berani bercita-cita setinggi langit.


Dan, mungkin juga, kenapa aku senang menyerap energi positif dari mereka, adalah karena aku tahu, mereka tidak hanya punya mimpi besar, tetapi juga penuh kesadaran dalam usaha menggapainya.


Tertanda, aku
yang masih mencoba merangkai mimpi-mimpi untuk diwujudkan segera.