Archive for January 2017

Rindu Naya

Adik bungsu, selalu mengeluh rambutnya tak segera panjang, malam ini mengirim foto diri, rambutnya lurus sampai ke pundak, matanya berkedip genit, dibingkai kacamata kotak besar yang disangga hidung kecil, aku rindu. Rindu!

Posted in , , , , | Leave a comment

Sampai kau sehat, Tung.

Terhitung sejak bulan Desember 2016, saya memutuskan untuk mengistirahatkan teman perjalanan saya selama ini: Honda C70 'Pitung' alias BMW alias Bebek Merah Warnanya. Setelah bapak meninggal, saya kurang telaten merawatnya sehingga sering menemui masalah dengan si Pitung saat berkendara. Kondisi terakhir si Pitung kendor rantainya, sadel nyaris lepas, kaca spion kiri kopong dan lampu sign kanan belakang mati (ini dari dulu memang sering korslet sih). Sementara itu, mesinnya masih normal kok... atau jangan-jangan saya saja yang merasa tidak ada masalah? :(

Sebenarnya, saya rutin pergi ke bengkel langganan bapak di Jalan Tunjung untuk ganti oli. Kalau ada masalah sekecil apapun, saya juga langsung membawa si Pitung ke sana. Begitu juga sebelum liburan kemarin, saya sudah bersiap membawa si Pitung ke bengkel, niatnya sekalian mau ditinggal supaya bisa dicek keseluruhan, termasuk diganti rantainya. Tetapi tanpa saya sadari, ternyata sudah tambah satu masalah lagi: rem belakang ngunci, alhasil ban nggak bisa berputar dan motor jadi nggak bisa dipindah. Ditemani tante, saya tetap pergi ke bengkel untuk nembung empunya bengkel—meminta tolong kalau-kalau ia bersedia datang ke rumah untuk mengecek si Pitung, tak hanya pitungnya Sekar saja tetapi juga pitung-pitung bapak yang lain, yang sudah lama ndongkrok di teras depan.

Atas bantuan om, saya membeli motor matic yang kini saya gunakan sehari-hari. Ketika punya motor baru, umumnya orang bakal merasa senang kan? Tapi, yang saya rasakan justru sebaliknya. Saya sedih harus meninggalkan si Pitung. Saya merasa kehilangan jati diri (teman saya yang lihat saya naik matic juga sempat bilang begitu!). Tak akan ada lagi teman yang menyapa saya di jalan, yang mengenali saya tanpa melihat wajah. Di kota ini, tak banyak anak gadis yang begitu percaya diri naik motor lawassehingga ketika ada yang lihat perempuan berbadan kecil di atas Pitung merah, bisa dipastikan itu Sekar.

Lebih dari itu, ada yang menyesakkan hati saya: rasa bersalah kepada bapak yang sudah mempercayai anak perempuannya untuk menjaga pemberian darinya. Pemberian yang sekarang disebut juga sebagai warisan. Harusnya, saya bisa merawat Honda tua dari bapak. Harusnya, saya menyediakan waktu untuk selalu memperhatikan kondisi si Pitung, jangan sampai telat memperbaiki apalagi mogok tak bisa dipakai. Kenyataannya, saya tidak mampu.

Sedih benar waktu nulis ini weh. Ingin saya membenarkan kata-kata Bu Sum, “tidak apa-apa, mbak. Motor matic memang dibutuhkan kok, apalagi untuk perjalanan jauh. Supaya mbak lebih aman di jalan," (diucapkan dalam bahasa jawa). Mungkin yang ditekankan Bu Sum bukan matic­-nya, melainkan motor keluaran baru-nya. Sebab yang saya tahu, motor matic justru berpeluang lebih besar mengakibatkan kecelakaan kalau tidak digunakan dengan hati-hati.

Hmm, pada dasarnya memang kita harus selalu hati-hati dalam berkendara, ya. Sekar tidak akan lupa pedoman safety riding yang bapak ajarkan kok. Secepatnya pitung-pitung di rumah akan diperbaiki. Besok kalau si Pitung sudah sehat, saya tentu dengan senang hati kembali padanya. Oiya, Pak... kami masih mencari-cari BPKB pitung-pitung itu, bapak simpan di mana, Pak?

Memorinya itu lho, terlalu banyak. Si Pitung jadi andalan sejak saya kelas 1 SMA.

Dia juga membawa kami mudik ke Semarang! (Kiri: pitung Sekar, kanan: salah satu pitung bapak)


Dengan berat hati,

Posted in , , , , , | 5 Comments

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.