Archive for February 2017

Berdegub

Jarak kami tak sampai sepuluh meter dari panggung. Tapi tetap saja, tinggi badan yang minim ini jadi kendala. Jinjit-jinjit dan celingukan menjadi sebuah keharusan demi mencari celah di antara kepala manusia-manusia lain yang berjubelan di depan kami.

Oh, oh!

Sosoknya terlihat jelas di bawah lampu sorot berwarna putih.

Ber-de-gub. Kencang.

Bukan karena akhirnya saya bisa sedekat ini dengan idola, melainkan... empat speaker raksasa telak menghadap ke arah kami. Bisa pulang tanpa meninggalkan jantung berkelenyar di lantai GOR adalah sebuah keajaiban bagi saya!

    Tidaklah mawar hampiri kumbang
    Bukanlah cinta bila kaukejar

Bait itu terus memukul-mukul membrana tympani. Ditambah lagi kalimat kawan saya -- entah dia dapat dari novel apa (novel, bayangkan! Bukan kitab suci atau Buku Pedoman Perasaan Manusia atau sumber yang lebih valid) -- saya beruntung sebab martil, landasan, dan sanggurdi masih utuh. Tapi, eh, telinga memang aman, sesungguhnya hati saya yang menjadi rentan.

Begini katanya:

Takdir hanya terjadi pada kali pertama, sedang yang selanjutnya tergantung pilihan kita.

Ya, ya, terserah. (Dia seakan menyindir keputusan saya beberapa waktu sebelumnya, untuk tidak melakukan apa-apa.)

Saya menikmati penyesalan ini! Berdegub. Cepat.

    Tidaklah mawar hampiri kumbang
    Bukanlah cinta bila kaukejar
    Tenanglah, tenang, dia 'kan datang.

*ditulis sambil Dansa Panik-ria karena besok kelompok saya dapat giliran presentasi pertama. Mata kuliah Etnografi Wilayah Eropa. Ber-de-gub, betapa cemasnya!!!

Wish us luck,
 

Posted in , , , , , , , , | 2 Comments

This doll is not a toy!

Orang yang suka pamer itu nggak baik. Tapi sebuah pameran, bagi saya selalu menarik. Lha? Nggak nyambung, monggo disambungin sendiri ya.

Mengunjungi pameran, apapun itu, selalu menyenangkan bagi saya. Pameran foto, lukisan, instalasi kreatif, hasta karya, pameran wayang, mesin jahit... apapun. Apalagi kalau lihat pamerannya dengan yang tersayang. Siapa nih maksudnya? Tak lain dan tak bukan adalah sahabat-sahabat terkasih. Wakakak. Bebas sih, yang penting punya ketertarikan yang sama terhadap pameran itu juga. Kalau nggak, nanti ujungnya kita sendiri yang asyik menjelajah pameran sampai ke detail-detail obyeknya, sementara si kawan ini lewat sepintas saja dari pintu masuk, langsung nunggu kita di pintu keluar. Hehe.

Bagaimana dengan menyelenggarakan pameran? Tentu tak kalah seru dan menyenangkan. Januari lalu, saya terlibat dalam penyelenggaraan pameran yang unik, bersama kawan-kawan relawan Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga. Tajuk pamerannya: Boneka (Bukan) Hanya Mainan. Judul posting ini merupakan tajuk asli pameran dalam bahasa inggris.

Desain postcard terlaris: si boneka kolase -- pojok kiri atas, icon pameran ini.
Pameran hasil riset ini dikuratori oleh Pak Rudi Corens. Tak tanggung-tanggung, risetnya membutuhkan waktu selama dua tahun! Pameran ini diperuntukkan bagi dewasa (14 tahun ke atas), karena kontennya memang tak cocok untuk anak-anak. Sesuai tajuknya, boneka yang dipamerkan di sini bukanlah boneka untuk dimainkan. Ada boneka terkait aspek ritual, boneka sebagai propaganda politik, peran boneka dalam suatu kepercayaan, atribut praktik kekerasan, mitos, dan masih banyak lagi... pokoknya hal-hal yang abai dari bayangan kita kalau mendengar kata "boneka".

Misalnya nih, teru teru bozu yang merupakan boneka tradisional dari Jepang, dipercaya dapat menangkal hujan. Boneka sederhana yang terbuat dari kain putih ini akan digantung di luar jendela dengan harapan cuaca akan cerah. Ada juga nini thowok, permainan (atau lebih tepat disebut ritual) khas Jawa yang dijalankan dengan memasukkan roh ke dalam sebuah boneka. Boneka tersebut akan bergerak dengan bantuan selendang yang ditarik oleh dua gadis. Lalu ada persilih, boneka yang dipercaya oleh masyarakat Batak Karo dapat melenyapkan penyakit. Dukun Batak Karo memerangkap penyakit ke dalam boneka tersebut, dan ketika boneka dari bahan organik itu mulai membusuk, dukun akan membuangnya. Macam-macam lagi deh yang lainnya. Tak hanya boneka asal Indonesia, pameran ini juga banyak menampilkan boneka berikut kisah-kisahnya dari berbagai belahan dunia.
 
Nini Thowok / Nini Thowong / Tjowongan
Bertempat di Jogja Gallery, pameran ini digelar selama 10 hari sejak tanggal 17 sampai 26 Januari. Pembukaannya ditandai dengan gunting pita oleh GBPH. H. Prabukusumo dan dihadiri banyak rekan Pak Rudi sesama seniman dari berbagai negara. Duta Besar Belgia pun turut hadir bersama istrinya. Waktu pembukaan itu, kami panitia pameran mengenakan pakaian adat Jawa, saya kebagian job desc jaga sisi barat, lantai 1 galeri.

Rasanya mondar-mandir mengawasi objek dan pergerakan pengunjung, sambil pakai kebaya dan berkalung co-card sebagai relawan museum sekaligus panitia pameran tuh... gimana ya, make me proud of myself, begitu. Kedengarannya hiperbolis, tapi itulah yang saya rasakan (ah tenane?).

Tenan! Sejak bergabung menjadi relawan Museum Kolong Tangga, saya selalu ingin memberikan kontribusi terbaik untuk museum ini. Museum sederhana, namun punya sejuta makna bagi kami para relawannya. Kami senang, pameran Boneka (Bukan) Hanya Mainan berhasil menarik atensi publik hingga total pengunjung sampai dengan hari terakhir mencapai 1500 orang. Pada malam terakhir itu, kami bahkan menerima kunjungan siswa salah satu sekolah yang amat antusias mengamati objek pameran, dipandu oleh beberapa panitia.

Demi memaparkan banyak informasi hasil riset, displaynya mirip majalah dinding gini.

Ledhek Gogik atau wooden wife, dikenal di negara-negara Asia Tenggara.

Suasana galeri.

Section yang menurut saya paling meriah dan unyu, nggak seseram yang lain.

The man behind the show: Pak Rudi -- rambutnya sudah putih semua! :D
Senang deh pokoknya bisa terlibat dalam pameran ke-delapan Museum Kolong Tangga. Melalui pameran ini, saya memperoleh banyak hal. Selain wawasan tentang sisi lain boneka, saya juga belajar bahwa tidak semua orang suka pergi ke pameran seperti saya.

Jadi, ceritanya... kemarin tuh saya mengalami kegagalan dalam mengajak seseorang untuk menengok pameran ini. Hahaha. Tolong bacanya jangan serius-serius. Saya nggak apa-apa kok. Banyak kawan lain yang berkenan mampir. Terutama anak-anak Antro. Juga kawan-kawan SMA. Terima kasih kepada segenap pengunjung, terlebih yang telah menuliskan masukan di buku kesan-pesan!

Silakan scroll akun-akun media sosial Kolong Tangga ya, buat kamu yang tertarik mengetahui soal pameran kemarin, atau penasaran dengan kegiatan museum kami selama ini. Begitu pula jika hendak bergabung menjadi relawan, kami akan sangat terbuka menerimamu! Terus nanti ketemu saya. Hehe (abaikan).

Sampai jumpa di pameran Museum Kolong Tangga selanjutnya!

Cheers,

Posted in , , , , | 2 Comments

Pohon Tumbang


gambar pinjam dari -
Sore itu akhirnya Tuhan mengizinkan kami bertemu lagi. Saya dan beberapa teman baik masa SMA. Iya, mereka ini yang sempat membuat saya kesal karena sibuknya pada gak bisa diganggu gugat, bikin saya merasa ditinggal sendirian saat sedang pusing-pusingnya.

Kami berkumpul dan ketawa-ketiwi layaknya tak terjadi apa-apa. Ya, memang yang mutung kan hanya saya seorang, hahaha. Eh nggak ding. Ada satu orang lainnya yang pernah meledak juga.

Jauh-jauh hari saya sadar, harusnya saya bisa toleran sama kesibukan mereka. Pokoknya kalau saya ingat lagi soal mutung saya itu, geli sendiri deh. Hehe.

Pertemuan kami sore itu sungguh berkah karena terjadi di bawah guyuran hujan lebat (ceileh). Meski sudah pakai jas hujan, tetap saja separuh baju kami kuyup saat sampai di tempat janjian. Saat bubaran, gerimis masih tipis, tapi paling tidak pandangan ke jalan sudah lebih jelas. Tak seperti sorenya ketika hujan deras menjadikan segala di sekitar tampak putih buram.

Waktu itu ba’da maghrib. Kawan saya ada yang mau lanjut nugas, ada yang mau rapat. Satunya lagi mau pulang. Saya juga pulang. Belum jauh motor saya berjalan, arus lalulintas tersendat. Ada pohon tumbang di daerah Kotabaru. Persis di depan toko buku favorit saya.

Pohon besar yang tumbang itu menjadikan jalur kendaraan ke arah selatan tak bisa dilintasi. Orang-orang berkaus oranye dengan lambang SAR tersemat di dada stand by di sekitar lokasi. Ada yang memberi arahan kepada pengguna jalan agar berbagi jalur. Sementara yang lain mengeksekusi batang pohon dengan gergaji mesin,
 
Kaus oranye yang dipakai orang-orang itu.

Sama seperti yang saya lihat di lemari bapak.

Sepanjang perjalanan pulang, pikiran saya melayang pada sosok bapak. Saya tidak pernah melihat bapak saat menunaikan tugas bersama kawan-kawan SAR. Saya hanya mendengar cerita yang ia bagi, sesampainya bapak di rumah.

Cerita-cerita yang mengesankan.

Wididididi! Kangen, Pak.

Posted in , , , , , | Leave a comment

Tak Mudah Mengatakannya

Wajah saya amat jarang dipoles kosmetik. Paling-paling sebatas sunscreen dan bedak tabur yang saya bubuhkan jika hendak keluar rumah. Tetapi hari ini, ada yang mengharuskan wajah saya dirias sedemikian rupa. Supaya tak tampak pucat di depan kamera, katanya. Awalnya, saya ragu, khawatir kulit saya tidak cocok dengan kosmetik yang macam-macam. Namun akhirnya saya membiarkan si mbak perias "menggarap" wajah saya, menarikan kuas untuk meratakan foundation, membuat contour, dan entah apa lagi namanya.

Mbak perias itu berkata, hidung saya bagus. Wajah saya simetris. Saya bilang, sebelah alis saya lebih tinggi daripada yang lain, dengan bentuk tajam yang saya sebut 'alis jahat'. Mbak perias terkekeh. Kami lalu membicarakan hal lain. Ia menanyakan soal kuliah, tempat tinggal saya, dan kami juga sempat bertukar pandangan tentang insiden yang menimpa Mapala yang santer diberitakan media. Tak lama kemudian, saya selesai diriasnya. 

Masih ada waktu beberapa menit sebelum taping untuk acara talkshow dimulai. Kami dipersilakan menikmati kudapan di sisi kolam renang yang birunya seakan memanggil-manggil untuk berendam. Saya menghampiri salah satu meja. Mbak yang tadi merias saya duduk di seberang sambil mengunyah risoles.

"Papah sama mamahnya masih muda, ya."

"Eh?" Saya batal menyeruput teh. Cangkir yang sudah setengah jalan saya letakkan kembali di atas meja.

"Iya, usiamu sembilan belas dan kamu anak pertama. Papah-mamahmu pasti masih muda, kan?" Perias itu memperjelas maksudnya.

"Oh..." Saya tak menemukan kalimat untuk melanjutkan 'oh' saya. Tepatnya, tak mampu mengatakan yang sebenarnya. Hanya menyambung dengan bisikan dalam hati: ya, bapak dan ibu saya masih muda saat mereka meninggal dunia... 

Terkadang, saya memilih tak menceritakan hal tersebut kepada orang yang baru saya kenal -- bahwa bapak dan ibu saya sudah meninggal -- bukan karena ingin menyembunyikan realita, melainkan karena tak ingin merusak suasana.

P.s. Terus terang, saya kurang suka hasil riasan saat itu. Membuat saya terlihat seperti ondel-ondel (ini mah saya saja yang dasarnya tidak terbiasa dirias. Maaf ya, Mbak). :( 

Yogyakarta, 2 Februari 2017.

Posted in , , , , , , , | 1 Comment

Hayo menyesal kenapa

Jadi begini ya rasanya menyesal,
menyesal sudah bersikap agresif (padahal kata teman-teman tidak juga),
menyesal karena tak bisa bersabar (padahal kata teman-teman justru suruh ambil peluang),
menyesal terlalu menuruti omongan teman-teman (kata mereka saya harus belajar).

Kadang saya bingung,
mau membuat keputusan sendiri, tapi rasa-rasanya butuh referensi.

Harusnya saya pahami,
referensi yang baik tidak selalu datang dari 'nasihat' kawan-kawan,
yang bahkan tidak mengalami posisi ini!

(Terkikik geli. Kamunya saja yang sedang gelisah, Sekar.)

bukan sekadar oreo, ini oreo remuk! wakaka. gambar meminjam dari -
 

Posted in , , , , , , | 1 Comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.