Berdegub

Jarak kami tak sampai sepuluh meter dari panggung. Tapi tetap saja, tinggi badan yang minim ini jadi kendala. Jinjit-jinjit dan celingukan menjadi sebuah keharusan demi mencari celah di antara kepala manusia-manusia lain yang berjubelan di depan kami.

Oh, oh!

Sosoknya terlihat jelas di bawah lampu sorot berwarna putih.

Ber-de-gub. Kencang.

Bukan karena akhirnya saya bisa sedekat ini dengan idola, melainkan... empat speaker raksasa telak menghadap ke arah kami. Bisa pulang tanpa meninggalkan jantung berkelenyar di lantai GOR adalah sebuah keajaiban bagi saya!

    Tidaklah mawar hampiri kumbang
    Bukanlah cinta bila kaukejar

Bait itu terus memukul-mukul membrana tympani. Ditambah lagi kalimat kawan saya -- entah dia dapat dari novel apa (novel, bayangkan! Bukan kitab suci atau Buku Pedoman Perasaan Manusia atau sumber yang lebih valid) -- saya beruntung sebab martil, landasan, dan sanggurdi masih utuh. Tapi, eh, telinga memang aman, sesungguhnya hati saya yang menjadi rentan.

Begini katanya:

Takdir hanya terjadi pada kali pertama, sedang yang selanjutnya tergantung pilihan kita.

Ya, ya, terserah. (Dia seakan menyindir keputusan saya beberapa waktu sebelumnya, untuk tidak melakukan apa-apa.)

Saya menikmati penyesalan ini! Berdegub. Cepat.

    Tidaklah mawar hampiri kumbang
    Bukanlah cinta bila kaukejar
    Tenanglah, tenang, dia 'kan datang.

*ditulis sambil Dansa Panik-ria karena besok kelompok saya dapat giliran presentasi pertama. Mata kuliah Etnografi Wilayah Eropa. Ber-de-gub, betapa cemasnya!!!

Wish us luck,
 

Posted in , , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

2 Responses to Berdegub

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.