Hayo menyesal kenapa

Jadi begini ya rasanya menyesal,
menyesal sudah bersikap agresif (padahal kata teman-teman tidak juga),
menyesal karena tak bisa bersabar (padahal kata teman-teman justru suruh ambil peluang),
menyesal terlalu menuruti omongan teman-teman (kata mereka saya harus belajar).

Kadang saya bingung,
mau membuat keputusan sendiri, tapi rasa-rasanya butuh referensi.

Harusnya saya pahami,
referensi yang baik tidak selalu datang dari 'nasihat' kawan-kawan,
yang bahkan tidak mengalami posisi ini!

(Terkikik geli. Kamunya saja yang sedang gelisah, Sekar.)

bukan sekadar oreo, ini oreo remuk! wakaka. gambar meminjam dari -
 

Posted in , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

One Response to Hayo menyesal kenapa

  1. Haii.. bisa juga lo mampir bentar ke blog saya. renitaekka.wordpress.com Terimakasih :)

    ReplyDelete

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.