This doll is not a toy!

Orang yang suka pamer itu nggak baik. Tapi sebuah pameran, bagi saya selalu menarik. Lha? Nggak nyambung, monggo disambungin sendiri ya.

Mengunjungi pameran, apapun itu, selalu menyenangkan bagi saya. Pameran foto, lukisan, instalasi kreatif, hasta karya, pameran wayang, mesin jahit... apapun. Apalagi kalau lihat pamerannya dengan yang tersayang. Siapa nih maksudnya? Tak lain dan tak bukan adalah sahabat-sahabat terkasih. Wakakak. Bebas sih, yang penting punya ketertarikan yang sama terhadap pameran itu juga. Kalau nggak, nanti ujungnya kita sendiri yang asyik menjelajah pameran sampai ke detail-detail obyeknya, sementara si kawan ini lewat sepintas saja dari pintu masuk, langsung nunggu kita di pintu keluar. Hehe.

Bagaimana dengan menyelenggarakan pameran? Tentu tak kalah seru dan menyenangkan. Januari lalu, saya terlibat dalam penyelenggaraan pameran yang unik, bersama kawan-kawan relawan Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga. Tajuk pamerannya: Boneka (Bukan) Hanya Mainan. Judul posting ini merupakan tajuk asli pameran dalam bahasa inggris.

Desain postcard terlaris: si boneka kolase -- pojok kiri atas, icon pameran ini.
Pameran hasil riset ini dikuratori oleh Pak Rudi Corens. Tak tanggung-tanggung, risetnya membutuhkan waktu selama dua tahun! Pameran ini diperuntukkan bagi dewasa (14 tahun ke atas), karena kontennya memang tak cocok untuk anak-anak. Sesuai tajuknya, boneka yang dipamerkan di sini bukanlah boneka untuk dimainkan. Ada boneka terkait aspek ritual, boneka sebagai propaganda politik, peran boneka dalam suatu kepercayaan, atribut praktik kekerasan, mitos, dan masih banyak lagi... pokoknya hal-hal yang abai dari bayangan kita kalau mendengar kata "boneka".

Misalnya nih, teru teru bozu yang merupakan boneka tradisional dari Jepang, dipercaya dapat menangkal hujan. Boneka sederhana yang terbuat dari kain putih ini akan digantung di luar jendela dengan harapan cuaca akan cerah. Ada juga nini thowok, permainan (atau lebih tepat disebut ritual) khas Jawa yang dijalankan dengan memasukkan roh ke dalam sebuah boneka. Boneka tersebut akan bergerak dengan bantuan selendang yang ditarik oleh dua gadis. Lalu ada persilih, boneka yang dipercaya oleh masyarakat Batak Karo dapat melenyapkan penyakit. Dukun Batak Karo memerangkap penyakit ke dalam boneka tersebut, dan ketika boneka dari bahan organik itu mulai membusuk, dukun akan membuangnya. Macam-macam lagi deh yang lainnya. Tak hanya boneka asal Indonesia, pameran ini juga banyak menampilkan boneka berikut kisah-kisahnya dari berbagai belahan dunia.
 
Nini Thowok / Nini Thowong / Tjowongan
Bertempat di Jogja Gallery, pameran ini digelar selama 10 hari sejak tanggal 17 sampai 26 Januari. Pembukaannya ditandai dengan gunting pita oleh GBPH. H. Prabukusumo dan dihadiri banyak rekan Pak Rudi sesama seniman dari berbagai negara. Duta Besar Belgia pun turut hadir bersama istrinya. Waktu pembukaan itu, kami panitia pameran mengenakan pakaian adat Jawa, saya kebagian job desc jaga sisi barat, lantai 1 galeri.

Rasanya mondar-mandir mengawasi objek dan pergerakan pengunjung, sambil pakai kebaya dan berkalung co-card sebagai relawan museum sekaligus panitia pameran tuh... gimana ya, make me proud of myself, begitu. Kedengarannya hiperbolis, tapi itulah yang saya rasakan (ah tenane?).

Tenan! Sejak bergabung menjadi relawan Museum Kolong Tangga, saya selalu ingin memberikan kontribusi terbaik untuk museum ini. Museum sederhana, namun punya sejuta makna bagi kami para relawannya. Kami senang, pameran Boneka (Bukan) Hanya Mainan berhasil menarik atensi publik hingga total pengunjung sampai dengan hari terakhir mencapai 1500 orang. Pada malam terakhir itu, kami bahkan menerima kunjungan siswa salah satu sekolah yang amat antusias mengamati objek pameran, dipandu oleh beberapa panitia.

Demi memaparkan banyak informasi hasil riset, displaynya mirip majalah dinding gini.

Ledhek Gogik atau wooden wife, dikenal di negara-negara Asia Tenggara.

Suasana galeri.

Section yang menurut saya paling meriah dan unyu, nggak seseram yang lain.

The man behind the show: Pak Rudi -- rambutnya sudah putih semua! :D
Senang deh pokoknya bisa terlibat dalam pameran ke-delapan Museum Kolong Tangga. Melalui pameran ini, saya memperoleh banyak hal. Selain wawasan tentang sisi lain boneka, saya juga belajar bahwa tidak semua orang suka pergi ke pameran seperti saya.

Jadi, ceritanya... kemarin tuh saya mengalami kegagalan dalam mengajak seseorang untuk menengok pameran ini. Hahaha. Tolong bacanya jangan serius-serius. Saya nggak apa-apa kok. Banyak kawan lain yang berkenan mampir. Terutama anak-anak Antro. Juga kawan-kawan SMA. Terima kasih kepada segenap pengunjung, terlebih yang telah menuliskan masukan di buku kesan-pesan!

Silakan scroll akun-akun media sosial Kolong Tangga ya, buat kamu yang tertarik mengetahui soal pameran kemarin, atau penasaran dengan kegiatan museum kami selama ini. Begitu pula jika hendak bergabung menjadi relawan, kami akan sangat terbuka menerimamu! Terus nanti ketemu saya. Hehe (abaikan).

Sampai jumpa di pameran Museum Kolong Tangga selanjutnya!

Cheers,

Posted in , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

2 Responses to This doll is not a toy!

  1. Ealah jebul acarane januari, saya baru tau museum kolong tangga kui pas ikutan dagadu raceplorer bertahun2 yg lalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe telat posting iki critane Om, iya kolong tangga memang sudah lumayan lama museumnya, dari tahun 2008.

      Delete

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.