Archive for March 2017

Sukacita semalam: bukan mimpi

Seperti gula dalam segelas teh panas yang diaduk perlahan, malam kian larut.

Saya memejamkan mata, bersiap melayang ke negeri kapuk, tempat mimpi-mimpi menanti disambangi. Bunga tidur bisa bermacam-macam bentuknya. Ada yang cantik, membuat orang selalu ingin menjaga agar tumbuh tanpa gangguan. Ada pula yang buruk rupa, penuh duri pada tangkainya, sehingga orang terburu-buru pergi: terbangun, lalu takut terlelap lagi.

Meski sudah siap menjemput bunga tidurberharap jumpa dengan yang cantik sajanamun saya sejenak ingin berbincang dengan Tuhan. Membisikkan terima kasih atas tiga hal yang membuat saya bersukacita malam itu.

Adik bungsu saya pulang. Tidak untuk waktu lama, bahkan bisa dibilang singkat saja. Tak sampai seharian kami menghabiskan waktu bersama. Maka, waktu yang demikian singkat itu tak boleh terbuang sia-sia: kami bertukar cerita, melontar ledekan dan canda, saling menggoda.

Honda Pitung saya bisa jalan lagi. Saya mengajak Tya, Naya, dan Ullysepupu kami yang tiba di Jogja dua malam sebelumnyamelintasi jalanan kota. Ully tampak girang betul diberi kepercayaan mengendarai motor di kota yang terbilang asing baginya ini. Sambil bersenandung, ia membuntuti laju si Pitung yang tak bisa terlalu kencang lagi. Gerimis tak mengurangi semangat kami...

...menuju kedai es krim! Meski sudah diwanti-wanti tante saya (ibunya Ully) soal waktu yang terbatas, kami tetap ribut memilih menu dan sibuk mengabadikan momen. Saya pikir, betapa senangnya bisa menyenangkan hati adik-adik dan sepupu saya. Dan, saya sendiri mendesah lega: akhirnya, kesampaian juga mencicipi gelato di kedai yang ingin saya singgahi sejak lama.

Begitu banyak alasan sukacita dalam satu malam.

Tuhan. Yang menciptakan rasa rindu. Sukacita. Memberikan tenteram kala mata terpejam. Mimpi-mimpi dalam tidur. Pun rasa syukur.

Seperti jalan setapak dusun di kaki gunung usai matahari terbenam, malam menjadi lengang. Malam menjadi lengang setelah Naya, Ully, dan Tantik bertolak ke Semarang. Hanya Tya dan saya, dan galeri ponsel yang dipenuhi foto raut ceria, mengingatkan kami agar menyimpan rapi alasan-alasan bersukacita di ruang hati, untuk kembali disyukuri di kemudian hari. (Tulung, kebiasaan saya menaruh begitu banyak tanda koma dalam satu kalimat agak susah diperbaiki.)

bersulang untuk hari esok lebih baik [dokumentasi pribadi]
P.s. Saya minta pendapat Tya tentang kalimat pembuka postingan ini. Menurut dia, perumpamaan saya aneh, sebab 'larut'-nya gula tak bisa disamakan dengan 'larut' malam. Tapi, saya toh bersikukuh ingin menggunakannya, dan Tya tidak bisa melarang saya hahahaha.

Cheers,

Posted in , , , , , , | 1 Comment

Tak harus jumpa

Untuk si Lebah. 

Hai, Bah. Kita masih berada di kota yang sama, kan?
Mengapa kita tak pernah berjumpaberpapasan barang sepintas saja?

Barangkali kita pernah ada di satu ruas jalan. Sama-sama menunggu lampu lalulintas merah berganti hijau. Tapi aku tak melihatmu, atau kau tak tahu kalau pengendara sepeda motor di sampingmu ternyata aku. Belum lagi ketika kendaraan riuh melaju, kau ambil arah lurus sementara aku belok ke kanan.

Mungkin juga, suatu kali kita pernah ada di gedung perpustakaan. Sama-sama sibuk dengan buku di tangan. Aku tenggelam dalam karya pujangga sastra, sedang kau mengupas gagasan para ilmuwan. Terpisah hanya dua-tiga meja, tapi tak sempat menolehkan kepala sebab begitu tekun membalik halaman demi halaman.

Tidak apa-apa, Bah.

Aku tidak harus menjumpaimu.
Kamu tidak harus menyapaku, bahkan seandainya aku ada dalam jarak pandangmu.

Lebih baik begini, sama-sama giat menimba ilmu.

Lebih baik begini,
ketimbang suatu saat kita bertemu, di sebuah pusat perbelanjaan: aku menelusuri deretan bahan pangan, bimbang memilih merek santan, kemudian kau muncul dari balik rak terigu

Kau, bersama perempuanmu.

(YAAAA SEDIH BANGET GAK SIH HUEHUEHUE.
Tulung, tulung jangan serius-serius bcos saya lagi belajar antispaneng, OK.)

pinjam gambar dari sini
 Yours,


Posted in , , , , , | 1 Comment

Kenapa suka puisi?

Kenapa suka puisi adalah bahasan kami dalam duduk melingkar Rabu malam itu. Jawabannya macam-macam. Ada yang kesukaannya pada puisi bermula ketika menjalani hukuman bebersih perpustakaan. Ada yang karena frustrasi saat meramu lirik dan lagu. Ada yang didorong support kawan-kawan, dibilang bagus saat baca puisi, bahkan ada pula yang alasan suka puisinya sesederhana ingin membalas dendam. Wkwkwk.

Saya sendiri bercerita tentang almarhumah ibu yang berperan besar menanam benih kecintaan pada larik-larik puisi. Sebelum meninggal, ibu menulis puisi untuk kami, anak-anaknya, juga untuk bapak. Puisi untuk anak-anak diberinya judul A.K.U, sedang puisi untuk bapak, berjudul Jangan Berhenti Mencintaiku.

Ibu punya buku catatan berisi puisi-puisi yang ditulisnya bersama teman-temannya sewaktu remaja. Sepertinya, ia meminta teman-temannya menulis puisi di buku itu sebagai kenang-kenangan menjelang perpisahan sekolah. Dalam buku catatan lainnya, di angka tahun yang menunjukkan masa-masa ibu duduk di bangku kuliah, juga ada puisi-puisi yang ditulisnya dengan gaya lebih dewasa. Tentang kisah asmara—untuk bapak saya.

Puisi-puisi cintanya ibu, selalu bikin saya senyum-senyum sendiri tiap membacanya. Membayangkan gaya pacaran bapak dan ibu dulu. Tampaknya romantis, tapi lucu juga kalau dengar cerita dari bapak bahwa ibu dulu sering ngambek. Bikin bapak bingung. Hahaha. Sayang sekali, saya tak sempat dengar banyak dari ibu. Saya masih kecil ketika ibu wafat. Belum cukup umur untuk kepikiran tanya, “dulu ibu sama bapak pacarannya gimana?”

Setelah ibu wafat, barulah saya banyak melahirkan puisi. Puisi kanak-kanak yang kebanyakan bertema dukacita dan kehilangan. Ah, ibu. Sekar jadi rindu. Tenang saja, Bu. Ibu akan tetap hidup menjiwai puisi-puisiku.

Oh ya! Duduk melingkar Rabu malam itu, membahas puisi, acara apa sih? Itu salah satu kegiatan Sanggar Lincak, BSO di Fakultas Ilmu Budaya UGM yang merangkum teman-teman yang punya ketertarikan terhadap puisi. Anyway, kami lagi buka pendaftaran lho.



Kalau kamu tertarik dengan puisi; suka menulis, membaca, pun sekadar suka, serta berdomisili di Yogyakarta, bolehlah gabung dengan Sanggar Lincak. Silakan chat narahubung yang tertera! :)

Regards,

Posted in , , , | 4 Comments

Menunda Mengisi Pigura

Mungkin akhirnya saya paham alasan mengapa selama ini saya menunda-nunda mencetak foto keluarga ukuran 10R, untuk dipigura dan disematkan di dinding ruang tamu. Saya sudah memilih begitu banyak file, tinggal dicetak saja, beberapa atau mungkin sebanyak-banyaknya, kemudian tempelkan sampai dinding penuh oleh bingkai-bingkai foto, seperti di rumah Tantik.

Alasannya, saya takut belum siap menatap kenangan-kenangan itu,
kenangan akan orang-orang tersayang yang lebih dulu berpulang.


Setiap kali melihat foto keluarga dalam bentuk digital saja, saya masih belum bisa menahan gelombang dukacita. Terutama memandang visualisasi sosok bapak yang masih tampak amat-sangat nyata. Gurat wajahnya, cahaya bijaksana di kedua bola matanya... saya tak kuasa lama-lama memandang rautnya, karena bersama itu saya merasa terluka.

Terluka karena ditinggalkan. Terluka oleh kesembronoan saya yang dulu cenderung cuek pada bapak.

Mungkin nantinya saya harus bernegosiasi dengan kecemasan diri sendiri, kalau tak ingin pigura yang sudah saya beli terus kosong dan tak berfungsi. Mungkin saya justru perlu membiasakan kenangan-kenangan itu melekat di mana-mana di sekitar saya, agar menguapkan segala duka. Mungkin.

'Before holiday' means sebelum pergantian tahun! Memo ini sudah berbulan-bulan ada di sana. Strip pertama belum juga terlaksana.
Saya belum mencoba, kan?

Posted in , , , , , , , | 2 Comments

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.