Kenapa suka puisi?

Kenapa suka puisi adalah bahasan kami dalam duduk melingkar Rabu malam itu. Jawabannya macam-macam. Ada yang kesukaannya pada puisi bermula ketika menjalani hukuman bebersih perpustakaan. Ada yang karena frustrasi saat meramu lirik dan lagu. Ada yang didorong support kawan-kawan, dibilang bagus saat baca puisi, bahkan ada pula yang alasan suka puisinya sesederhana ingin membalas dendam. Wkwkwk.

Saya sendiri bercerita tentang almarhumah ibu yang berperan besar menanam benih kecintaan pada larik-larik puisi. Sebelum meninggal, ibu menulis puisi untuk kami, anak-anaknya, juga untuk bapak. Puisi untuk anak-anak diberinya judul A.K.U, sedang puisi untuk bapak, berjudul Jangan Berhenti Mencintaiku.

Ibu punya buku catatan berisi puisi-puisi yang ditulisnya bersama teman-temannya sewaktu remaja. Sepertinya, ia meminta teman-temannya menulis puisi di buku itu sebagai kenang-kenangan menjelang perpisahan sekolah. Dalam buku catatan lainnya, di angka tahun yang menunjukkan masa-masa ibu duduk di bangku kuliah, juga ada puisi-puisi yang ditulisnya dengan gaya lebih dewasa. Tentang kisah asmara—untuk bapak saya.

Puisi-puisi cintanya ibu, selalu bikin saya senyum-senyum sendiri tiap membacanya. Membayangkan gaya pacaran bapak dan ibu dulu. Tampaknya romantis, tapi lucu juga kalau dengar cerita dari bapak bahwa ibu dulu sering ngambek. Bikin bapak bingung. Hahaha. Sayang sekali, saya tak sempat dengar banyak dari ibu. Saya masih kecil ketika ibu wafat. Belum cukup umur untuk kepikiran tanya, “dulu ibu sama bapak pacarannya gimana?”

Setelah ibu wafat, barulah saya banyak melahirkan puisi. Puisi kanak-kanak yang kebanyakan bertema dukacita dan kehilangan. Ah, ibu. Sekar jadi rindu. Tenang saja, Bu. Ibu akan tetap hidup menjiwai puisi-puisiku.

Oh ya! Duduk melingkar Rabu malam itu, membahas puisi, acara apa sih? Itu salah satu kegiatan Sanggar Lincak, BSO di Fakultas Ilmu Budaya UGM yang merangkum teman-teman yang punya ketertarikan terhadap puisi. Anyway, kami lagi buka pendaftaran lho.



Kalau kamu tertarik dengan puisi; suka menulis, membaca, pun sekadar suka, serta berdomisili di Yogyakarta, bolehlah gabung dengan Sanggar Lincak. Silakan chat narahubung yang tertera! :)

Regards,

Posted in , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

4 Responses to Kenapa suka puisi?

  1. Pantes tulisan2mu rapi, terasah sejak dulu rupanya.

    Ibumu hebat & saya sedih saat membaca paragraf lima. Smoga beliau bahagia di sana ya :)

    ReplyDelete

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.