Menunda Mengisi Pigura

Mungkin akhirnya saya paham alasan mengapa selama ini saya menunda-nunda mencetak foto keluarga ukuran 10R, untuk dipigura dan disematkan di dinding ruang tamu. Saya sudah memilih begitu banyak file, tinggal dicetak saja, beberapa atau mungkin sebanyak-banyaknya, kemudian tempelkan sampai dinding penuh oleh bingkai-bingkai foto, seperti di rumah Tantik.

Alasannya, saya takut belum siap menatap kenangan-kenangan itu,
kenangan akan orang-orang tersayang yang lebih dulu berpulang.


Setiap kali melihat foto keluarga dalam bentuk digital saja, saya masih belum bisa menahan gelombang dukacita. Terutama memandang visualisasi sosok bapak yang masih tampak amat-sangat nyata. Gurat wajahnya, cahaya bijaksana di kedua bola matanya... saya tak kuasa lama-lama memandang rautnya, karena bersama itu saya merasa terluka.

Terluka karena ditinggalkan. Terluka oleh kesembronoan saya yang dulu cenderung cuek pada bapak.

Mungkin nantinya saya harus bernegosiasi dengan kecemasan diri sendiri, kalau tak ingin pigura yang sudah saya beli terus kosong dan tak berfungsi. Mungkin saya justru perlu membiasakan kenangan-kenangan itu melekat di mana-mana di sekitar saya, agar menguapkan segala duka. Mungkin.

'Before holiday' means sebelum pergantian tahun! Memo ini sudah berbulan-bulan ada di sana. Strip pertama belum juga terlaksana.
Saya belum mencoba, kan?

Posted in , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

2 Responses to Menunda Mengisi Pigura

  1. Hmm sampe segitunya, dirimu ini semacam antitesis saya, apa2 dipikirkan lama2, iya sesuai baris akhir, cobalah tp jgn jg dipaksa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya mencoba jujur dalam tulisan saya, dan, iya, sampe segitunya :) saya sadar sih Om kalo terlalu gampang kepikiran sesuatu, tp gimana ya, kenyataannya bagi diri saya memang gak mudah menjalani keadaan yg sekarang.

      Delete

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.