Sukacita semalam: bukan mimpi

Seperti gula dalam segelas teh panas yang diaduk perlahan, malam kian larut.

Saya memejamkan mata, bersiap melayang ke negeri kapuk, tempat mimpi-mimpi menanti disambangi. Bunga tidur bisa bermacam-macam bentuknya. Ada yang cantik, membuat orang selalu ingin menjaga agar tumbuh tanpa gangguan. Ada pula yang buruk rupa, penuh duri pada tangkainya, sehingga orang terburu-buru pergi: terbangun, lalu takut terlelap lagi.

Meski sudah siap menjemput bunga tidurberharap jumpa dengan yang cantik sajanamun saya sejenak ingin berbincang dengan Tuhan. Membisikkan terima kasih atas tiga hal yang membuat saya bersukacita malam itu.

Adik bungsu saya pulang. Tidak untuk waktu lama, bahkan bisa dibilang singkat saja. Tak sampai seharian kami menghabiskan waktu bersama. Maka, waktu yang demikian singkat itu tak boleh terbuang sia-sia: kami bertukar cerita, melontar ledekan dan canda, saling menggoda.

Honda Pitung saya bisa jalan lagi. Saya mengajak Tya, Naya, dan Ullysepupu kami yang tiba di Jogja dua malam sebelumnyamelintasi jalanan kota. Ully tampak girang betul diberi kepercayaan mengendarai motor di kota yang terbilang asing baginya ini. Sambil bersenandung, ia membuntuti laju si Pitung yang tak bisa terlalu kencang lagi. Gerimis tak mengurangi semangat kami...

...menuju kedai es krim! Meski sudah diwanti-wanti tante saya (ibunya Ully) soal waktu yang terbatas, kami tetap ribut memilih menu dan sibuk mengabadikan momen. Saya pikir, betapa senangnya bisa menyenangkan hati adik-adik dan sepupu saya. Dan, saya sendiri mendesah lega: akhirnya, kesampaian juga mencicipi gelato di kedai yang ingin saya singgahi sejak lama.

Begitu banyak alasan sukacita dalam satu malam.

Tuhan. Yang menciptakan rasa rindu. Sukacita. Memberikan tenteram kala mata terpejam. Mimpi-mimpi dalam tidur. Pun rasa syukur.

Seperti jalan setapak dusun di kaki gunung usai matahari terbenam, malam menjadi lengang. Malam menjadi lengang setelah Naya, Ully, dan Tantik bertolak ke Semarang. Hanya Tya dan saya, dan galeri ponsel yang dipenuhi foto raut ceria, mengingatkan kami agar menyimpan rapi alasan-alasan bersukacita di ruang hati, untuk kembali disyukuri di kemudian hari. (Tulung, kebiasaan saya menaruh begitu banyak tanda koma dalam satu kalimat agak susah diperbaiki.)

bersulang untuk hari esok lebih baik [dokumentasi pribadi]
P.s. Saya minta pendapat Tya tentang kalimat pembuka postingan ini. Menurut dia, perumpamaan saya aneh, sebab 'larut'-nya gula tak bisa disamakan dengan 'larut' malam. Tapi, saya toh bersikukuh ingin menggunakannya, dan Tya tidak bisa melarang saya hahahaha.

Cheers,

Posted in , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

One Response to Sukacita semalam: bukan mimpi

  1. Saya senang membaca bagian Pitung yg hidup lagi, dan melihat detilnya, kayaknya itu lagi di Ciao Gelato.. hmm menurut saya gelato paling mantap tetep di Tempo El Gelato #bukaniklansungguh :D

    ReplyDelete

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.