Tak harus jumpa

Untuk si Lebah. 

Hai, Bah. Kita masih berada di kota yang sama, kan?
Mengapa kita tak pernah berjumpaberpapasan barang sepintas saja?

Barangkali kita pernah ada di satu ruas jalan. Sama-sama menunggu lampu lalulintas merah berganti hijau. Tapi aku tak melihatmu, atau kau tak tahu kalau pengendara sepeda motor di sampingmu ternyata aku. Belum lagi ketika kendaraan riuh melaju, kau ambil arah lurus sementara aku belok ke kanan.

Mungkin juga, suatu kali kita pernah ada di gedung perpustakaan. Sama-sama sibuk dengan buku di tangan. Aku tenggelam dalam karya pujangga sastra, sedang kau mengupas gagasan para ilmuwan. Terpisah hanya dua-tiga meja, tapi tak sempat menolehkan kepala sebab begitu tekun membalik halaman demi halaman.

Tidak apa-apa, Bah.

Aku tidak harus menjumpaimu.
Kamu tidak harus menyapaku, bahkan seandainya aku ada dalam jarak pandangmu.

Lebih baik begini, sama-sama giat menimba ilmu.

Lebih baik begini,
ketimbang suatu saat kita bertemu, di sebuah pusat perbelanjaan: aku menelusuri deretan bahan pangan, bimbang memilih merek santan, kemudian kau muncul dari balik rak terigu

Kau, bersama perempuanmu.

(YAAAA SEDIH BANGET GAK SIH HUEHUEHUE.
Tulung, tulung jangan serius-serius bcos saya lagi belajar antispaneng, OK.)

pinjam gambar dari sini
 Yours,


Posted in , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

One Response to Tak harus jumpa

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.