Pages - Menu

Sunday, April 30, 2017

Tidak berniat iseng

Jujur saja, Lebah, yang kemarin itu di luar kebiasaan saya. Saya tidak pernah berniat iseng-iseng menghubungi kamu, hanya untuk bilang hal-hal nggak penting. Saya akui, kemarin saya tidak berpikir panjang.

Tetapi, saya nggak menyesalinya. Habis selama ini saya kebanyakan mikir tanpa ada aksi. Saya terlalu cemas akan reaksi kamu.

Ternyata reaksimu begitu-begitu saja, ya. Padahal saya sungguh kelepasan ngomong, lho, di akhir itu.

Kamu sadar tidak?


Thursday, April 27, 2017

Mempertanyakan Keaslian

Dulu, setiap ada yang tanya, aslinya mana? Saya selalu mantap menjawab, dari Jogja. Belakangan, saya baru merenungkan lagi, sebenarnya saya ini sudah nggak 'asli' lagi. Haha.

Ibu saya asli Kebumen, begitu juga dengan eyang kakung dan eyang putri dari Ibu. Sementara bapak orang Semarang. Lahir dan besar di kota masing-masing, sebuah sekolah tinggi di Semarang-lah yang mempertemukan ibu dan bapak pada suatu ketika. Dari sana, keduanya lalu melanjutkan ke institut yang ada di Jogja untuk memperoleh gelar Sarjana.

Ibu berhasil mendapatkannya. Bapak tidak.

Tapi itu tidak menghalangi cinta mereka dibawa ke pelaminan pada 1996. Tak sampai setahun kemudian, saya lahir di sebuah rumah sakit di Kebumen. Kami tinggal berpindah-pindah antara rumah eyang Kebumen dan eyang Semarang, sampai saya berusia dua tahun. Barulah kemudian bapak dan ibu memutuskan hijrah ke Jogja dan menyewa satu kamar di sebuah rumah di daerah Babadan, dekat Gembira Loka. Setahun berlalu, kerabat kami menawarkan sepetak bangunan dekat jantung Kota Jogja. Bangunan itu, rumah yang saya tinggali sampai sekarang.

Saya didaftarkan ke Taman Kanak-kanak yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari rumah. Empat hari setelah saya mulai bersekolah, lahir adik saya yang pertama. Tak sampai dua tahun kemudian, adik kedua nyusul melihat dunia. Keduanya lahir di bidan yang sama, di Jogja. Jadi memang betul kalau mereka mengaku aslinya dari Jogja.

Sementara saya?

Saya selalu merasa, saya juga orang Jogja. Soalnya di Kebumen kan cuma numpang lahir saja. Wakakaka. Meski sempat tinggal di sana waktu masih ada eyang kakung, tapi kan tidak lama. Saya bahkan nggak bisa ngomong ngapak. Sejak Taman Kanak-kanak, saya sudah di sini. Tumbuh di tengah-tengah lingkungan dan budaya Jawa-Jogja.

Kalau dalam kuliah antropologi, ini persoalan etnis dan etnisitas. Etnis itu sesuatu yang objektif, melekat pada seseorang berdasarkan pertalian darah para leluhurnya, dan kadang memunculkan ciri fisik yang khas (dan bisa dilihat orang lain). Lain halnya etnisitas yang sifatnya subjektif, hanya pribadi yang bersangkutan yang berhak menentukan etnisitasnya. Etnisitas dibentuk oleh lingkungan dan kebudayaan masyarakat sekitar yang banyak mempengaruhi pola pikir seseorang. And here I am, feel belong to Jogja. Etnis saya Jawa, etnisitas Jogja.

Tapi ya gitu. Memang nggak asli banget, haha. Kini, walaupun Jogja saya anggap sebagai kampung halaman, saya seringkali merasa sendirian di tengah kota yang ramai ini.

Habisnya gimana, orang yang membawa saya ke kota ini sudah nggak ada semua. :(

Jogja nggak ada matinya. [dokumentasi pribadi, 2015]

Kudu terus sinau babagan 'dadi Jawa',

Saturday, April 22, 2017

Setelah kamu begitu tabah

Catatan kecil untuk diri sendiri,
juga untuk orang-orang yang pernah merasakan kehilangan.
Ketika satu orang meninggalkan kita,
kita tak boleh mencerca atau menyumpahi kepergiannya,
sebab kita tidak tahu betapa besar sesungguhnya
ia juga merasa terluka.  

Tatkala satu orang pergi meninggalkan dunia,
tak perlu kita meratapi jejaknya di pusara,
karena bisa jadi ia tak pergi ke mana-mana,
senantiasa hadir mengiringi hari-hari kita
meski dalam wujud berbeda. 

Bilamana satu orang melarung jiwanya ke angkasa,
barangkali ia hanya ingin jalan-jalan bersama partikel udara,
setelah bosan menjejak alam fana.
Mungkin saja ia kemudian berganti rupa,
menjelma kuncup mawar dalam vas kaca,
kerlip kecil di sepertiga malam buta,
atau kepak kupu memasuki rumah lewat jendela yang terbuka.  

Maka buka lebar-lebar jendela hatimu,
supaya Tuhan tahu 
Dia bisa mengirimkan satu tokoh baru, 
untuk punya peran -mengisi kekosongan-
setelah kamu begitu tabah mengikhlaskan kepergian. 

Seringkali, kita berkeras diri,
orang yang pergi
benar-benar tak terganti,
kita tak pernah tahu, bukan?
Tuhan punya rencana.
Kita hanya harus rela saat Dia menguji.


Sore di Pracimalaya. [dokumentasi pribadi]

Yogyakarta, April 2017 / revisi Oktober 2017
Renungan atas tahun-tahun terhimpit perasaan ditinggalkan:
memperingati satu dasawarsa berpulangnya ibu,
dan satu tahun kepergian bapak.
 

Friday, April 7, 2017

Kelak kita 'kan menua

Pagi tadi saya bolos kuliah lintas jurusan demi kejar proyek untuk mata kuliah lain.

Pukul delapan lewat, saya janjian ketemu Hamima dan Zulva di pom bensin Tamsis. Kami lalu beriringan menuju arah selatan, kemudian ke timur, melintasi Jalan Pramuka yang bentuknya miring kalau di peta, dan tibalah kami di Rumah Pelayanan Lanjut Usia "Budi Dharma". Di depan kami berdiri bangunan panti sosial bagi para lansia di Yogyakarta.

Kami tidak bawa apa-apa untuk simbah-simbah di sana. Datang hanya dengan niat mengobrol, mendengarkan cerita simbah, dan merekamnya dengan kamera. Yes, we are proceeding to make another short movie project! 

Film pendek ini dalam rangka studi Etnovideografi, yang berakar pada antropologi visual. Hamima-lah yang mengusulkan ide untuk membingkai kisah para lansia. Sebuah tantangan bagi kami yang sehari-hari tidak banyak bersinggungan dengan orang-orang tua. Kami berencana mengangkat dinamika kehidupan para lansia yang mulanya adalah orang asing bagi satu sama lain. Mereka dipertemukan di panti wredha untuk kemudian menjalani hari tua bersama. Adakah perasaan rindu rumah dan keluarga kandung? Apakah tinggal di panti wredha merupakan pilihan, atau sebuah keterpaksaan? Jawab dengan padat dan jelas, disertai argumentasi minimal 250 kata. (Halah.)

Pada kunjungan hari ini, kami belum berpegang pada konsep yang rapi. Kami sekadar melakukan observasi awal, mengambil beberapa random footage, dan fokus melancarkan pendekatan dengan simbah-simbah dulu, sembari mencari sekiranya mbah sinten yang dapat dijadikan narasumber wawancara. Eee... ya gini, kuliah apapun itu, sesungguhnya nggak bakal lepas dari yang namanya riset. Huhuhu.

Kami menyebar ke wisma-wisma yang ada di panti. Bertemu, berkenalan, dan bercakap-cakap dengan beberapa simbah, baik kakung maupun putri. Kata petugas yang mendampingi kami di awal kunjungan, simbah-simbah di sana sangat terbuka terhadap pengunjung. Dan benar saja, kami mendapati wajah-wajah sumringah menyapa kami, ngawe-awe dan mempersilakan kami mampir ke wisma mereka. Ada sih simbah yang tetap kalem dan senyum simpul, ada pula yang langsung dengan semangat mengajak kami ngobrol tentang... apa saja.

Mbah Sugiyo adalah satu dari yang bersemangat itu. Simbah bercerita tentang bagaimana dulu ia pernah jadi pemain Srimulat di Surabaya. Berbincang dengan Mbah Sugiyo yang giginya nyaris tanggal seluruhnya, saya seperti terbayang almarhum eyang kakung saya yang dipanggil Gusti Allah Januari lalu. Kalau saja beberapa tahun terakhir pendengaran yangkung cukup bagus, mungkin kami bisa ngobrol dan haha-hihi seperti saya dan Mbah Sugiyo saat itu. Saya nggak membayangkan heningnya dunia yangkung (dan mbah-mbah lain) yang kondisi pendengarannya mengalami gangguan...

Menjelang siang, satu lagi anggota tim kami datang menyusul. Dialah Mbak Baswe yang bangun kesiangan wekekekek. Tak lama setelah bergabung, Mbak Baswe bilang kalau dia dibeberi gosip seru oleh salah satu mbah putri. Kami pun mencatatnya supaya bisa dikorek-korek lagi di kemudian hari (eh... lho...). Oh ya, satu kawan kami tidak ikut pada kunjungan ini, namanya Halim, hobinya pulang kampung.

Kunjungan resmi kami yang pertama ini—resmi, setelah menyerahkan surat izin—membuahkan cukup gambaran tentang suasana panti dan karakteristik beberapa simbah yang paling menonjol. Kendala yang cukup berarti adalah betapa tremor tangan saya dan Hamima menjadikan rekaman gambar nggak enak dilihat HAHAHA nggak bawa tripod tadi soalnya.

Hamima dan Zulva mikir keras untuk menjawab tebak-tebakan dari Mbah Sugiyo. (dok. pribadi)

Doakan proses syuting dan wawancara Etnovideografi kami berjalan lancar ke depannya, ya. 

Oleh sebab kita kelak 'kan menua,
tak ada salahnya berguru pada yang telah lanjut usia.

Regards,

Monday, April 3, 2017

Diam tanpa kata

Ada tiga kemungkinan alasan seseorang memilih diam dan tak banyak bicara ketika berada di tengah teman-temannya:

  1. Dia tak menguasai topik pembicaraan. Atau memang pada dasarnya tak suka. Misal saat teman-temannya ribut bergosip, ngomongin orang. 
  2. Dia dibuat grogi oleh keberadaan orang tertentu di antara teman-temannya.
  3. Dia sedang sakit gigi atau sariawan, akan terasa sakit kalau banyak omong. Wkwk. #krik #bye
Teori bebas, oleh


Ditulis pasca kumpul-bahas-sesuatu di warung bakmi yang cukup fenomenal di Jogja, di mana salah satu anggota kumpulan memilih diam tanpa kata karena alasan kedua.