Archive for April 2017

Tidak berniat iseng

Jujur saja, Lebah, yang kemarin itu di luar kebiasaan saya. Saya tidak pernah berniat iseng-iseng menghubungi kamu, hanya untuk bilang hal-hal nggak penting. Saya akui, kemarin saya tidak berpikir panjang.

Tetapi, saya nggak menyesalinya. Habis selama ini saya kebanyakan mikir tanpa ada aksi. Saya terlalu cemas akan reaksi kamu.

Ternyata reaksimu begitu-begitu saja, ya. Padahal saya sungguh kelepasan ngomong, lho, di akhir itu.

Kamu sadar tidak?


Posted in , , , , , , , , | Leave a comment

Mempertanyakan Keaslian

Dulu, setiap ada yang tanya, aslinya mana? Saya selalu mantap menjawab, dari Jogja. Belakangan, saya baru merenungkan lagi, sebenarnya saya ini sudah nggak 'asli' lagi. Haha.

Ibu saya asli Kebumen, begitu juga dengan eyang kakung dan eyang putri dari Ibu. Sementara bapak orang Semarang. Lahir dan besar di kota masing-masing, sebuah sekolah tinggi di Semarang-lah yang mempertemukan ibu dan bapak pada suatu ketika. Dari sana, keduanya lalu melanjutkan ke institut yang ada di Jogja untuk memperoleh gelar Sarjana.

Ibu berhasil mendapatkannya. Bapak tidak.

Tapi itu tidak menghalangi cinta mereka dibawa ke pelaminan pada 1996. Tak sampai setahun kemudian, saya lahir di sebuah rumah sakit di Kebumen. Kami tinggal berpindah-pindah antara rumah eyang Kebumen dan eyang Semarang, sampai saya berusia dua tahun. Barulah kemudian bapak dan ibu memutuskan hijrah ke Jogja dan menyewa satu kamar di sebuah rumah di daerah Babadan, dekat Gembira Loka. Setahun berlalu, kerabat kami menawarkan sepetak bangunan dekat jantung Kota Jogja. Bangunan itu, rumah yang saya tinggali sampai sekarang.

Saya didaftarkan ke Taman Kanak-kanak yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari rumah. Empat hari setelah saya mulai bersekolah, lahir adik saya yang pertama. Tak sampai dua tahun kemudian, adik kedua nyusul melihat dunia. Keduanya lahir di bidan yang sama, di Jogja. Jadi memang betul kalau mereka mengaku aslinya dari Jogja.

Sementara saya?

Saya selalu merasa, saya juga orang Jogja. Soalnya di Kebumen kan cuma numpang lahir saja. Wakakaka. Meski sempat tinggal di sana waktu masih ada eyang kakung, tapi kan tidak lama. Saya bahkan nggak bisa ngomong ngapak. Sejak Taman Kanak-kanak, saya sudah di sini. Tumbuh di tengah-tengah lingkungan dan budaya Jawa-Jogja.

Kalau dalam kuliah antropologi, ini persoalan etnis dan etnisitas. Etnis itu sesuatu yang objektif, melekat pada seseorang berdasarkan pertalian darah para leluhurnya, dan kadang memunculkan ciri fisik yang khas (dan bisa dilihat orang lain). Lain halnya etnisitas yang sifatnya subjektif, hanya pribadi yang bersangkutan yang berhak menentukan etnisitasnya. Etnisitas dibentuk oleh lingkungan dan kebudayaan masyarakat sekitar yang banyak mempengaruhi pola pikir seseorang. And here I am, feel belong to Jogja. Etnis saya Jawa, etnisitas Jogja.

Tapi ya gitu. Memang nggak asli banget, haha. Kini, walaupun Jogja saya anggap sebagai kampung halaman, saya seringkali merasa sendirian di tengah kota yang ramai ini.

Habisnya gimana, orang yang membawa saya ke kota ini sudah nggak ada semua. :(

Jogja nggak ada matinya. [dokumentasi pribadi, 2015]

Kudu terus sinau babagan 'dadi Jawa',

Posted in , , , , , , , | 2 Comments

Setelah Kamu Begitu Tabah

Catatan kecil untuk diri sendiri,
juga untuk orang-orang yang pernah dan telah merasa kehilangan.

Ketika satu orang meninggalkan kita,
kita tak boleh mencerca atau menyumpahi kepergiannya,
sebab kita tidak tahu betapa besar sesungguhnya
ia juga merasa terluka.  

Tatkala satu orang pergi meninggalkan dunia,
tak perlu kita meratapi jejaknya di pusara,
karena bisa jadi ia tak pergi ke mana-mana,
senantiasa hadir mengiringi hari-hari kita
meski dalam wujud berbeda. 

Bilamana satu orang melayangkan jiwanya ke angkasa,
barangkali ia hanya ingin jalan-jalan bersama partikel udara,
setelah bosan menjejak alam fana.
Mungkin saja ia kemudian berganti rupa,
menjelma kuncup mawar dalam vas kaca,
kerlip kecil di sepertiga malam buta,
atau kepak kupu memasuki rumah lewat jendela yang terbuka.  

Maka buka lebar-lebar jendela hatimu,
supaya Tuhan tahu 
Dia bisa mengirimkan satu tokoh baru, 
untuk punya peran dan mengisi kekosongan
setelah kamu begitu tabah mengikhlaskan kepergian. 

Seringkali, kita berkeras diri,
orang yang pergi
benar-benar tak terganti,
kita tak pernah tahu, bukan?
Tuhan punya rencana.
Kita hanya harus rela saat Dia menguji.


Sore di Pracimalaya. [dokumentasi pribadi]

Yogyakarta, April 2017.
Renungan atas tahun-tahun terhimpit perasaan ditinggalkan:
memperingati satu dasawarsa berpulangnya ibu,
dan satu tahun kepergian bapak.

Posted in , , , , , | Leave a comment

Curhat si pengagum rahasia - bagian 2

Saya pernah tanya sama Mbak Atha, “Mbak kalau suka sama orang gimana? Bakal kelihatan banget nggak kalau mbak naksir dia? Atau dipendam aja?” 

“Weh… Kowe ngerti dewe nek aku mesti bertingkah… Mesti ketok banget lah,” katanya sambil tertawa. Saya manggut-manggut, mulai memikirkan kemungkinan kalau saya jadi orang yang seterbuka itu juga.

Ternyata dia belum selesai bicara.

“Tapi kalau kamu bukan orang yang kayak gitu, jangan lah. Ndak wagu. Kamu diem-diem aja to kalau naksir cowok? Yo wis. Gakpapa. Itu caramu mengagumi orang,” tambah Mbak Atha.

Saya pun nyengir.

Tapi nih ya. Saya ingat sebuah kutipan dalam novel remaja yang pernah saya baca, dulu—sudah lama. Waktu saya masih remaja (sekarang kan sudah masuk umur dewasa muda. Halah. Tenane?).

Ada hal-hal yang harus dikatakan dulu baru bisa dimengerti. Salah satunya perihal rasa suka.

Ini nyambung juga nih sama salah satu lagunya Endah N Rhesa yang paling akrab di telinga. Saya dua kali nonton live performance dua sejoli ini, dan selalu terpesona sama aksi guitar battle mereka. Banyak yang mengaku baper sama lirik lagunya, tetapi saya sering mengelak. Lebih tepatnya, berusaha biar nggak terlalu bawa perasaan, gitu…

     When you love someone just be brave to say 
     that you want him to be with you.
     When you hold your love don’t ever let him go 

     or you will loose your chance to make your dream come true.

Dulu, saya pernah dekat dengan seseorang. Kedeketan yang akhirnya menumbuhkan perasaan sayang di hati saya. Eh, mulanya diawali rasa tertarik dulu sih. Tertarik sama kepribadian dia, uniknya dia, dan sebagainya. Terus lama-lama jadi dekat. Saya bisa saja bilang kalau saya mengagumi dia. Saya tak lagi melihat dia sebagai teman biasa, dia adalah teman yang saya kagumi. Tetapi, saya tidak mengatakannya.

Saya melewatkan kesempatan untuk mengatakannya, sampai akhirnya saya benar-benar tidak punya kesempatan.

Kepada Mbak Atha-lah saya menceritakan kesedihan saya waktu itu. Mbak Atha banyak menghibur saya (padahal saya tahu dia juga sangat-sangat-sangat sedih, karena kami kehilangan orang yang sama). Di sela-sela kalimat support-nya, Mbak Atha mengatakan sesuatu: jadikan ini pelajaran, Chak. Kamu jadi belajar untuk menghargai perasaanmu sendiri, kan?

Satu lagi teman saya juga mengatakan hal yang persis sama (walaupun waktu saya konfirmasi ulang, dia malah sudah lupa—tak ingat kalau pernah berkata sebijak itu... gimana sih, Shab).

Kenyataannya... iya, saya ingin kok mengapresiasi perasaan saya ini. Bahwa saya mengagumi seseorang, senang bisa mengenalnya, apalagi menghabiskan waktu dengannya.

.....
........
...........

Well. Apakah tulisan ini berarti sebuah deklarasi, bahwa saya menyerah? Menyerah untuk mengagumi dalam diam, memendam rasa suka tanpa ingin menyatakan? WAKAKAKA. Tunggu dulu, tunggu dulu. Saya belum tahu. Nggak ingin terburu-buru mengambil keputusan deh. Bukankah kalau kata Tere Liye, dikatakan atau tidak, itu tetap cinta? Untuk mengapresiasi perasaan itu pun, tidak harus selalu dengan menyatakan.

[tetep ya, berakhir tanpa kesimpulan.]

Regards,

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Kelak kita 'kan menua

Pagi tadi saya bolos kuliah lintas jurusan demi kejar proyek untuk mata kuliah lain.

Pukul delapan lewat, saya janjian ketemu Hamima dan Zulva di pom bensin Tamsis. Kami lalu beriringan menuju arah selatan, kemudian ke timur, melintasi Jalan Pramuka yang bentuknya miring kalau di peta, dan tibalah kami di Rumah Pelayanan Lanjut Usia "Budi Dharma". Di depan kami berdiri bangunan panti sosial bagi para lansia di Yogyakarta.

Kami tidak bawa apa-apa untuk simbah-simbah di sana. Datang hanya dengan niat mengobrol, mendengarkan cerita simbah, dan merekamnya dengan kamera. Yes, we are proceeding to make another short movie project! 

Film pendek ini dalam rangka studi Etnovideografi, yang berakar pada antropologi visual. Hamima-lah yang mengusulkan ide untuk membingkai kisah para lansia. Sebuah tantangan bagi kami yang sehari-hari tidak banyak bersinggungan dengan orang-orang tua. Kami berencana mengangkat dinamika kehidupan para lansia yang mulanya adalah orang asing bagi satu sama lain. Mereka dipertemukan di panti wredha untuk kemudian menjalani hari tua bersama. Adakah perasaan rindu rumah dan keluarga kandung? Apakah tinggal di panti wredha merupakan pilihan, atau sebuah keterpaksaan? Jawab dengan padat dan jelas, disertai argumentasi minimal 250 kata. (Halah.)

Pada kunjungan hari ini, kami belum berpegang pada konsep yang rapi. Kami sekadar melakukan observasi awal, mengambil beberapa random footage, dan fokus melancarkan pendekatan dengan simbah-simbah dulu, sembari mencari sekiranya mbah sinten yang dapat dijadikan narasumber wawancara. Eee... ya gini, kuliah apapun itu, sesungguhnya nggak bakal lepas dari yang namanya riset. Huhuhu.

Kami menyebar ke wisma-wisma yang ada di panti. Bertemu, berkenalan, dan bercakap-cakap dengan beberapa simbah, baik kakung maupun putri. Kata petugas yang mendampingi kami di awal kunjungan, simbah-simbah di sana sangat terbuka terhadap pengunjung. Dan benar saja, kami mendapati wajah-wajah sumringah menyapa kami, ngawe-awe dan mempersilakan kami mampir ke wisma mereka. Ada sih simbah yang tetap kalem dan senyum simpul, ada pula yang langsung dengan semangat mengajak kami ngobrol tentang... apa saja.

Mbah Sugiyo adalah satu dari yang bersemangat itu. Simbah bercerita tentang bagaimana dulu ia pernah jadi pemain Srimulat di Surabaya. Berbincang dengan Mbah Sugiyo yang giginya nyaris tanggal seluruhnya, saya seperti terbayang almarhum eyang kakung saya yang dipanggil Gusti Allah Januari lalu. Kalau saja beberapa tahun terakhir pendengaran yangkung cukup bagus, mungkin kami bisa ngobrol dan haha-hihi seperti saya dan Mbah Sugiyo saat itu. Saya nggak membayangkan heningnya dunia yangkung (dan mbah-mbah lain) yang kondisi pendengarannya mengalami gangguan...

Menjelang siang, satu lagi anggota tim kami datang menyusul. Dialah Mbak Baswe yang bangun kesiangan wekekekek. Tak lama setelah bergabung, Mbak Baswe bilang kalau dia dibeberi gosip seru oleh salah satu mbah putri. Kami pun mencatatnya supaya bisa dikorek-korek lagi di kemudian hari (eh... lho...). Oh ya, satu kawan kami tidak ikut pada kunjungan ini, namanya Halim, hobinya pulang kampung.

Kunjungan resmi kami yang pertama ini—resmi, setelah menyerahkan surat izin—membuahkan cukup gambaran tentang suasana panti dan karakteristik beberapa simbah yang paling menonjol. Kendala yang cukup berarti adalah betapa tremor tangan saya dan Hamima menjadikan rekaman gambar nggak enak dilihat HAHAHA nggak bawa tripod tadi soalnya.

Hamima dan Zulva mikir keras untuk menjawab tebak-tebakan dari Mbah Sugiyo. (dok. pribadi)

Doakan proses syuting dan wawancara Etnovideografi kami berjalan lancar ke depannya, ya. 

Oleh sebab kita kelak 'kan menua,
tak ada salahnya berguru pada yang telah lanjut usia.

Regards,

Posted in , , , , , | 2 Comments

Diam tanpa kata

Ada dua kemungkinan alasan seseorang memilih diam dan tak banyak bicara ketika berada di tengah teman-temannya:

  1. Dia tak menguasai topik pembicaraan. Atau memang pada dasarnya tak suka, misalnya saat teman-temannya ribut bergosip, ngomongin orang. 
  2. Dia nervous oleh keberadaan orang tertentu di antara teman-temannya itu.
Teori bebas, oleh


P.s. sebenarnya ada kemungkinan ketiga! Dia sedang sakit gigi atau sariawan, akan terasa sakit kalau banyak omong. WKWKWK.

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Curhat si pengagum rahasia - bagian 1

Mungkin mbaknya pemalu, mungkin juga lagi jerawatan? [pic from here]
Pernahkah kamu merasa sangat meyakini sesuatu, begitu percaya pada intuisimu, namun kemudian terjadi peristiwa yang meruntuhkan keyakinan itu? Cukup lama kamu berpikir bahwa kamu ada di jalan yang benar, sehingga kamu terus berjuang menjalani waktu demi waktu, tetapi ternyata apa yang kamu temukan di ujung sana tidaklah sesuai harapan.

Lalu kamu berpikir ulang, apa sesungguhnya yang menjadi tujuanmu?

Apa sesungguhnya wujud dari perasaan-perasaan bersemangat itu?

Saya menulis ini sambil ingin menangis. Rasanya sesak sekali. Ingin menangis kencang, begitu saja, tanpa tahu pasti mengapa saya harus melakukan itu. Mungkin supaya lega. Mungkin juga sekadar pelampiasan atas apa yang telah saya lakukan (meski di akhir ketahuan kalau keliru), atau justru apa-apa yang tidak saya lakukan...

HEHEHE bingung nggak? Bingung, kan? Rada-rada nggak konkret sih ini sama kejadian sebenarnya... tapi ya suka-suka saya dong mau menuliskannya dengan cara bagaimana... Hahaha.

Sejak dulu, saya kalau suka sama orang nggak pernah terang-terangan. Apalagi sampai orang yang saya taksir itu tahu, duh kepingin menghilang saja dari muka bumi ini deh kalau sampai kejadian begitu. Hanya sahabat-sahabat terdekat saja yang saya beritahu soal rahasia hati ini, sahabat yang bisa dipercaya untuk jaga rahasia dan bukannya malah koar-koar ke mana-mana. Akan sangat mengesalkan bagi saya kalau misalnya sahabat-sahabat ini juga kenal sama orang yang saya taksir, terus mereka ribut dan bertingkah aneh tiap saya papasan dengan si dia, atau berisik bilang ke dia, "dapat titipan salam dari Sekar!", padahal saya tak pernah menitipkan apa-apa.

Titip tagihan utang, mungkin. Tapi titip salam? Hmm... saya kalau titip salam tuh murni ke teman-teman yang jarang saya temui saja, bukan dengan niat modus.

Selalu begitu. Saya mengagumi orang diam-diam, tanpa bermaksud melancarkan jurus pendekatan terhadapnya. Saya sadar betul, saya nggak bisa mulai duluan; lebih tepatnya, nggak pintar cari cara. Berkali-kali saya berbincang dengan salah satu kawan yang kebetulan setipe dengan saya dalam hal ini, dan kesimpulannya tetap sama: kami tidak pintar menentukan langkah awal, sehingga harus merasa cukup dengan menyimpan kekaguman dalam hati.

Tetot! Kayaknya ini bakal jadi postingan yang lumayan buka-bukaan soal diri saya, hahaha.

Oleh karena saya selalu mengagumi dalam diam, tentunya orang yang saya suka itu tidak tahu akan perasaan saya. Akibatnya, saya sering patah hati ketika suatu waktu saya mengetahui si dia dekat dengan perempuan. Secret admirer macam saya ini lantas bisa apa? Hanya bisa menghibur diri sambil ngeletuk es batu. Halah.

Gitulah pokoknya.

Hubungannya sama paragraf pertama?

Hmm. Orang yang saat ini sedang saya kagumi, membuat saya 'seakan-akan' merasa patah hati. Bukan karena dia menunjukkan gelagat sedang menjalin hubungan dengan perempuan lain. Melainkan karena dalam satu pertemuan, dia meruntuhkan apa yang saya percayai tentang dirinya.

Saya yang tadinya merasa cukup mengenalnya, tiba-tiba sadar kalau bisa saja saya selama ini salah sangka.

Saya yang tadinya begitu yakin akan perasaan kagum ini, berubah meragu dan bertanya-tanya, apa yang mulanya membuat saya mengaguminya?
Ya sudah. Biarkan perasaan ini menggantung di udara, entah mau menguap atau akan bertahan nantinya.
—Sekar kepada seorang kawan kepercayaan.

Ajaib, weh. Usai saya mengetik ini, saya nggak jadi kepingin nangis. Malah ingin tertawa selepas-lepasnya atas hidup yang penuh kejutan, sampai teraduk segenap perasaan!

Kemungkinan topik ini akan dilanjut lain waktu, see you.

Posted in , , , , , , , | 4 Comments

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.