Curhat si pengagum rahasia - bagian 2

Saya pernah tanya sama Mbak Atha, “Mbak kalau suka sama orang gimana? Bakal kelihatan banget nggak kalau mbak naksir dia? Atau dipendam aja?” 

“Weh… Kowe ngerti dewe nek aku mesti bertingkah… Mesti ketok banget lah,” katanya sambil tertawa. Saya manggut-manggut, mulai memikirkan kemungkinan kalau saya jadi orang yang seterbuka itu juga.

Ternyata dia belum selesai bicara.

“Tapi kalau kamu bukan orang yang kayak gitu, jangan lah. Ndak wagu. Kamu diem-diem aja to kalau naksir cowok? Yo wis. Gakpapa. Itu caramu mengagumi orang,” tambah Mbak Atha.

Saya pun nyengir.

Tapi nih ya. Saya ingat sebuah kutipan dalam novel remaja yang pernah saya baca, dulu—sudah lama. Waktu saya masih remaja (sekarang kan sudah masuk umur dewasa muda. Halah. Tenane?).

Ada hal-hal yang harus dikatakan dulu baru bisa dimengerti. Salah satunya perihal rasa suka.

Ini nyambung juga nih sama salah satu lagunya Endah N Rhesa yang paling akrab di telinga. Saya dua kali nonton live performance dua sejoli ini, dan selalu terpesona sama aksi guitar battle mereka. Banyak yang mengaku baper sama lirik lagunya, tetapi saya sering mengelak. Lebih tepatnya, berusaha biar nggak terlalu bawa perasaan, gitu…

     When you love someone just be brave to say 
     that you want him to be with you.
     When you hold your love don’t ever let him go 

     or you will loose your chance to make your dream come true.

Dulu, saya pernah dekat dengan seseorang. Kedeketan yang akhirnya menumbuhkan perasaan sayang di hati saya. Eh, mulanya diawali rasa tertarik dulu sih. Tertarik sama kepribadian dia, uniknya dia, dan sebagainya. Terus lama-lama jadi dekat. Saya bisa saja bilang kalau saya mengagumi dia. Saya tak lagi melihat dia sebagai teman biasa, dia adalah teman yang saya kagumi. Tetapi, saya tidak mengatakannya.

Saya melewatkan kesempatan untuk mengatakannya, sampai akhirnya saya benar-benar tidak punya kesempatan.

Kepada Mbak Atha-lah saya menceritakan kesedihan saya waktu itu. Mbak Atha banyak menghibur saya (padahal saya tahu dia juga sangat-sangat-sangat sedih, karena kami kehilangan orang yang sama). Di sela-sela kalimat support-nya, Mbak Atha mengatakan sesuatu: jadikan ini pelajaran, Chak. Kamu jadi belajar untuk menghargai perasaanmu sendiri, kan?

Satu lagi teman saya juga mengatakan hal yang persis sama (walaupun waktu saya konfirmasi ulang, dia malah sudah lupa—tak ingat kalau pernah berkata sebijak itu... gimana sih, Shab).

Kenyataannya... iya, saya ingin kok mengapresiasi perasaan saya ini. Bahwa saya mengagumi seseorang, senang bisa mengenalnya, apalagi menghabiskan waktu dengannya.

.....
........
...........

Well. Apakah tulisan ini berarti sebuah deklarasi, bahwa saya menyerah? Menyerah untuk mengagumi dalam diam, memendam rasa suka tanpa ingin menyatakan? WAKAKAKA. Tunggu dulu, tunggu dulu. Saya belum tahu. Nggak ingin terburu-buru mengambil keputusan deh. Bukankah kalau kata Tere Liye, dikatakan atau tidak, itu tetap cinta? Untuk mengapresiasi perasaan itu pun, tidak harus selalu dengan menyatakan.

[tetep ya, berakhir tanpa kesimpulan.]

Regards,

Posted in , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.