Kelak kita 'kan menua

Pagi tadi saya bolos kuliah lintas jurusan demi kejar proyek untuk mata kuliah lain.

Pukul delapan lewat, saya janjian ketemu Hamima dan Zulva di pom bensin Tamsis. Kami lalu beriringan menuju arah selatan, kemudian ke timur, melintasi Jalan Pramuka yang bentuknya miring kalau di peta, dan tibalah kami di Rumah Pelayanan Lanjut Usia "Budi Dharma". Di depan kami berdiri bangunan panti sosial bagi para lansia di Yogyakarta.

Kami tidak bawa apa-apa untuk simbah-simbah di sana. Datang hanya dengan niat mengobrol, mendengarkan cerita simbah, dan merekamnya dengan kamera. Yes, we are proceeding to make another short movie project! 

Film pendek ini dalam rangka studi Etnovideografi, yang berakar pada antropologi visual. Hamima-lah yang mengusulkan ide untuk membingkai kisah para lansia. Sebuah tantangan bagi kami yang sehari-hari tidak banyak bersinggungan dengan orang-orang tua. Kami berencana mengangkat dinamika kehidupan para lansia yang mulanya adalah orang asing bagi satu sama lain. Mereka dipertemukan di panti wredha untuk kemudian menjalani hari tua bersama. Adakah perasaan rindu rumah dan keluarga kandung? Apakah tinggal di panti wredha merupakan pilihan, atau sebuah keterpaksaan? Jawab dengan padat dan jelas, disertai argumentasi minimal 250 kata. (Halah.)

Pada kunjungan hari ini, kami belum berpegang pada konsep yang rapi. Kami sekadar melakukan observasi awal, mengambil beberapa random footage, dan fokus melancarkan pendekatan dengan simbah-simbah dulu, sembari mencari sekiranya mbah sinten yang dapat dijadikan narasumber wawancara. Eee... ya gini, kuliah apapun itu, sesungguhnya nggak bakal lepas dari yang namanya riset. Huhuhu.

Kami menyebar ke wisma-wisma yang ada di panti. Bertemu, berkenalan, dan bercakap-cakap dengan beberapa simbah, baik kakung maupun putri. Kata petugas yang mendampingi kami di awal kunjungan, simbah-simbah di sana sangat terbuka terhadap pengunjung. Dan benar saja, kami mendapati wajah-wajah sumringah menyapa kami, ngawe-awe dan mempersilakan kami mampir ke wisma mereka. Ada sih simbah yang tetap kalem dan senyum simpul, ada pula yang langsung dengan semangat mengajak kami ngobrol tentang... apa saja.

Mbah Sugiyo adalah satu dari yang bersemangat itu. Simbah bercerita tentang bagaimana dulu ia pernah jadi pemain Srimulat di Surabaya. Berbincang dengan Mbah Sugiyo yang giginya nyaris tanggal seluruhnya, saya seperti terbayang almarhum eyang kakung saya yang dipanggil Gusti Allah Januari lalu. Kalau saja beberapa tahun terakhir pendengaran yangkung cukup bagus, mungkin kami bisa ngobrol dan haha-hihi seperti saya dan Mbah Sugiyo saat itu. Saya nggak membayangkan heningnya dunia yangkung (dan mbah-mbah lain) yang kondisi pendengarannya mengalami gangguan...

Menjelang siang, satu lagi anggota tim kami datang menyusul. Dialah Mbak Baswe yang bangun kesiangan wekekekek. Tak lama setelah bergabung, Mbak Baswe bilang kalau dia dibeberi gosip seru oleh salah satu mbah putri. Kami pun mencatatnya supaya bisa dikorek-korek lagi di kemudian hari (eh... lho...). Oh ya, satu kawan kami tidak ikut pada kunjungan ini, namanya Halim, hobinya pulang kampung.

Kunjungan resmi kami yang pertama ini—resmi, setelah menyerahkan surat izin—membuahkan cukup gambaran tentang suasana panti dan karakteristik beberapa simbah yang paling menonjol. Kendala yang cukup berarti adalah betapa tremor tangan saya dan Hamima menjadikan rekaman gambar nggak enak dilihat HAHAHA nggak bawa tripod tadi soalnya.

Hamima dan Zulva mikir keras untuk menjawab tebak-tebakan dari Mbah Sugiyo. (dok. pribadi)

Doakan proses syuting dan wawancara Etnovideografi kami berjalan lancar ke depannya, ya. 

Oleh sebab kita kelak 'kan menua,
tak ada salahnya berguru pada yang telah lanjut usia.

Regards,

Posted in , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

2 Responses to Kelak kita 'kan menua

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.