Mempertanyakan Keaslian

Dulu, setiap ada yang tanya, aslinya mana? Saya selalu mantap menjawab, dari Jogja. Belakangan, saya baru merenungkan lagi, sebenarnya saya ini sudah nggak 'asli' lagi. Haha.

Ibu saya asli Kebumen, begitu juga dengan eyang kakung dan eyang putri dari Ibu. Sementara bapak orang Semarang. Lahir dan besar di kota masing-masing, sebuah sekolah tinggi di Semarang-lah yang mempertemukan ibu dan bapak pada suatu ketika. Dari sana, keduanya lalu melanjutkan ke institut yang ada di Jogja untuk memperoleh gelar Sarjana.

Ibu berhasil mendapatkannya. Bapak tidak.

Tapi itu tidak menghalangi cinta mereka dibawa ke pelaminan pada 1996. Tak sampai setahun kemudian, saya lahir di sebuah rumah sakit di Kebumen. Kami tinggal berpindah-pindah antara rumah eyang Kebumen dan eyang Semarang, sampai saya berusia dua tahun. Barulah kemudian bapak dan ibu memutuskan hijrah ke Jogja dan menyewa satu kamar di sebuah rumah di daerah Babadan, dekat Gembira Loka. Setahun berlalu, kerabat kami menawarkan sepetak bangunan dekat jantung Kota Jogja. Bangunan itu, rumah yang saya tinggali sampai sekarang.

Saya didaftarkan ke Taman Kanak-kanak yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari rumah. Empat hari setelah saya mulai bersekolah, lahir adik saya yang pertama. Tak sampai dua tahun kemudian, adik kedua nyusul melihat dunia. Keduanya lahir di bidan yang sama, di Jogja. Jadi memang betul kalau mereka mengaku aslinya dari Jogja.

Sementara saya?

Saya selalu merasa, saya juga orang Jogja. Soalnya di Kebumen kan cuma numpang lahir saja. Wakakaka. Meski sempat tinggal di sana waktu masih ada eyang kakung, tapi kan tidak lama. Saya bahkan nggak bisa ngomong ngapak. Sejak Taman Kanak-kanak, saya sudah di sini. Tumbuh di tengah-tengah lingkungan dan budaya Jawa-Jogja.

Kalau dalam kuliah antropologi, ini persoalan etnis dan etnisitas. Etnis itu sesuatu yang objektif, melekat pada seseorang berdasarkan pertalian darah para leluhurnya, dan kadang memunculkan ciri fisik yang khas (dan bisa dilihat orang lain). Lain halnya etnisitas yang sifatnya subjektif, hanya pribadi yang bersangkutan yang berhak menentukan etnisitasnya. Etnisitas dibentuk oleh lingkungan dan kebudayaan masyarakat sekitar yang banyak mempengaruhi pola pikir seseorang. And here I am, feel belong to Jogja. Etnis saya Jawa, etnisitas Jogja.

Tapi ya gitu. Memang nggak asli banget, haha. Kini, walaupun Jogja saya anggap sebagai kampung halaman, saya seringkali merasa sendirian di tengah kota yang ramai ini.

Habisnya gimana, orang yang membawa saya ke kota ini sudah nggak ada semua. :(

Jogja nggak ada matinya. [dokumentasi pribadi, 2015]

Kudu terus sinau babagan 'dadi Jawa',

Posted in , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

2 Responses to Mempertanyakan Keaslian

  1. Kalau Zainudin di Tenggelamnja Kapal Van der Wijck, dia asli mana?

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.