Setelah Kamu Begitu Tabah

Catatan kecil untuk diri sendiri,
juga untuk orang-orang yang pernah dan telah merasa kehilangan.

Ketika satu orang meninggalkan kita,
kita tak boleh mencerca atau menyumpahi kepergiannya,
sebab kita tidak tahu betapa besar sesungguhnya
ia juga merasa terluka.  

Tatkala satu orang pergi meninggalkan dunia,
tak perlu kita meratapi jejaknya di pusara,
karena bisa jadi ia tak pergi ke mana-mana,
senantiasa hadir mengiringi hari-hari kita
meski dalam wujud berbeda. 

Bilamana satu orang melayangkan jiwanya ke angkasa,
barangkali ia hanya ingin jalan-jalan bersama partikel udara,
setelah bosan menjejak alam fana.
Mungkin saja ia kemudian berganti rupa,
menjelma kuncup mawar dalam vas kaca,
kerlip kecil di sepertiga malam buta,
atau kepak kupu memasuki rumah lewat jendela yang terbuka.  

Maka buka lebar-lebar jendela hatimu,
supaya Tuhan tahu 
Dia bisa mengirimkan satu tokoh baru, 
untuk punya peran dan mengisi kekosongan
setelah kamu begitu tabah mengikhlaskan kepergian. 

Seringkali, kita berkeras diri,
orang yang pergi
benar-benar tak terganti,
kita tak pernah tahu, bukan?
Tuhan punya rencana.
Kita hanya harus rela saat Dia menguji.


Sore di Pracimalaya. [dokumentasi pribadi]

Yogyakarta, April 2017.
Renungan atas tahun-tahun terhimpit perasaan ditinggalkan:
memperingati satu dasawarsa berpulangnya ibu,
dan satu tahun kepergian bapak.

Posted in , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.