Archive for May 2017

Sekarang, saya penakut

"Kamu harus belajar memberi kepercayaan pada orang lain selain bapakmu, Chak."

—Saras kepada Sekar, menanggapi kecemasan Sekar yang merasa bapaknya pergi membawa seluruh keberanian dalam dirinya.

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Pendiam or slengean?

'Saya cocoknya dengan cowok yang bagaimana?' adalah pertanyaan saya kepada dua orang kawan, kemarin di warung Mie Bandung Kridosono. Saat itu siang menjelang sore, saya menunjukkan tempat makan mie (yang menurut saya) enak kepada mereka yang kelaparan. Biasalah anak kos, sarapan dan makan siang dirapel di akhir waktu (saya juga sering, padahal nggak ngekos).

Hamima dan Agista -- nama dua teman itu -- sepakat: saya butuh cowok yang agak slengean, tapi sekali waktu juga bisa menjelma arif dan bijaksana.

Nah loh. Gimana tuh.

Slengean, alias banyak tingkah, pandai melawak. Maksudnya biar mengimbangi watak saya yang (menurut dua kawan ini) suka kebawa serius dan banyak diamnya. Cowok ini, di sisi lain harus juga bijaksana, mampu bersikap dewasa, agar bisa momong saya. Wakakaka... bakal ketemu nggak ya cowok yang begitu? Atau malah sudah? #lha

Tadinya saya mau membantah. Perasaan, saya nggak begitu serius kok orangnya. Asal kumpul sama yang bikin nyaman, saya cenderung ceriwis dan nggak jaim. Tapi ya sudah. Mungkin image saya di mata mereka memang begitu adanya.

Kalau mengikuti opini Hamima dan Agista, berarti saya nggak cocok sama cowok yang saya taksir sekarang, dong? Soalnya dia ini orangnya tenang. Agak pendiam. Kecuali kalau sedang di antara teman-teman terdekatnya, barulah dia banyak omong dan ikut melontar gurauan. Nah... tuh kan mirip kayak saya! Masa nggak cocok? Hahahaha. :))

yang penting pantang menyerah dan rela berkorban. nggak harus superhero kok *kemudian nyanyi something just like this-nya coldplay ft. the chainsmokers*

See u in future ya lelaki pilihan Tuhan,

Posted in , , , , , , | Leave a comment

"Bersamamu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal dirimu."

Rekomendasi soundtrack saat membaca ini: Ipang - Sahabat Kecil.

Hai, saya ingin memberitahumu.

Sangat menyenangkan berkumpul dengan orang-orang yang memancarkan energi positif. Kita dengan sukarela tertular aura positifnya, menyerap kehangatan dari sana. Seakan bebanmu tak lagi berat terasa, karena ada yang menawarkan memikulnya bersama. Lalu kita mudah terpancing tawa. Larut dalam cair suasana. Keakraban menghilangkan rasa sungkan -- yang berlanjut pada membicarakan apa saja.

Orang-orang baik ini membagi hal-hal yang tak ada ruginya kaudengarkan, pun menyimak penuh perhatian saat tiba giliranmu bercerita. Dan, yang terpenting, mereka membuatmu nyaman sampai kau lupa mengerling ke arah ponsel. Bahkan mengeluarkannya dari tas pun kau merasa tak perlu.

Malam ini adalah salah satu malam terbaik saya dengan orang-orang baik. Kami menikmati sejenak kesempatan meninggalkan rutinitas, mencari hiburan bersama, dan tak lupa -- memetik pelajaran setelahnya.

Ponsel saya waktu itu terlanjur mati kehabisan daya. Tetapi kalau pun nyala, saya pasti tak berminat menyentuhnya.

Karena waktu bersama orang-orang baik ini, sungguh, tak ternilai harganya.

Yogyakarta, 22 Mei 2017.
Terima kasih, relawan Kolong Tangga. :)

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Lihat langit, ingin ke laut

Seminggu terakhir, saya sering ada di jalanan pukul delapan pagi dan setengah tiga sore, menatap langit yang terbentang demikian indah. Biru, cerah, sekaligus lembut membalas tatapan saya.

Melihat langit yang bersahabat itu, selalu terbersit di benak saya: ingin ke pantai! Membayangkan hampar langit menjemput batas laut yang sama birunya. Merasakan udara bersih, dihibur debur ombak, memandang jauh formasi camar di cakrawala.

Di saat-saat seperti ini, saya mengeluhkan padatnya kota. Butuh waktu hampir dua jam perjalanan darat dari tempat saya berada, jika ingin memenuhi panggilan samudra.

Kelak, saya ingin punya rumah di pinggir kota saja. Dekat dengan laut, kalau bisa.

Saya akan membangun rumah di atas pasir. Tidak, jangan rumah. Cukup pondok kecil dari kayu, dengan kaki-kaki di keempat sudutnya, serta tangga di muka pintunya, yang dari sana saya bisa belajar pada giatnya mentari, bijaknya laut, serta lapangnya langit.

credit: instagram @sejkko

Yogyakarta, 15 Mei 2017.


Posted in , , , , | Leave a comment

Surat Permohonan Bahagia untuk Pesisir

Bagaimana cara menyurutkan kesedihan Pesisir yang kamu kira nggak akan pernah dilanda pasang? Pesisir itu letaknya tinggi, sehingga selalu mandi cahaya matahari, ya, larik-larik cahaya menghambur lewat celah langit. Maka kuyuplah ia oleh kharisma dan daya pikat luar biasa, yang membuat wisatawan berbondong-bondong menghampiri.

Tentu saja, bukan wisatawan yang diinginkan dan dinanti-nanti oleh Pesisir. Bahkan Matahari, Karang, dan para Nelayan pun tahu itu.

Pesisir selalu mendamba kasih yang sejati,
bukan yang singgah sejenak lalu beringsut pergi.

Pesisir suka menebak-nebak kapan hadirnya suatu Abadi,
sambil berharap ia punya wadah yang lebih cekung daripada lautnya,
untuk menampung luapan rindu
yang telah disiapkannya sejak lama.

Setelah semua keteguhan itu, mana mungkin saya menyodorkan selembar tisu untuk membersit ingus atau menyeka linang airmata; bukankah tangis Pesisir berarti gulungan tsunami? Saya tenggelam ini, bayangkan, berusaha menjangkau apa saja sampai megap-megap kehabisan nafas, dan kegetiran si Pesisir jelas melemahkan denyut saya.

Parahnya, kalau nanti saya mati, Pesisir bisa jadi tambah sedih lagi. Masa iya dia mau hempaskan tsunami dua kali?

Jadi lebih baik Pesisir sabar sebentar, ya. Bumi masih berputar, tenang saja. Benda langit masih di sana, seluruhnya. Saya tidak tahu rasi kesukaanmu, tapi yang saya tahu bahwa matahari belum letih bertengger di ranting mega. Kekuatan sinarnya masih sama seperti zaman purba, asal kau percaya.

Sinar yang akan menguapkan gelisah, menyurutkan sedu sedan.
Pesisir kembali berkilauan.
Kelak, kausambut wujud sesosok membawa Kasih Sayang. Kita belum tahu dari arah mana dia datang: dari daratan, ataukah mendayung sampan?

Demikianlah saya bermohon kepada Semesta,
agar Pesisir segera menjemput bahagia.
(Tak perlu saya ulangi: dia menangis, saya yang mati!
bahkan mungkin, yang lainnya juga: Nyiur, Terumbu, Ikan Pari....)

gambar dari sini
 
-------- errrrgh. Ironi atas sebuah narasi. Nggak kebayang rautmu membaca ini.
You know, I'm trying to put a smile on your face, Bi. Maaf kalau malah bikin pucat pasi.
 
Yours,

Posted in , , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.