Menuju takdir yang digariskan Semesta

credit: pinterest
Kadang, ada satu titik di mana semua yang kamu inginkan hanyalah berbaring di tempat tidur. Memejamkan mata, lalu jatuh tertidur untuk waktu yang lama. Setelah apa yang kamu lalui seharian: bergabung dengan riuh kendaraan yang bikin macet jalanan, membaca berita-berita terbaru di layar gawai, tertawa bersama teman-temanmu meski sesungguhnya tawa itu palsu. Malamnya, kamu menangisi orang-orang yang telah lebih dulu pergi, menyesali satu-dua kawan yang tak terjangkau lagi. Kamu juga berkontemplasi tentang apa yang akan terjadi esok nanti. Sampai akhirnya kamu tidur, tanpa mimpi.

Dan kamu ingin bangun dari tidur lelapmu, perlahan-lahan, bangun oleh perasaan seolah-olah tubuhmu sudah mendapatkan cukup energi, bukannya tersentak oleh bunyi-bunyi mengejutkan. Kamu terlahir dalam pribadi yang terbarukan, siap menjemput segala yang pernah kamu tulis dalam daftar cita-cita. Lebih mantap menghadapi berbagai bentuk kemungkinan yang disodorkan dunia. Dan kamu beranjak menuju cermin, ada sepasang mata terpantul di sana, mata yang berbicara: Jangan manja!

Dan kamu mengancingkan kemeja, merapikan riasan, lantas menyiapkan berkas pendaftaran: menuju takdir yang telah digariskan Semesta.


Posted in , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.