Tanya, tanya dia: kenapa?

Jika pada suatu waktu ada temanmu yang bersikap ganjil, entah ia tiba-tiba jadi begitu pendiam atau barangkali bertingkah menyebalkan, hal sederhana yang bisa kamu lakukan: bertanya kenapa.

Mungkin ia sedang mengalami hari yang buruk. Mungkin perasaannya sedang kacau, atau bisa jadi perubahan sikapnya dipicu tekanan batin yang melanda seperti badai topan La Nina. Kamu hanya akan tahu mana yang benar terjadi, jika kamu tanyakan alasan di balik perubahan sikapnya.

Terbesit di pikiranmu, bukankah sebaiknya kamu menunggu. Tunggu saja, dia pasti akan bercerita. Ketahuilah, terkadang hukum tunggu-menunggu ini tidak berlaku. Kamu tidak bisa yakin dia akan buka suara dan membawa berita, “Pengumuman! Ada nyeri di sudut hatiku yang ketika kutengok ke dalam, ternyata ia nyaris habis digerogoti kedukaan. Hatiku berlubang, aku sungguh hancur oleh rasa duka dan tak tahu cara mengembalikan logikaku utuh seperti semula.”

Sesuatu semacam itu sukar diungkapkan, kau mungkin bisa bayangkan?

Maka sebelum terbit prasangka, sebelum memuncak kejengahanmu melihat ganjil sikapnya, cobalah tanya. Apakah dia baik-baik saja? Manakah yang dia butuhkan: kuping, tisu, atau bahu? Katakan kepadanya, kamu sadar ada yang berbeda. Dan kepadamu, dia boleh berbagi cerita.

Tanya, tanyai dia. Jangan diam saja,

...kecuali kamu memang tak ingin tahu,

sebab prasangkamu menang dan kamu memilih biarkan saja dia begitu.

Sebab kamu tak pernah sungguh-sungguh menaruh peduli,
atau kamu tak punya dada yang cukup lapang untuk memahami.

 

Posted in , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.