Archive for July 2017

We are open!

Banyak teman yang tahu rumah saya, tapi nggak begitu banyak yang sering main ke rumah. Hanya segelintir saja yang suka datang, entah menghabiskan waktu untuk mengobrol ngalor-ngidul saja sambil gelaran kasur di depan TV atau mampir sebentar usai perjalanan ke tempat-tempat tertentu di kota ini.

Kalian tahu, tidak? Saya senang dikunjungi. Senang menerima tamu, meski bukan berarti selalu sedia suguhan dalam stoples kaca atau kaleng biskuit. Kayaknya malah jarang punya stok camilan untuk disuguhkan kepada tamu, deh. Duh, tapi teman-teman yang datang itu sebenarnya nyari camilan atau memang berniat datang menghampiri saya, sih?

Wkwkwk. Sepenangkapan saya, beberapa teman malah sungkan berkunjung karena khawatir saya kerepotan. Padahal, repot ngapain, coba? Duduk di ruang tamu silakan, kalau kursinya nggak cukup ya lesehan. Gelar tikar sendiri, saya nggak repot-repot meladeni (wkwkwk lagi). Kalau tiba waktu makan, kita cari makan di sekitar. Atau bungkus lauk, lalu santap sama-sama dengan peralatan makan saya yang sederhana.

Seperti yang baru saja dilakukan beberapa teman dari Kolong Tangga.


Terima kasih sudah mampir ya, Mbak Atha, Mbak Nia, Mas Dito. Saya tersanjung rumah saya jadi pilihan untuk disambangi usai training workshop merangkai bendera tadi. Terima kasih obrolannya, sangat seru sampai kita lupa, waktu sudah menunjukkan tengah malam. Kalau tidak berniat menginap, teman-teman harus pulang.

Ibaratnya kedai kopi atau toko roti, di pintu rumah ingin saya gantung papan keterangan: we are open. We are always open. Just so you know, you can always dropped by and knock our door to have a visit. The word 'we' referred to I myself and my cat, Olsa, anyway.

Once again, thank you for coming. We're looking forward for your next visit!

Posted in , , , , , , | 2 Comments

Kandas

Nggak diizinkan, guys.

Rencana dan niat saya berkendara ke Semarang, naik motor sendiri. Tante dan adik-adik nggak memperbolehkan saya menjalankan rencana itu. Mereka khawatir saya kenapa-napa di jalan. Huah, saya nangis semalam suntuk saking kecewanya.

Kecewa berat. Padahal akhir pekan ini saya sudah kosongkan semua agenda demi berangkat ke Semarang. Menengok adik-adik. Menjemput mereka sepulang sekolah. Tapi apa daya. Kalau restu tak di kantong, mustahil mulus lintasan menuju tujuan.

Saya ngambek. Seperti anak kecil tak diberi izin main di bawah hujan. Nggak tahu sih sampai kapan bakal ngambeknya. Nggak bakal lama-lama juga.

Saya cuma pengin dikasih kepercayaan. Itu saja.

Posted in , , , , , , , | 2 Comments

Hati-hati di jalan

Sejak pakai motor matic, saya jadi merasakan bagaimana nikmatnya ngebut di jalan. Hahahaha pembukaan macam apa ini. Sebenarnya dari dulu waktu pakai pitung pun saya suka ngebut. Teman-teman saya tahu itu. Tapi ya ngebutnya pitung segimana sih, wkwk... Paling banter juga 70an km/jam, itu penginnya masih tak gas lagi tapi kasihan sama mesinnya.

Sering dulu waktu nyalip-nyalip mobil di jalan, saya menduga-duga apa yang dipikirkan sama orang-orang di dalam mobil: ini anak gaya bener pake motor tua aja sok-sokan ngebut. Gitu kali ya? Well, sebenarnya bukan emang suka ngebut sih, tapi biasanya mergo kahanan. Karena keadaan. Keburu-buru harus segera sampai ke tempat tujuan. Hehe.

Sebagaimana pernah saya ceritakan di post ini, saya tahu betul bapak sebenarnya kurang merestui saya pakai matic. Katanya bahaya. Nggak semudah motor gigi untuk nurunin kecepatan. Dan iya, sekarang saya merasakan sendiri. Pakai matic kudu lebih hati-hati.

Saya rasa, prinsip menerapkan safety riding amat penting, motor apapun yang kita pakai. Jadi walaupun ngebut, tapi nggak boleh ugal-ugalan. Saya belajar mengurangi kecepatan jauh sebelum lampu merah, biar nggak ngerem mendadak. Nggak mepet-mepet sama kendaraan di depan, in case dia ngerem mendadak saya nggak kelabakan. Taat rambu lalulintas, termasuk nggak melanggar lampu merah dan marka jalan. Tertib menyalakan lampu sign (dan nggak lupa mematikannya!). Juga membunyikan klakson jika dirasa perlu, misal ada kendaraan lain yang mau masuk ke jalan atau menyeberang pas posisi kita sedang melaju kencang.

Beberapa kali saya punya pengalaman dibonceng teman yang suka ngebut. Ya laki, ya perempuan. Selain ngebut, agak ngawur pula pegang motornya. Saya di belakang jadi ketar-ketir sendiri. Ngerem mendadak, nggak sabaran, asal nyelip kendaraan besar di depan, melanggar marka. Ampun, padahal ‘menyerahkan diri’ buat dibonceng orang itu perihal kepercayaan lho. Dan ngeboncengin orang berarti mengambil tanggungjawab buat bawa dia dalam keadaan selamat. Ini anak orang woi yang lo boncengin! Masih punya adik-adik yang bakal nangis lah kalau denger kakaknya insiden di jalan.

That’s it. Angka kecelakaan lalulintas makin meningkat dari waktu ke waktu. Banyak orang yang turun ke jalan (widih turun ke jalan), mengemudikan kendaraan, tapi masih kurang kesadaran untuk taat berlalulintas. Belum siap secara mental dengan konsekuensi-konsekuensi yang harus ditepati sebagai pengendara, apapun jenis kendaraannya. Paling enggak, harus tanggungjawab sama diri sendiri dong, sayang nyawa. Jangan sampai membahayakan orang lain juga.

Jam terbang saya dalam mengendarai motor memang nggak tinggi-tinggi amat. Nggak seperti teman-teman penglaju yang rumahnya jauh dari SMA ataupun kampus. Tetapi, pernah kok saya pulang-pergi jalanan Gunungkidul yang berliku menuju pantai. Berkendara antarkota juga pernah, ya walaupun cuma ke Semarang dan belum yang jauh-jauh banget. Ke Semarang itu dulu naik pitung malah, kalau matic belum pernah (Bismillah bentar lagi nyobain). Waktu ke Semarang itulah, iring-iringan dua motor sama bapak, saya melakukan pelanggaran terberat saya dalam berkendara—saya kan belum punya SIM! Tapi berhubung musim mudik lebaran yak, nggak ada cegatan tuh di jalan. Dan karena didampingi bapak, saya jadi sekalian belajar safety riding dari beliau.

Alhamdulillah, belum pernah kena insiden di jalan. Kalau kebanan alias ban bocor sih sering. Wkwk.

Itulah kenapa saya ngomongin soal safety riding di postingan ini—kalau-kalau ada yang mbatin ‘halah emang seberapa tinggi jam terbangmu naik motor, Chak.’ Hehehehe. Ya emang belum jago. Tapi saya sadar safety riding itu penting! Setidaknya, ingat untuk selalu hati-hati buat diri sendiri. Orang mati bisa di mana aja, bray.

Huih. Merinding aing.

Posted in , , , , , , | 2 Comments

Karena kita pernah jadi anak-anak

Tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Kemarin sudah dikoar-koarin sih waktu general meeting relawan Kolong Tangga. Admin Instagram diminta cari materi untuk diunggah sebagai tanda bahwa kami ingin turut merayakan Hari Anak, kami ingin selalu ada untuk anak-anak. Iya, walaupun Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga secara fisik sudah tak ada lagi, kami ingin tetap berpartisipasi mewujudkan keceriaan anak-anak.

Bagi Museum Kolong Tangga, anak-anak merupakan elemen yang sangat-sangat-sangat penting! Penting untuk dijaga dan didampingi selama masa perkembangannya, dilindungi setiap haknya, diberi kebebasan seluas mungkin untuk mengeksplorasi potensi diri, serta mengasah talenta mereka. Ini tertuang dalam kutipan dari Pak Rudi Corens, kurator Museum Kolong Tangga:

Follow Instagram Kolong Tangga! Di @kolongtangga. :)

Ah, how sweet it sounds, Pak Rudi. Tutur dan sikapmu selalu mencerminkan bagaimana dirimu menyayangi dan menginginkan yang terbaik untuk anak-anak. Itu juga yang seharusnya kita usahakan, ya? Kita semua juga pernah melalui tahap tumbuh-kembang sebagai seorang anak. Ya kali begitu lahir langsung gede gini.

Saya jadi teringat momen saya di Hari Anak, lama berselang. Saya lupa kelas berapa, kayaknya sih SMP, atau malah SD kelas 6, gitu. Pagi-pagi saat hendak berangkat sekolah, saya bermaksud cium tangan bapak, bapak tiba-tiba mengucapkan selamat.

"Selamat untuk apa, Pak?"

"Selamat Hari Anak Nasional."

Kepala saya diusapnya. Weeeh! Saya nggak tahu kudu merespon bagaimana waktu itu. Mendengar semarak Hari Anak Nasional digaungkan di tengah masyarakat dan di media sepertinya hal biasa, tapi entah mengapa rasanya berbeda saat bapak yang mengucapkannya--pada anaknya. Terdengar... sangat... personal.

Tidak semua orang memiliki masa kanak-kanak yang menerbitkan senyum ketika dikenang. Sebagian orang justru memperoleh 'jatah' ujian hidup saat usia kanak-kanak. Apapun itu, kini saatnya kita yang sudah beranjak dewasa menaruh perhatian dan kepedulian terhadap perkembangan anak-anak di sekitar. Soalnya, masa kanak-kanak seseorang amat berpengaruh untuk masa depannya, seperti yang lebih dulu disadari oleh Pak Rudi. Bagaimana saya yang sekarang, Sekar-menjelang-20-tahun, juga dibentuk dari potongan-potongan pengalaman dan tempaan masa kanak-kanak saya yang nano-nano. Hehehehehe.

Jadi, apakah setelah baca ini kamu jadi pengin punya anak? #skip

Posted in , , , , , | 2 Comments

Kadung membusuk

Rara  : Makane kowe ki masak chak!! Ben ora males mangan!
Sekar : Yo tur aku ming iso ngesop karo njangan bening.
Rara  : Yo masak kuwi wae!
Sekar : Yo.

Besok paginya.
Sekar : Aku wis blonjo *kirim foto bahan sop yang dah masuk kulkas*
Rara  : Alhamdulillah.

Terus ditinggal ke Kebumen sama Semarang beberapa hari.

Dua minggu kemudian.
Kobis busuk, daun bawang layu, wortel atos, tomat blenyek. Lupa kalau ada sayur buat dimasak. Niat masaknya juga menguap entah ke mana. Jan mubazir tenan.

Ya Robbi inilah alasanku kepingin ngampiri Hamima ning Purwokerto ben iso diwulang masak karo mbokne :"(((( [baca: Ibu dan Soal Memasak]

...karo sisan dolan juga sih. Hehe hehe. Btw nice ya kebetulan nama tokoh yang bercakap-cakap itu Rara dan Sekar. Jadi kaya vokalisnya Banda Neira. Hehe hehe.

Jadi kangen Banda Neira :(


Posted in , , , , | Leave a comment

To love ourselves: curhatan panjang

It's been a week since I started this new chapter of life, an unpredictable one. Things changed and people give their reaction, some with their calm faces because they have better preparation, and others need additional time to deal with circumstances. Oh, obviously I put myself on the sort of those people who struggle so much to deal with recent situation.

Saya menyebutnya babak baru dalam kehidupan karena situasi saya sekarang sama sekali beda dengan yang dulu. Dulu saya hidup di tengah-tengah keluarga, di rumah kontrakan di jantung kota Jogja. Sekarang saya masih menempati rumah yang sama, hanya saja... saya tinggal sendirian. Anggota keluarga saya satu persatu pergi.

Setelah ibu dan bapak berpulang, banyak orang menanyakan bagaimana kami bertahan. Saya dan adik-adik, kami bertiga masih mengenyam pendidikan. Berbagai bentuk bantuan datang. Keluarga dan sahabat-sahabat dari orangtua kami menegaskan, urusan sekolah harus tetap jalan. Maka berkat bantuan mereka, saya dan adik-adik bertahan.

Tetapi, bagaimana dengan kebutuhan selain material? Adik-adik saya baru memasuki usia puber. Tentunya mereka perlu pendampingan dari yang lebih berpengalaman. Mereka perlu sosok yang bisa dijadikan role model, panutan, yang bisa membantu mengarahkan pola pikir yang sedang berkembang.

Saat itulah, tante dan om kami, dengan segenap kebaikan hatinya, datang memberi opsi. Tante dan om akan mendampingi adik-adik, paling tidak selama usia sekolah. Tya dan Naya akan tinggal dan bersekolah di Semarang, kota kelahiran bapak, untuk sementara waktu. Berkumpul dengan sepupu, putri om dan tante. Sejenak berpisah dengan kakaknya.

Bukan sesuatu yang mudah diputuskan, memang. Pada awalnya jelas terasa berat untuk melepas mereka. Namun, semua sepakat keputusan itu adalah yang terbaik untuk saat ini. Beberapa bulan setelah bapak berpulang, bersamaan dengan pergantian tahun ajaran, Naya mengurus kepindahannya ke Semarang. Sementara Tya masih tinggal bersama saya di Jogja, di tahun terakhirnya duduk di SMP kelas tiga.

Tya pindah tahun ini. Baru saja, belum lama. Mendaftar di salah satu SMA negeri di Semarang, almamater yang sama dengan bapak dan tante. Nilainya cukup untuk membawanya masuk dalam kuota lintas provinsi yang ditentukan. Perasaan saya? Senang dan bersyukur, tentu saja. Adik-adik saya bersama keluarga dari bapak yang murah hati dan penyayang. Ada yang menjamin mereka tak kekurangan afeksi, apalagi kebutuhan pangan.

Saya tahu, cepat atau lambat saya harus beradaptasi dengan situasi yang baru. Tinggal seorang diri di rumah yang tadinya berisi kehangatan keluarga bukan perkara mudah. Gelombang emosi segera datang menyergap. Perasaan-perasaan sepi. Kecemasan tentang banyak hal. Saya kehilangan minat untuk melakukan apapun. Dalam beberapa kesempatan, saya memilih tidak bermalam di rumah. Saya menginap di rumah teman, juga menyanggupi permintaan teman saya yang lain untuk menemaninya sowan ke tempat simbahnya di Wonosari pada suatu petang, semata-mata agar saya tidak sendirian di rumah.

Selera makan saya sempat hilang. Saya menunda-nunda menanak nasi dan terlalu malas cari makan di luar sampai lambung saya perih. Tindakan yang bodoh, kan? Ya, saya melakukan hal yang bodoh, menyakiti diri sendiri. Sampai suatu hari saya bangun, menatap plafon kamar yang jebol gara-gara ditubruk kucing, memandang sudut atap yang dihiasi jaring laba-laba, dan tersadar.

Saya tidak boleh terus-terusan begini.

Tante dan om saya percaya, saya bisa hidup mandiri. Teman-teman saya yakin, saya dapat menghadapi keadaan. Semangat dan dukungan tak henti-hentinya mereka salurkan kepada saya. Dan, lebih dari itu, saya sendiri harusnya punya kepercayaan, kan? Bagaimana mungkin saya mengecewakan orang-orang yang menyayangi saya, yang mendoakan saya, dan malah berhenti berjuang untuk diri saya sendiri?

Jadi, begitu. Saya ingin berpikir jernih dan menatap ke depan. Membuka segala kemungkinan untuk memperbaiki keadaan. Maka, pertama-tama, saya harus belajar menyayangi diri saya sendiri. Karena, kalau bukan saya, siapa lagi, kan?

Kamu, gitu?

WEKEKEKEKE. Sudah capek belum, nge-scroll curhatan saya? Mana bahasanya resmi banget, lagi. Sekalian latihan buat tugas review yang akan datang di semester baru nanti deh. WHAAAA.

Next program: penggendutan badan wkwk sudah muak saya kalau ketemu orang dibilang 'kurus amat sih Chaaaa.' Ya gimana orang makan aja susah-_-

But after all, we really have to love ourselves!

Posted in , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Apakah menurutmu saya berkata bohong pada abang burjo?

Ada dua bakul yang jadi langganan saya beli bubur kacang ijo di pagi hari: bapak yang jualan di pertigaan alun-alun utara—dari arah kantor pos, SD Pangudi Luhur ke timur; dan mas-mas yang manggon di jembatan Serangan, utara jalan. Keduanya jualan burjo pakai gerobak dorong. Bakul yang di alun-alun itu dulu adalah langganan almarhum bapak juga. Sedangkan mas-mas di jembatan Serangan, saya sering mampir karena searah dengan rute pulang usai mengantar adik paling kecil (yang dulu) sekolah di SMP Muga.

Beberapa bulan terakhir, saya tak lagi sering jajan bubur kacang ijo. Sampai kemarin sepulang dari Semarang, satu pekan setelah lebaran. Adik-adik ikut pulang, artinya ada banyak mulut dan perut yang butuh makan. Maka, pagi itu, saya beli soto Surabaya untuk sarapan. Dilanjut dengan belanja sayur bahan sop untuk makan siang, dan, mumpung naik motor, sekalian saja mampir tumbas bubur kacang ijo di jembatan Serangan.

Mas-mas bakul burjo sedang duduk menghadap gerobaknya, membaca surat kabar, memunggungi arah di mana saya memarkirkan motor.

“Burjo tiga, dibungkus nggih, mas.” Saya berkata dari sisi samping. Si mas meletakkan korannya, lantas sigap berdiri, dan menanggapi saya.

Sebelumnya, ia menolehkan kepala ke belakang, seperti ingin tahu kendaraan yang membawa saya ke situ. Biasanya, orang-orang parkir motor tepat di samping gerobak, sehingga si mas bisa langsung bersiap melayani. Tetapi, saya muncul dari belakang, yang mengakibatkan—dugaan saya—ia merasa dikejutkan (hehe ya maaf lho mas.)

Lama nggak kelihatan, mbak,” ujar si mas sambil menciduk burjo porsi pertama. “Campur seperti biasa?” Maksudnya, memastikan apakah saya mau bubur kacang ijo dicampur ketan hitam, atau salah satunya saja. Saya meng-iya-kan kalimat kedua.

Sibuk kuliah, mbak?” tanya si mas lagi.

Saya nyengir, “nggak juga. Kemarin libur lebaran, saya nggak di Jogja.”

“Ooh ya ya ya.”

Jeda.

“Motor pitungnya di mana, mbak?”


AH. Saya tahu. Saya tahu si mas akan menanyakan perihal kendaraan yang saya bawa. Saat itu, saya pakai motor matic, karena si pitung sudah pasti sulit di-starter setelah lama ditinggal dan dibiarkan menganggur

“Pitungnya ada di rumah. Saya pakai matic saja biar cepat.”

“Ooh ya ya. Bapaknya belum bosan sama pitung, ya.”

“Ehe… iya.”

“Malah bagus, mbak, pitung kan antik. Kesukaan bapaknya memang unik.”

Saya nyengir lagi. Tiga porsi burjo sudah diplastiki. Saat akan membayar, saya sempat lupa kalau harganya empat ribu rupiah per porsi. Saya kira masih tiga ribuan. Masnya mengingatkan dengan tampang sedih, plus ekspresi hari-gini-mbak-plis-siapa-yang-jual-burjo-tiga-ribuan.

Dengan seucap matur nuwun, saya pun berlalu dari sana dan berkendara pulang.


Aduh, mas bakul burjo. Maafkan saya. Di satu sisi, mas ini adalah salah satu dari orang-orang yang saya temui dalam penampilan saya yang paling jujur: pagi hari, belum mandi, berpakaian sekadarnya. Di sisi lain, mas juga mendengar ketidakjujuran saya pagi itu. Bapak saya, yang suka koleksi pitung itu, sampun tilar, mas.

Saya… tidak sepenuhnya bohong, kan? Ketika ditanya, ‘bapaknya belum bosan sama pitung, ya,’ saya nyengir saja… karena, sampai bapak wafat memang pitungnya masih komplet.

Saya hanya memilih tidak mengatakan itu. Bahwa sosok yang sedang dibicarakan ini sudah tiada.

Besok lagi saya tumbas burjo, kita ngobrol yang lain saja ya, mas. Tentang Kali Winongo, tips dagang burjo, apa saja selain topik yang membuat saya memilih jalan ketidakjujuran. Soalnya, saya tidak terlalu suka menceritakan perihal kepergian orangtua saya, kecuali jika saya yakin, lawan bicara mampu merespon lebih dari ungkapan turut prihatin dan raut iba. Saya memilih membiarkan orang lain dengan apa yang mereka tahu, karena dalam beberapa situasi, saya rasa, memang lebih mudah begitu.


--

Hem. Cerita tumbas burjo aja panjang gini, ealah Chak :(

Terima kasih buat yang sudah menyempatkan baca. Sekarang kamu tahu, salah satu jajanan yang saya suka. Wkwkwk. 

Regards,

Posted in , , , , , | Leave a comment

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.