Karena kita pernah jadi anak-anak

Tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Kemarin sudah dikoar-koarin sih waktu general meeting relawan Kolong Tangga. Admin Instagram diminta cari materi untuk diunggah sebagai tanda bahwa kami ingin turut merayakan Hari Anak, kami ingin selalu ada untuk anak-anak. Iya, walaupun Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga secara fisik sudah tak ada lagi, kami ingin tetap berpartisipasi mewujudkan keceriaan anak-anak.

Bagi Museum Kolong Tangga, anak-anak merupakan elemen yang sangat-sangat-sangat penting! Penting untuk dijaga dan didampingi selama masa perkembangannya, dilindungi setiap haknya, diberi kebebasan seluas mungkin untuk mengeksplorasi potensi diri, serta mengasah talenta mereka. Ini tertuang dalam kutipan dari Pak Rudi Corens, kurator Museum Kolong Tangga:

Hmmm kebaca nggak guys? Mampir dan follow Instagram @kolongtangga aja! :)

How sweet it sounds, Pak Rudi. Tutur dan sikapmu selalu mencerminkan bagaimana dirimu menyayangi dan menginginkan yang terbaik untuk anak-anak. Itu juga yang seharusnya kita usahakan, ya? Kita semua pernah melalui tahap tumbuh-kembang sebagai seorang anak. Ya kali begitu lahir langsung gede gini.

Saya jadi teringat momen saya di Hari Anak, lama berselang. Saya lupa kelas berapa, kayaknya sih SMP, atau malah SD kelas 6. Pagi-pagi saat hendak berangkat sekolah, saya bermaksud cium tangan bapak, bapak tiba-tiba mengucapkan selamat.

"Selamat untuk apa, Pak?"

"Selamat Hari Anak Nasional."

Kepala saya diusapnya. Weeeh! Saya nggak tahu kudu merespon bagaimana waktu itu. Mendengar semarak Hari Anak Nasional digaungkan di media massa sepertinya hal biasa, tapi entah mengapa rasanya berbeda saat bapak yang mengucapkan--pada anaknya. Terdengar... sangat... personal.

Tidak semua orang memiliki masa kanak-kanak yang menerbitkan senyum ketika dikenang. Sebagian justru memperoleh 'jatah ujian hidup' saat usia kanak-kanak. Apapun itu, kini saatnya kita yang sudah beranjak dewasa menaruh kepedulian terhadap perkembangan anak-anak di sekitar. Soalnya, saya percaya, masa kanak-kanak seseorang amat berpengaruh untuk masa depannya, seperti yang lebih dulu disadari oleh Pak Rudi. Bagaimana saya yang sekarang, Sekar-menjelang-20-tahun, juga dibentuk dari potongan-potongan pengalaman dan tempaan masa kanak-kanak saya yang nano-nano. Hehehehehe.

Jadi, apakah setelah baca ini... kamu jadi pengin punya anak? #skip

Posted in , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

2 Responses to Karena kita pernah jadi anak-anak

  1. Endingnya adalah #kode
    Amin mb! 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha tak kelarin kuliah dulu lah Om :))

      Delete

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.