To love ourselves: curhatan panjang

It's been a week since I started this new chapter of life, an unpredictable one. Things changed and people give their reaction, some with their calm faces because they have better preparation, and others need additional time to deal with circumstances. Oh, obviously I put myself on the sort of those people who struggle so much to deal with recent situation.

Saya menyebutnya babak baru dalam kehidupan karena situasi saya sekarang sama sekali beda dengan yang dulu. Dulu saya hidup di tengah-tengah keluarga, di rumah kontrakan di jantung kota Jogja. Sekarang saya masih menempati rumah yang sama, hanya saja... saya tinggal sendirian. Anggota keluarga saya satu persatu pergi.

Setelah ibu dan bapak berpulang, banyak orang menanyakan bagaimana kami bertahan. Saya dan adik-adik, kami bertiga masih mengenyam pendidikan. Berbagai bentuk bantuan datang. Keluarga dan sahabat-sahabat dari orangtua kami menegaskan, urusan sekolah harus tetap jalan. Maka berkat bantuan mereka, saya dan adik-adik bertahan.

Tetapi, bagaimana dengan kebutuhan selain material? Adik-adik saya baru memasuki usia puber. Tentunya mereka perlu pendampingan dari yang lebih berpengalaman. Mereka perlu sosok yang bisa dijadikan role model, panutan, yang bisa membantu mengarahkan pola pikir yang sedang berkembang.

Saat itulah, tante dan om kami, dengan segenap kebaikan hatinya, datang memberi opsi. Tante dan om akan mendampingi adik-adik, paling tidak selama usia sekolah. Tya dan Naya akan tinggal dan bersekolah di Semarang, kota kelahiran bapak, untuk sementara waktu. Berkumpul dengan sepupu, putri om dan tante. Sejenak berpisah dengan kakaknya.

Bukan sesuatu yang mudah diputuskan, memang. Pada awalnya jelas terasa berat untuk melepas mereka. Namun, semua sepakat keputusan itu adalah yang terbaik untuk saat ini. Beberapa bulan setelah bapak berpulang, bersamaan dengan pergantian tahun ajaran, Naya mengurus kepindahannya ke Semarang. Sementara Tya masih tinggal bersama saya di Jogja, di tahun terakhirnya duduk di SMP kelas tiga.

Tya pindah tahun ini. Baru saja, belum lama. Mendaftar di salah satu SMA negeri di Semarang, almamater yang sama dengan bapak dan tante. Nilainya cukup untuk membawanya masuk dalam kuota lintas provinsi yang ditentukan. Perasaan saya? Senang dan bersyukur, tentu saja. Adik-adik saya bersama keluarga dari bapak yang murah hati dan penyayang. Ada yang menjamin mereka tak kekurangan afeksi, apalagi kebutuhan pangan.

Saya tahu, cepat atau lambat saya harus beradaptasi dengan situasi yang baru. Tinggal seorang diri di rumah yang tadinya berisi kehangatan keluarga bukan perkara mudah. Gelombang emosi segera datang menyergap. Perasaan-perasaan sepi. Kecemasan tentang banyak hal. Saya kehilangan minat untuk melakukan apapun. Dalam beberapa kesempatan, saya memilih tidak bermalam di rumah. Saya menginap di rumah teman, juga menyanggupi permintaan teman saya yang lain untuk menemaninya sowan ke tempat simbahnya di Wonosari pada suatu petang, semata-mata agar saya tidak sendirian di rumah.

Selera makan saya sempat hilang. Saya menunda-nunda menanak nasi dan terlalu malas cari makan di luar sampai lambung saya perih. Tindakan yang bodoh, kan? Ya, saya melakukan hal yang bodoh, menyakiti diri sendiri. Sampai suatu hari saya bangun, menatap plafon kamar yang jebol gara-gara ditubruk kucing, memandang sudut atap yang dihiasi jaring laba-laba, dan tersadar.

Saya tidak boleh terus-terusan begini.

Tante dan om saya percaya, saya bisa hidup mandiri. Teman-teman saya yakin, saya dapat menghadapi keadaan. Semangat dan dukungan tak henti-hentinya mereka salurkan kepada saya. Dan, lebih dari itu, saya sendiri harusnya punya kepercayaan, kan? Bagaimana mungkin saya mengecewakan orang-orang yang menyayangi saya, yang mendoakan saya, dan malah berhenti berjuang untuk diri saya sendiri?

Jadi, begitu. Saya ingin berpikir jernih dan menatap ke depan. Membuka segala kemungkinan untuk memperbaiki keadaan. Maka, pertama-tama, saya harus belajar menyayangi diri saya sendiri. Karena, kalau bukan saya, siapa lagi, kan?

Kamu, gitu?

WEKEKEKEKE. Sudah capek belum, nge-scroll curhatan saya? Mana bahasanya resmi banget, lagi. Sekalian latihan buat tugas review yang akan datang di semester baru nanti deh. WHAAAA.

Next program: penggendutan badan wkwk sudah muak saya kalau ketemu orang dibilang 'kurus amat sih Chaaaa.' Ya gimana orang makan aja susah-_-

But after all, we really have to love ourselves!

Posted in , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.