Pages - Menu

Tuesday, August 29, 2017

Kalau pun ada kuncup yang tak mekar

[ Sebuah posting sudah lama yang mengendap sebagai draft. Sudah saatnya menjadikan postingan ini terbaca. Didorong oleh kecintaan terhadap puisi yang semalam diketuk kembali oleh Sanggar Lincak, hehe. ]

So... here it goes. Draft postingan sejak bulan April:

gambar dari sini

Saya baru nemu puisi bagus. Diposting di laman kibul.in. Puisi karya Sukandar.
Kalau pun ada kuncup yang tak mekar
: murniwangi

Kalau pun ada kuncup yang tak mekar, itu sebab luka cuaca,
gegar musim duhai jelita. Kelak ia akan bergegas datang lagi
tanpa gusar mengantar ruh-ruh yang tanggal karenanya

Ingatlah jelita, tak ada rindu yang terlantar, ia pun serupa
kuncup bunga yang akan senatiasa dikecup musim, menjadi
yang semestinya


Yk, 2007

Beeeeeh. Merinding nggak? Saya merinding. Semoga rindu saya lekas punya alamat tujuan. Kan, dia bilang, 'ingatlah jelita, tak ada rindu yang terlantar'. Hmmm. Wkwk.

Masih banyak puisi lain dari Pak Sukandar di laman itu. Ada yang ditujukan untuk istri, kisah perjuangan seorang ibu, ada pula yang memasukkan unsur cerita wayang. Berdasarkan catatan redaksi yang menyertai postingan itu, puisi-puisi Pak Sukandar memang bercerita tentang hidup dan perjuangan menjalaninya. Langsung saja menuju kibul.in kalau ingin baca lebih banyak, ya.

Anyway, kibul.in itu laman apa, sih? Dengan tagline 'bicara sastra dan sekitarnya', situs ini menyediakan ruang untuk menyuarakan karya-karya yang unik, kerap dikesampingkan, tetapi punya nilai penting dalam kehidupan. Karya-karya tersebut dapat berupa puisi, cerpen, opini, esai, maupun resensi. Keterangan ini saya teruskan dari tab 'Tentang' di kibul.in sendiri hehehe. Nah, yang saya tahu, kreator situs kibul.in adalah beberapa alumni Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Kesimpulannya? Saya kepingin upgrade bahan bacaan. Di satu sisi biar nggak melulu tercekoki fiksi romance, di sisi lain juga karena ingin cari bacaan yang nggak seberat materi antropologi. Kalau punya rekomendasi bacaan, cetak maupun maya, share ke saya boleh dong yaaa!

Friday, August 25, 2017

Menuju 20 tahun

"Tahun ini rasanya berjalan cepat banget deh. Kalian merasa gitu juga nggak?”

Itu kata-kata Mbak Atha siang tadi. Kemudian, tambahnya, "mungkin karena aku lumayan menikmati apa-apa yang terjadi tahun ini. Nggak kayak tahun kemarin, buatku rasanya ambyar.”

Hmmm gitukah mbak? Asumsinya boleh jugaa~

Tahun 2016-ku juga ambyar. Dan aku setuju, tahun ini berderap begitu gegas. Pertengahan tahun telah terlampaui. Bahkan tiba-tiba Agustus nyaris menyentuh akhir! Bulan depan, bulan lahirku, genap dua puluh tahun aku hidup sebagai insan bernyawa.

Dua puluh, tjoy! Bukan maeeeen. Sekilas mungkin biasa saja. Tetapi semakin ditandai dalam kepala, semakin menurutku 20 bukan sekadar angka. Usiaku semakin matang. Harusnya aku kian menyongsong kedewasaan. Lebih bijak menggunakan logika, mengolah rasa, bertindak untuk menyikapi dunia. Harus pula mau menyisihkan ruang di kepala untuk memikirkan masa yang akan datang--dan bukannya kelewat asyik dengan keinginan bersenang-senang. Aku harus sadar, masa-yang-akan-datang itu, betul-betul akan datang dengan segera!

Wuidih, betapa nervousnya. Kira-kira Sekar-umur-20-tahun akan jadi pribadi yang bagaimana, ya? Hmmm. Barangkali soal kepribadian nggak akan banyak berubah. Lagipula pada dasarnya aku bukan seorang yang menyukai perubahan drastis. Satu hal yang dapat aku pastikan, aku ingin terus belajar menjadi lebih baik. Ya, Sekar, ya? *sambil menatap wajah yang dipantulkan cermin*


Orang-orang (atau seseorang) dengan karisma

Di dunia ini, ada orang-orang yang punya daya tarik begitu kuat di dalam dirinya, ya. Semacam inner charisma, begitu. Barangkali sesuatu yang merupakan bawaan lahir. Siapa saja yang berada di dekatnya, dengan mudah menyaksikan aura baik terpancar darinya. Hanya dengan melihat sosoknya, atau mendengar ia berbicara, orang-orang langsung mendapat kesan baik tentangnya.

Mungkin, aku sedang membicarakan murid terpintar di sekolahku,

atau anak dengan keahliannya di cabang olahraga tertentu,

personel band yang punya banyak penggemar karena selalu tampil memukau,

tokoh religius yang ramah, rendah hati, sejuk sekali memandang wajahnya terbasuh wudhu (setdah wkwk),

aktivis kampus yang pandai bergaul, membius audiens dengan kemampuan bicara di depan umum,

seniman yang menyampaikan isi kepalanya lewat karya, bisa juga

sastrawan yang mengisahkan isi hatinya lewat kata.

Atau,

mungkin,

aku sedang mencoba membuat deskripsi atas kamu. Seseorang yang dengan mudah memiliki pengagum, mulai dari yang terang-terangan menyanjung, sampai yang diam-diam memendam--seperti aku.

Wahaha?

he shines so bright, aku sampe silau | pic from here
(Betapa menggelikan saat dibaca ulang, kayak tulisan anak gadis lagi kasmaran.)

(Padahal aslinya ditulis dalam keadaan hati patah berdarah-darah. Hahaha lebay ah.)

Wednesday, August 16, 2017

Nggak apa-apa ya Za aku publish ini?

tertanggal 15-08-2017
Terima kasih ya Riza, pengirim chat di atas. Kekuatan dua baris kalimat itu langsung terserap menjadi energiku, lho. Kamu juga hebat dan kuat, sehat-sehatlah terus ya! Nggak semua orang tahu resepnya kamu jadi sekuat itu -- kalau orang-orang tahu, mereka pasti semakin menyayangimu. Tapi memang nggak semua orang harus tahu, kan? Karena nggak semua orang ingin paham dan mengerti juga. Setidaknya, kamu punya orang-orang di belakangmu, yang menemani di masa senang dan sulit, semoga itu cukup... Kami ingin kamu percaya: dirimu berharga. Jangan pernah merasa sendiri (kalimat yang aku yakin, juga berlaku untukku hihi).

P.s. kenapa di Jamburejo kemarin kita nggak foto berdua ya :(

Yours,

Friday, August 11, 2017

24 jam pelarian

Langit bertabur bintang dan aku menebak apakah benar ada rasi tergambar di sana / tapi kemudian kawanan awan datang / sejenak bulan tinggi memancarkan pesona mistisnya / sampai di pasir terbentuk bayang-bayang / meski lantas jadi samar oleh awan.

Kami dikepung punggung bukit kelabu kelam dan aku menebak apakah benar ada cabang-cabang pohon menggurat siluet di sana / setelah itu debur ombak pecah di karang dan kantukku datang / aku menggulung diri seperti kepompong mendengarkan bincang-bincang mereka yang terjaga di sekitar unggun / antara bara dan padam.

Kemudian kegelapan digusur pagi / laut, langit, dan bukit tertangkap indera sehingga aku tak perlu menebak-nebak warnanya lagi / garis batas berbuih putih minta dijemput dengan jemari kaki / bisa kulihat jelas wajah-wajah yang menemani pelarian ini.

Seringnya / lebih menyenangkan pergi bersama orang-orang yang baru sekali kautemui.

Tak ada bekas prasangka tertinggal dari waktu lampau / tak ada pengetahuan tentang siapa orang di hadapan ini / maka aku harus menebak-nebak sendiri.







Thanks for the moment, fellas. Pantai Sedahan, 8-9 Agustus 2017.
Pertanyaannya, kenapa aku suka menebak-nebak?

Haha. Entah. Menebak-nebak membuatku punya sesuatu untuk dilakukan. #lha

Kepenginnya ke Parangtritis, kelakon-nya kemping satu malam di pantai pucuk yang aksesnya masih lewat ladang warga.

Alhamdulillaah. :)



Monday, August 7, 2017

Kepengin #1

Ingin ke Parangtritis pagi-pagi menggigil atau sore kemerahan, kapan keturutan? Dan, siapa mau jadi teman?
kalau ini pagi kebiruan. foto dari instagram @rizanurlailla.
Permasalahan 'sama siapa' itu lho, kadang tak terhindarkan.

Thursday, August 3, 2017

Ngolong Tangga

Selalu menyenangkan menghabiskan waktu dengan teman-teman relawan Kolong Tangga.

Lupa cek ponsel, lupa bersedih, lupa ngerjain paper #eh, ingatnya cuma cerita-cerita yang bikin ketawa.

Apapun kegiatannya, mulai dari training workshop, 'disidang' Pak Rudi sang kurator sambil duduk melingkar untuk 'dijejali' wejangan darinya (baca: pengarahan), meeting bulanan, sampai dodolan demi ngumpulin dana dijalani dengan sukacita.

Perburuan warung makan yang masih buka di jam-jam menuju tengah malam pun jadi kebiasaan usai berkegiatan. Barangkali, kelak kami jadi orangtua yang mewanti-wanti anak agar tak pulang larut malam—atau mungkin juga tidak. Tetapi kini, selagi muda, izinkan kami pulang diantar pendar rembulan, setelah obrolan panjang, tukar pikiran, dan ragam bahasan yang kami sebut: proses pembelajaran.

Ah, ya. Mungkin karena aku paling muda di sana, aku banyak belajar dari mbak dan mas yang lebih berpengalaman dalam banyak hal. Rasanya aman. Diayomi, didengarkan, dan banyak menerima masukan.

Terima kasih, Kolong Tangga.

Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk berproses bersama. Aku senang jadi relawan Kolong Tangga. Jangan terus-terusan tanya hal yang sama (dear Pak Rudi, yang sering tanyai relawan, 'kamu senang dengan itu, eh?') —SUNGGUH aku akan tetap mengulang jawabnya: aku SENANGGGG jadi relawan Kolong Tangga!



P.s. hei, aku pakai kata ganti 'aku' dan bukan 'saya'! Ini hanya terjadi di postingan yang sangat personal saja! (wkwkwk nggak juga, sebenarnya sih suka-suka. :p)

Tuesday, August 1, 2017

Fiksi lagi?

Kepingin menulis fiksi lagi. Beberapa waktu lalu, saya membaca ulang serial Rendrana (di tag #renseries -- baru ada 4 potong cerita!) dan berpikir, haaah teganya saya membiarkan kisah mereka menggantung begitu saja. Tapi untuk melanjutkan pun tak punya ide, dulu kan waktu ngarang itu memang plot-less :( sama sekali nggak ada arah mau di bawa ke mana kisah Rendra dan Rana. Jadi, apa sebaiknya saya nulis kisah lain saja ya? Persahabatan yang lain. Jatuh cinta dan patah hati yang lain. Harapan, perjuangan, kehangatan keluarga, ketakutan, cemas kehilangan--yang lain. Bagaimana menurutmu?