Archive for August 2017

Nggak apa-apa ya Za aku publish ini?

tertanggal 15-08-2017
Terima kasih ya Riza, pengirim chat di atas. Kekuatan dua baris kalimat itu langsung terserap menjadi energiku, lho. Kamu juga hebat dan kuat, sehat-sehatlah terus ya! Nggak semua orang tahu resepnya kamu jadi sekuat itu -- kalau orang-orang tahu, mereka pasti semakin menyayangimu. Tapi memang nggak semua orang harus tahu, kan? Karena nggak semua orang ingin paham dan mengerti juga. Setidaknya, kamu punya orang-orang di belakangmu, yang menemani di masa senang dan sulit, semoga itu cukup... Kami ingin kamu percaya: dirimu berharga. Jangan pernah merasa sendiri (kalimat yang aku yakin, juga berlaku untukku hihi).

P.s. kenapa di Jamburejo kemarin kita nggak foto berdua ya :(

Yours,

Posted in , , , , , | Leave a comment

24 jam pelarian

Langit bertabur bintang dan aku menebak apakah benar ada rasi tergambar di sana / tapi kemudian kawanan awan datang / sejenak bulan tinggi memancarkan pesona mistisnya / sampai di pasir terbentuk bayang-bayang / meski lantas jadi samar oleh awan.

Kami dikepung punggung bukit kelabu kelam dan aku menebak apakah benar ada cabang-cabang pohon menggurat siluet di sana / setelah itu debur ombak pecah di karang dan kantukku datang / aku menggulung diri seperti kepompong mendengarkan bincang-bincang mereka yang terjaga di sekitar unggun / antara bara dan padam.

Kemudian kegelapan digusur pagi / laut, langit, dan bukit tertangkap indera sehingga aku tak perlu menebak-nebak warnanya lagi / garis batas berbuih putih minta dijemput dengan jemari kaki / bisa kulihat jelas wajah-wajah yang menemani pelarian ini.

Seringnya / lebih menyenangkan pergi bersama orang-orang yang baru sekali kautemui.

Tak ada bekas prasangka tertinggal dari waktu lampau / tak ada pengetahuan tentang siapa orang di hadapan ini / maka aku harus menebak-nebak sendiri.







Thanks for the moment, fellas. Pantai Sedahan, 8-9 Agustus 2017.
Pertanyaannya, kenapa aku suka menebak-nebak?

Haha. Entah. Menebak-nebak membuatku punya sesuatu untuk dilakukan. #lha

Kepenginnya ke Parangtritis, kelakon-nya kemping satu malam di pantai pucuk yang aksesnya masih lewat ladang warga.

Alhamdulillaah. :)



Posted in , , , , , | Leave a comment

Kepengin #1

Ingin ke Parangtritis pagi-pagi menggigil atau sore kemerahan, kapan keturutan? Dan, siapa mau jadi teman?

kalau ini pagi kebiruan. foto dari instagram @rizanurlailla.
Permasalahan 'sama siapa' itu lho, kadang tak terhindarkan.

Posted in , | 2 Comments

Ngolong Tangga

Selalu menyenangkan menghabiskan waktu dengan teman-teman relawan Kolong Tangga.

Lupa cek ponsel, lupa bersedih, lupa ngerjain paper #eh, ingatnya cuma cerita-cerita yang bikin ketawa.

Apapun kegiatannya, mulai dari training workshop, 'disidang' Pak Rudi sang kurator sambil duduk melingkar untuk 'dijejali' wejangan darinya (baca: pengarahan), meeting bulanan, sampai dodolan demi ngumpulin dana dijalani dengan sukacita.

Perburuan warung makan yang masih buka di jam-jam menuju tengah malam pun jadi kebiasaan usai berkegiatan. Barangkali, kelak kami jadi orangtua yang mewanti-wanti anak agar tak pulang larut malam—atau mungkin juga tidak. Tetapi kini, selagi muda, izinkan kami pulang diantar pendar rembulan, setelah obrolan panjang, tukar pikiran, dan ragam bahasan yang kami sebut: proses pembelajaran.

Ah, ya. Mungkin karena aku paling muda di sana, aku banyak belajar dari mbak dan mas yang lebih berpengalaman dalam banyak hal. Rasanya aman. Diayomi, didengarkan, dan banyak menerima masukan.

Terima kasih, Kolong Tangga.

Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk berproses bersama. Aku senang jadi relawan Kolong Tangga. Jangan terus-terusan tanya hal yang sama (dear Pak Rudi, yang sering tanyai relawan, 'kamu senang dengan itu, eh?') —SUNGGUH aku akan tetap mengulang jawabnya: aku SENANGGGG jadi relawan Kolong Tangga!



P.s. hei, aku pakai kata ganti 'aku' dan bukan 'saya'! Ini hanya terjadi di postingan yang sangat personal saja! (wkwkwk nggak juga, sebenarnya sih suka-suka. :p)

Posted in , , , , | 2 Comments

Fiksi lagi?

Kepingin menulis fiksi lagi. Beberapa waktu lalu, saya membaca ulang serial Rendrana (di tag #renseries -- baru ada 4 potong cerita!) dan berpikir, haaah teganya saya membiarkan kisah mereka menggantung begitu saja. Tapi untuk melanjutkan pun tak punya ide, dulu kan waktu ngarang itu memang plot-less :( sama sekali nggak ada arah mau di bawa ke mana kisah Rendra dan Rana. Jadi, apa sebaiknya saya nulis kisah lain saja ya? Persahabatan yang lain. Jatuh cinta dan patah hati yang lain. Harapan, perjuangan, kehangatan keluarga, ketakutan, cemas kehilangan--yang lain. Bagaimana menurutmu?

Posted in , , , , | 2 Comments

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.