24 jam pelarian

Langit bertabur bintang dan aku menebak apakah benar ada rasi tergambar di sana / tapi kemudian kawanan awan datang / sejenak bulan tinggi memancarkan pesona mistisnya / sampai di pasir terbentuk bayang-bayang / meski lantas jadi samar oleh awan.

Kami dikepung punggung bukit kelabu kelam dan aku menebak apakah benar ada cabang-cabang pohon menggurat siluet di sana / setelah itu debur ombak pecah di karang dan kantukku datang / aku menggulung diri seperti kepompong mendengarkan bincang-bincang mereka yang terjaga di sekitar unggun / antara bara dan padam.

Kemudian kegelapan digusur pagi / laut, langit, dan bukit tertangkap indera sehingga aku tak perlu menebak-nebak warnanya lagi / garis batas berbuih putih minta dijemput dengan jemari kaki / bisa kulihat jelas wajah-wajah yang menemani pelarian ini.

Seringnya / lebih menyenangkan pergi bersama orang-orang yang baru sekali kautemui.

Tak ada bekas prasangka tertinggal dari waktu lampau / tak ada pengetahuan tentang siapa orang di hadapan ini / maka aku harus menebak-nebak sendiri.







Thanks for the moment, fellas. Pantai Sedahan, 8-9 Agustus 2017.
Pertanyaannya, kenapa aku suka menebak-nebak?

Haha. Entah. Menebak-nebak membuatku punya sesuatu untuk dilakukan. #lha

Kepenginnya ke Parangtritis, kelakon-nya kemping satu malam di pantai pucuk yang aksesnya masih lewat ladang warga.

Alhamdulillaah. :)



Posted in , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Search

anaphalise - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.